Dia yang Benama Zaky

Bismillah..

Wah, kesibukan di lab sempet bikin Karafuru San ga nulis di blog…

Beruntung, barusan, pas mau berangkat ke mesjid, di luar pintu kosan, dari kosan sebelah, terdengar suara, “Aa Raf..” dan ternyata itu Zaky, anak berusia 6 tahun yang punya kosan sebelah.

Tadi, Karafuru San ga berangkat sendiri, ada Ka Ardi, penghuni kosan yang ditinggali Zaky. Tadi mampir ke kosan Karafuru San buat mengunjungi kosan lamanya. Yup, taun lalu dia kosan di sini, tapi karena butuh yang sistem bayarnya perbulan, dia pindah.

Nah, singkat cerita, kamipun ke mesjid. Tak dinyana, suara yang sama terdengar ketika hendak memulai shalat isya. Rupanya Zaky ngikutin! Wow.. itulah untuk yang pertama kalinya Karafuru San ngeliat dia di Mesjid Al-Bayyinah, mesjid deket kosan.

Zaky shalatnya berselang 3 orang dengan Karafuru San, tapi gerak geriknya yang slalu ‘ngintip’ gerakan Karafuru San hampir bikin ga fokus! Masya Allah.. Setelah shalat, dia ngehampirin, dan setelah ditanya, ternyata dia berangkat sendiri ke mesjid! Kenapa? “pengen ikut a araf ke mesjid..”

Wow..

Karafuru San berkata dalam hati, “Siapa saya?”

Kami baru pertama kenal kira2 sebulan yang lalu, waktu Karafuru San main ke rumahnya buat ngebenerin komputer Remon, salah satu penghuni kos yang juga pernah sekosan dengan Karafuru San. (Haha, ini untuk yang ketiga kalinya ngoprek komputer/laptop orang lain. merasa berguna, keilmuan elektro yang dimiliki) Di sana, Karafuru San, sempet terpukau sama Zaky, soalnya waktu Remon nyebut kata-kata yang ga seharusnya terucap, anak bermata agak sipit itu bilang, “kata mamah ga boleh, bahasanya kotor, ih.”

Ternyata setelah ditanya2, Zaky itu saat ini lagi bersekolah di sekolah islam. Dengan kedua orangtuanya yang juga lumayan terhadap agama. Satu minusnya, hanya kakeknya yang sering ke mesjid, ayahnya belum.. Makanya, Zaky pun belum dilatih ke mesjid..

Pengalaman Zaky shalat di mesjid itu bikin Karafuru San lebih bersemangat! Ada hikmahnya.. Kalo Zaky bisa gerak ke mesjid cuma gara2 ga sengaja ngeliat Karafuru San ke mesjid? gimana dengan temen2 yang lain?

So, ini saatnya buat lebih banyak ngasih contoh yang baik buat lingkungan sekitar… Yuk!!! ^_^

Smoga punya anak yang lebih lucu dari dia… ini fotonya:

Keajaiban, Bencana, dan Air Mata

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Tadi malam, sesaat sebelum Adzan Isya, peluit wasit Jimmy Napitupulu memulai pertandingan sepakbola Indonesia Super League antara Persib vs Persela. Dari situlah, keajaiban, bencana, dan air mata muncul secara bergantian dalam balutan kata demi kata dari catatan sang petualang, Karafuru San…

Keajaiban

Sensasional!!! Baru pertama kalinya dalam sejarah persepakbolaan dunia (katanya) baru empat menit babak pertama berjalan, sudah tercipta EMPAT GOL!! Walaupun nggak gila-gila amat sama sepakbola (dan sedang berusaha untuk menghilang dari dunia itu), empat gol yang tercipta membuat terbengang-bengong. Demi mencegah mulut yang terbuka karena takjub, TV langsung dimatikan karena adzan Isya telah berakhir…

Bencana

Matinya TV itu adalah pertanda dimulainya bencana yang menghadang. Karena tiba di Mesjid tepat saat iqamah, hapuslah kesempatan untuk mendapat tempat di shaf pertama. Alhamdulillah walaupun shaf kedua sudah terisi, ternyata masih ada tempat kosong (biasanya memang sering kosong) di shaf pertama, tapi ukurannya hanya duapertiga dari ukuran tempat shalat yang biasanya. Karena teringat dengan lebih besarnya pahala yang didapat jika shalat di shaf pertama, akhirnya shalat di situ.

Bencana itu dimulai saat hati tak sesuai dengan lisan. Dalam desah nafas penghambaan itu, pikiran malah melayang ke sebuah pertanyaan yang sama sekali tak berdasar, “Kira-kira, ada berapa gol lagi, ya?”

Segera setelah itu, seolah sebagai jawaban atas kepincangan hati, seorang anak perempuan tiba tiba muncul dari belakang dan diam di tempat sujudku dalam beberapa saat sebelum kembali…

Pertanyaan dalam hati berubah setelah takut pahala shalat akan menjadi setengahnya, “Kenapa hal ini terjadi?”

Air Mata

Dalam pusaran pertanyaan, masih tersadar dalam mata akan rakaat terakhir yang telah dimulai. Dalam dekapan tangan di dada itu, terdengar suara isak. Rupanya orang yang tepat berada di sampingku menangis dalam shalatnya. Aku terenyuk, remuk. Entah sudah berapa lama mata ini kering dari penghambaan…

Saat salam berakhir, aku tersadar, entah berapa lama aku beribadah dalam kata, tanpa hati…

Penglihatanku mulai kabur, tergugah akan begitu banyaknya ibadah yang hampa, tanpa makna. Ayat-ayat seakan hanya adat yang terucap, bukan doa. Dengan tunduk yang dalam, kaburnya penglihatan ini seolah berkata, Alhamdulillah, Ya Rabb… Kesempatan ini masih Engkau berikan untukku… Dalam remuknya batinku, aku masih bisa merasakan udara kehidupan dari-Mu…

Semoga kita bisa lebih mendekatkan diri lagi pada Dzat Yang Maha Pencipta yang telah menciptakan kita dalam kejaiban dunia yang jauh lebih kecil daripada keajaiban-keajaiban di akhirat nanti. Semoga tak ada bencana yang membinasakan kita, melainkan air mata penyesalan dan air mata syukur dari dalam sanubari…

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.