Can I Catch It?

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

 

Can I Catch It?

I walk around under the sun
Hear the hummingbird with it’s sound
Again…
I stop and start to seek the light
But it’s just the sun’s
Too hot, too shine…
I can’t see it, I can’t reach it…
All I can feel is just a sun shine so bad
I just wanna seek the light…
Nothing, nothing but the light…
Can I Catch it?

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

Pejuang yang Teradang Kuda dan Pedang

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Terbangun oleh bau alam dalam dipan, mencoba bangkit lalu duduk. Seseorang, yang sebut namanya sebagai pejuang, menatap asa yang jauh di hadapannya. Tak sedikitpun terngiang bisikan-bisikan hujan yang baru turun di atas pematang atau desiran angin yang melambaikan rayuan. Dendamnya yang penuh kemuakan mematri dalam luka-luka di sekujur tubuhnya.

Ia mulai melangkah menuju kotak kayu. Tempat pedangnya tersimpan, tempat derajatnya dijunjung. Dibukanya kotak kayu itu, lalu diambilnya sahabat yang tak berkerabat.

Pedang itu membisu, tahu untuk apa ia di situ. Tahu seperti apa ia di situ. Warna buram dan kusam membuatnya tak enak dipandang. Hanya bau darah yang membuatnya jantan sebagai pengecualian. Di sana-sini sedikit terlapisi korosi, namun masih bisa menebas lepas kepala-kepala targetnya. Ia rela ditempa demi kata victory.

Srek. Srek. Srek. Alunan pejuang menghamba sebuah ketajaman. Iramanya membelakangi gubuk reyot miliknya yang hampir rubuh. Gubuk reyot itu membelakangi padang rumput dan pematang. Padang rumput dan pematang itu membelakangi gunung yang menjulang. Gunung itu membelakangi bumi. Bumi itu membelakangi sang pejuang, yang mengalun menghamba sebuah ketajaman.

Ia bergerak maju sesaat setelah yakin dengan pedangnya. Dihirupnya udara penuh uap embun, dengan mata terpejam. Diingat kembali tujuan yang akan ia inginkan. Hanya satu, membangunkan kembali sang naga nun jauh di ujung sana, yang masih tertidur pulas selama lima belas abad.

Dalam lima langkah, seseorang dengan pedang bertahtakan darah yang amat menyengat muncul. Ia ingin kembali menantang sang pejuang. Tak seperti biasa, kali ini ia hanya menuntun, bukan menaiki kuda putihnya. Pakaian zirahnya yang keemasan tampak bercahaya menggambarkan kebesaran. Tamengnya berhiaskan gerigi-gerigi, siap tuk melukai siapapun yang menyentuhnya.

Sementara sang pejuang hanya menatap tajam. Tak mungkin ia membanggakan baju rombengnya, melainkan hanya dengan sebuah pedang. Ia menghela nafas setelah menatap mata lawannya dan berharap dalam hati, Semoga kali ini aku bisa melewatinya…

Hanya dalam hitungan detik, sang lawan berlari ke arah sang pejuang dengan mengacungkan pedang!! Dengan sedikit elakan, serangan itu menjadi kesiaan. Belum jua mempersiapkan serangan balasan, muka sang pejuang terhantam tameng sang lawan!!! Saat itu ia melihat lawannya tersenyum mengejek. Darah mulai menetes dari dahi, namun semangat masih menyala dalam dada. Ia mengatur nafasnya, lalu mencoba menyerang. Hentakan pedang yang beradu dengan pedang, tarian pedang yang berduet dengan tameng, dan irama darah yang menetes mewarnai pertarungan itu!

Saat pertarungan mencapai puncaknya, pedang sang pejuang berhasil menjauhkan tameng sang lawan!!! Namun kekuatan lawannya tak berkurang sedikitpun. Malah beberapa kali kembali melukai sang pejuang.

Dengan semangat yang semakin terkikis, akhirnya sang pejuang berhasil menjadikan lawannya tanpa senjata! Namun saat hendak melumpuhkan, ringkikan kuda putih membuat langkahnya terhenti… Kembali terbayang di pikirannya akan seekor kuda yang selama ini ia dambakan. Dalam perjalanan jauh yang akan kuhadapi ini, aku membutuhkan kuda itu… Aku tak ingin membuang waktuku berjalan sendiri untuk membebaskan sang naga…

Pandangannya teralihkan menatap kuda putih milik lawannya. Kuda putih itu amat memesona dengan bulu putihnya, jumawa dengan posisi berdirinya, dan gagah dengan ringkikan merdunya. Dalam balutan harapan kosong, sang pejuang dimabukkan. Dan seketika, sebuah kepalan berhasil melunakkan cengkeraman tangan sang pejuang hingga terlepas pedangnya dan berpindah ke lawannya!!! Dengan tersenyum puas, sang lawan tanpa ragu lagi menyatukan pedang itu dengan perut tuannya hingga tersungkur. Dan pedang itu kembali berhiaskan darah yang sama seperti sebelum-sebelumnya, darah sang pejuang…

Di tengah tawa lawannya, sang pejuang menatap awan yang saling berkejaran. Dengan rasa sakit ia berkata dalam hatinya, Lagi-lagi… Lagi-lagi aku gagal melewatinya akibat kuda itu… Sudah berulangkali aku sadar akan bahayanya, tapi berkali-kali pula aku terbuai dengannya…

Nafasnya sudah tak teratur saat ia seolah melihat Tuannya dalam bayangnya… Maafkan aku, Tuan… Aku belum bisa membangunkan nagamu… Sepertinya aku bukan pejuang terbaikmu… Maaf…

Matanya hampir tertutup saat terbayang di alam bawah sadarnya, esok hari sahabatnya, sang pedang, akan berada dalam kotak kayu. Sementara ia akan terbangun oleh bau alam dalam dipan, kembali memulai dari gubuk reyotnya. Ia akan kembali menghamba ketajaman sang pedang, berusaha membangunkan naga untuk menyenangkan Tuannya. Semua itu kembali bermula… dari tempat pemberangkatan yang tak berbeda…

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

Lihat Lebih Dekat (2)

(sambungan dari Lihat Lebih Dekat (1))

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Saatnya bait kedua…

Bila kau dapat mengerti

Sahabat adalah setia dalam suka dan duka

Kau kan dapat berbagi rasa untuknya…

Begitulah seharusnya jalani kehidupan

Setia… Setia… Dan tanpa terpaksa

Manusia adalah makhluk sosial yang nggak bisa hidup kalau kesendirian. Belum setuju? Coba lihat benda-benda yang ada di sekitar kita. Apa semua benda itu bikinan kita sendiri? Sebuah meja yang ada di kamar mungkin terlihat gampang dibuat sendiri. Tantangannya cuma mau atau nggaknya kita menggergaji sebuah pohon, mengolahnya menjadi gelondongan kayu, lalu memotongnya menjadi bagian-bagian yang siap dijadikan meja. Ingat, lho! Semua itu belum selesai, kita masih harus bikin sebuah mur dan baut, lem, olahan cat, dll. Butuh contoh lagi? Hm… Satu lagi, aja, ya. Pernah nggak, kita berpikir gimana caranya bikin nasi goreng? Kayaknya simple, ya? Padahal untuk bisa membuat nasi saja butuh kerja yang luar biasa (mulai dari pengolahan tanah, penanaman bibit padi, pemupukan, hingga proses panen), apalagi untuk menghasilkan kecap, kerupuk, ayam, bawang, dan tetek bengek lainnya sebelum diolah. Bisa saja bikin semua itu sendirian. Tapi pertanyaannya… Mau?

Beruntunglah karena di dunia ini masih ada para ahli pembuat kayu olahan, pembuat mur, pembuat cat, petani, peternak, dan sebagainya.

Ada satu alasan penting lainnya kenapa kita dikatakan sebagai makhluk sosial : komunikasi. Kita lahir ke dunia ini dengan berbagai macam emosi. Pada dasarnya kita mengharapkan asa, merasakan bahagia, bahkan membutuhkan cinta. Perasaan-perasaan tersebut nggak mungkin dirasakan atau ditunjukkan tanpa adanya satu komunikasi. Sementara itu, komunikasi nggak mungkin terjadi dalam satu individu (kecuali kalau ngomong sendiri). So, kita membutuhkan minimal satu orang lagi untuk dapat berbagi dan saling mengerti, karena kita adalah makhluk sosial.

Kadang nggak semua yang kita rasakan mau kita bagikan pada orang lain. Saat itulah kita butuh seorang (atau lebih, tergantung kondisi) yang benar-benar nyaman. Orang ini yang biasa kita namakan sahabat.

Sahabat terbagi menjadi beberapa:

a. Sahabat biasa/teman

Sahabat biasa adalah sahabat yang baru bisa memahami apa yang kita rasakan. Biasanya dia masih cenderung enggan berbagi atau menceritakan dirinya. Sedangkan saat sahabatnya ingin menceritakan sebuah rahasia padanya, kadang sahabat tipe ini (pada kasus tertentu) susah untuk merahasiakan hal itu.

b. Sahabat dekat

Tipe sahabat dekat adalah sahabat yang sudah mau menceritakan sebagian kisah hidupnya. Bahkan beberapa jenis sahabat tipe ini biasanya sudah memiliki rasa sayang terhadap sahabatnya. Jadi, kalau ada rahasia yang ingin disimpan, minimal sahabat tipe ini cocok buat diajak curhat.

c. Sahabat spesial

Sahabat tipe ini adalah sahabat yang bisa mencintai juga mau dan mampu untuk melindungi saat sahabatnya berada dalam posisi yang kurang mengenakkan. Saat sahabatnya membutuhkan bantuannya, biasanya seorang sahabat spesial berusaha untuk memberikan bantuannya jika ia memang bisa membantu.

d. Sahabat setia/sahabat sejati/sahabat terbaik

Inilah tingkatan seorang sahabat yang paling tinggi. Saat kita mau bercerita tentang sebuah rahasia yang super rahasia, seorang sahabat setia akan merahasiakannya. Seorang yang bertipe ini nggak mau mengecewakan sahabatnya. Ia berusaha untuk memberikan bantuannya walaupun dalam keadaan yang hampir tak mungkin. Ssst… dalam beberapa kasus, tipe sahabat setia justru lebih mengenal diri sahabatnya dibanding si sahabatnya itu sendiri , lho!

Ada sebuah kalimat yang bisa membuat kita bertanya, “Sebetulnya siapa, sih, sahabat-sahabat kita saat ini?”. Kalimat itu berbunyi, Saat ingin mengetahui seseorang, lihatlah bagaimana sahabat-sahabatnya.

Ya, Sahabat terbaik (seperti dalam lirik Lihat Lebih Dekat) adalah sahabat yang mampu setia dalam suka dan duka. Dalam kehidupan ini, kita sebetulnya dituntut untuk punya minimal seorang sabahat terbaik (sahabat setia). Saat kita nggak mampu mengenal siapa diri kita sebenarnya, seorang sahabat setia kan membantu untuk itu. Dia akan mengingatkan saat kita nggak berada pada jalur yang benar, juga mendengar dan memberi saran terbaik saat kita lagi menghadapi masalah.

Hanya ada satu cara untuk mendapatkan sahabat setia. Kitalah yang harus memulainya untuk menjadi sahabat setia bagi sahabat-sahabat kita saat ini. Saat kita menjadi sahabat setia bagi mereka, saat itulah mereka akan berkata dalam hatinya bahwa kita adalah sahabat terbaiknya.

Semoga kita dikaruniai sahabat-sahabat setia yang mau dan mampu mengingatkan kita dalam kebenaran dan kesabaran mengarungi kehidupan dunia ini… Dengan setia… dan tanpa terpaksa…

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

(bersambung ke Lihat Lebih Dekat (III))

Lihat Lebih Dekat (1)

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Sherina MunafTepat di bulan ini delapan tahun yang lalu (kalau nggak salah) film Petualangan Sherina muncul, mem-booming, dan menjadi awal dari kebangkitan perfilman Indonesia. Salah satu Original Sountrack (OST)-nya adalah Lihat Lebih Dekat, sebuah lirik lagu yang sangat menginspirasi untuk lebih peka terhadap apa yang ada di sekitar kita. Walaupun lagu ini umurnya udah cukup tua (diciptakan oleh Elfa Secoria, muncul dan dipopulerkan oleh Sherina), tapi inspirasinya bisa dirasakan hingga sekarang, bahkan selamanya…

Terlepas dari ‘visi’ lagu ini yang sebenarnya, ada baiknya kalau kita mencoba mendalami arti atau makna liriknya bait demi bait versi Karafuru San

 

Bila kita dapat memahami

Matahari menemani kita dalam kehangatan

Hingga sang rembulan bersenandung

Meninabobokan seisi dunia dalam lelap,

Setia…. Tanpa terpaksa

 

Lirik awal pada bait pertama mengingatkan tentang makna mengapa matahari diciptakan. Matahari (selain air) diciptakan dengan tujuan utama memberikan kehidupan di muka bumi. Dengan jarak bumi-matahari yang ideal, manusia bisa merasakan kehangatannya dengan panas hanya 1/30 kali panas yang sebenarnya. Panas dengan suhu tersebut adalah panas ideal/optimum bagi tumbuhan untuk melakukan aktifitas fotosintesis. Tumbuhan yang berfotosintesis memanfaatkan energi matahari untuk membuat makanannya sendiri dengan prosedur yang rumit. Inilah yang membuatnya tumbuh sehingga bisa menjadi makanan bagi konsumen-konsumennya (mulai dari konsumen tingkat awal sampai konsumen tingkat akhir, termasuk kita sebagai manusia). Proses makan-memakan ini disebut rantai makanan yang sebetulnya adalah proses perpindahan energi dari energi matahari ke makhluk hidup, mulai dari makhluk hidup tingkat rendah ke makhluk hidup tingkat tinggi.

 

Hm… rumit, ya? Urusan beginian lebih ahli ditanyain ke orang biologi…

 

Bisa kita bayangkan seandainya panas matahari kurang atau lebih dari panas seperti saat ini, tumbuhan tak dapat melakukan fotosintesis. Dengan sendirinya kepunahan akan terjadi akibat tak dapat ‘membuat makanan’. Kepunahan tumbuhan sebagai produsen (ingat pelajaran biologi waktu SMP?) akan mengakibatkan kepunahan konsumennya.

 

Namun ada satu lagi yang mesti kita ingat. Jika setiap saat matahari terus menyinari bumi, maka akan tercipta suhu panas yang konstan. Suhu panas yang berlangsung terus menerus ini bisa menyebabkan perubahan ke arah negatif. Kita ambil contoh pada spesies kita saja alias manusia. Perubahan negatif akibat terkena matahari terus-menerus dapat berupa perubahan komposisi fenotif (yang tampak, contoh kecilnya : kulit kering, mata merah, dehidrasi tubuh) maupun perubahan komposisi genotif (yang tidak tampak, misalnya perubahan gen dalam DNA manusia). Pernah nonton dorama Jepang : Long Love Letter? Secara ilmiah (walaupun ada juga yang tidak masuk akal) dalam drama tersebut diceritakan mengenai sebagian manusia yang bermutasi akibat kondisi bumi beberapa puluh tahun ke dapan yang semakin panas. Itu baru contoh untuk manusia, belum yang lainnya. Bayangkan kalau di bumi ini siang terus…

 

Sejalan dengan bagian akhir bait pertama “Lihat Lebih Dekat”, Sang Maha Pencipta dengan luar biasa menciptakan sebuah kondisi penetral, yakni malam hari. Salah satu tujuan nyata terciptanya malam adalah sebagai waktu untuk beristirahat. Waktu ini bisa dimanfaatkan kita untuk melepas lelah setelah selama seharian menuntut ilmu, bekerja, atau kegiatan lainnya. Apalagi jika ‘dihadiahi’ bunga tidur yang cukup indah. Pastinya suasana malam akan terasa nyaman…

 

Tapi perlu dicatat, apakah malam hari perlu digunakan untuk istirahat terus? Sayang jika melewatkan malam hanya untuk memejamkan mata. Akan lebih indah jika sepertiga malam terakhir kita isi dengan bersyukur kepada-Nya… Pernahkah antara jam 3 sampai jam 4-an membuka jendela lalu menatap ke atas sana? Dinginnya udara malam & bintang yang bersinar (jika ada) menunggu kita untuk mengucapkan rasa syukur atas nikmat yang telah kita rasakan hingga saat ini… Jika setelah menatap indahnya langit malam kita isi dengan berucap syukur & bermunajat pada-Nya, Insya Allah itulah saat terbaik munculnya harapan doa bisa terkabul. Tapi awas, lho, jgn lupa tutup jendela! Ntar malah maling yang nongol…

 

Bulan, bintang, dan matahari (yang sebetulnya bintang juga) adalah suatu kesatuan yang saling mengisi satu sama lain. Mereka saling setia menjaga keseimbangan alam satu sama lain ini agar roda kehidupan tetap berputar. Kesetiaan mereka tanpa ada paksaan dari siapapun dan apapun. Mereka memang diciptakan untuk ‘menemani’ bumi dan segala isinya (termasuk kita) sejak pertama menatap dunia, hingga tiba masanya untuk kembali menutup mata. Dengan mengerti dan melaksanakan tugas masing-masing itulah mereka telah bersyukur kepada Sang Pencipta. Wajar jika selama ini berlum pernah ada berita matahari hampir tabrakan dengan bintang lain, matahari mogok kerja dari menyinari dunia, atau malah bulan dan matahari bertukar shift kerja. Keserasian yang saling mengisi satu sama lain itu adalah bentuk tugas mereka sebagai perwujudan rasa syukur kepada-Nya hingga ujung waktu….

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

(bersambung ke Lihat Lebih Dekat (II))

 

Lihat Lebih Dekat

(Lyric : Elfa S., Singer : Sherina)

 

Bila kita dapat memahami

Matahari menemani kita dalam kehangatan

Hingga sang rembulan bersenandung

Meninabobokan seisi dunia dalam lelap,

Setia…. Tanpa terpaksa

 

Bila kau dapat mengerti

Sahabat adalah setia dalam suka dan duka

Kau kan dapat berbagi rasa untuknya…

Begitulah seharusnya jalani kehidupan

Setia… Setia… Dan tanpa terpaksa

 

Mengapa bintang bersinar?

Mengapa air mengalir?

Mengapa dunia berputar?

Lihat s’galanya lebih dekat

Dan kau akan mengerti…

Colors of Nature

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

 

Colors of Nature

It’s brown, the one and the only one stalk I’ve found…

It’s orange, the sun I see from a rift of branch…

It’s green, when the leaves fall by the wind…

It’s yellow, when the sunflowers gather in a row…

It’s white, the pigeon who started a seed fight…

It’s gray, as a rabbit chews grass in his way…

It’s black, a little stone I wanna take…

It’s red, the roses that I wanna get…

It’s blue, as a wonderful sky like you…

 

It’s color, in a beautiful picture

A picture of hope, for human with love

It’s so deep, but we rare to thanks for it

Shall we wait… Until the eyes being dislodged?

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.