A Rough Lone Pine…

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

A Rough Lone Pine…

 

Just a rough lone pine

standing above a creepy ground

Wondering why he couldn’t stop wondering…

 

Just a rough lone pine

Hiding from the rain and storm

Asking why he couldn’t stop asking…

 

He’s just a pine

Can mad, sad, shy and cry

Though just because he can’t get in line with another pine

Cause all he sees is just higher ginkos

who cut off his view

Only wind, the one who understand him

But it’s hard, cause it’s too cold to speak…

 

Just a rough lone pine

Needs to be himself

to find a way to get all his dreams…

 

-Maribaya, 20 Juli 2008-

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

Can I Catch It?

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

 

Can I Catch It?

I walk around under the sun
Hear the hummingbird with it’s sound
Again…
I stop and start to seek the light
But it’s just the sun’s
Too hot, too shine…
I can’t see it, I can’t reach it…
All I can feel is just a sun shine so bad
I just wanna seek the light…
Nothing, nothing but the light…
Can I Catch it?

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

Lihat Lebih Dekat (1)

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Sherina MunafTepat di bulan ini delapan tahun yang lalu (kalau nggak salah) film Petualangan Sherina muncul, mem-booming, dan menjadi awal dari kebangkitan perfilman Indonesia. Salah satu Original Sountrack (OST)-nya adalah Lihat Lebih Dekat, sebuah lirik lagu yang sangat menginspirasi untuk lebih peka terhadap apa yang ada di sekitar kita. Walaupun lagu ini umurnya udah cukup tua (diciptakan oleh Elfa Secoria, muncul dan dipopulerkan oleh Sherina), tapi inspirasinya bisa dirasakan hingga sekarang, bahkan selamanya…

Terlepas dari ‘visi’ lagu ini yang sebenarnya, ada baiknya kalau kita mencoba mendalami arti atau makna liriknya bait demi bait versi Karafuru San

 

Bila kita dapat memahami

Matahari menemani kita dalam kehangatan

Hingga sang rembulan bersenandung

Meninabobokan seisi dunia dalam lelap,

Setia…. Tanpa terpaksa

 

Lirik awal pada bait pertama mengingatkan tentang makna mengapa matahari diciptakan. Matahari (selain air) diciptakan dengan tujuan utama memberikan kehidupan di muka bumi. Dengan jarak bumi-matahari yang ideal, manusia bisa merasakan kehangatannya dengan panas hanya 1/30 kali panas yang sebenarnya. Panas dengan suhu tersebut adalah panas ideal/optimum bagi tumbuhan untuk melakukan aktifitas fotosintesis. Tumbuhan yang berfotosintesis memanfaatkan energi matahari untuk membuat makanannya sendiri dengan prosedur yang rumit. Inilah yang membuatnya tumbuh sehingga bisa menjadi makanan bagi konsumen-konsumennya (mulai dari konsumen tingkat awal sampai konsumen tingkat akhir, termasuk kita sebagai manusia). Proses makan-memakan ini disebut rantai makanan yang sebetulnya adalah proses perpindahan energi dari energi matahari ke makhluk hidup, mulai dari makhluk hidup tingkat rendah ke makhluk hidup tingkat tinggi.

 

Hm… rumit, ya? Urusan beginian lebih ahli ditanyain ke orang biologi…

 

Bisa kita bayangkan seandainya panas matahari kurang atau lebih dari panas seperti saat ini, tumbuhan tak dapat melakukan fotosintesis. Dengan sendirinya kepunahan akan terjadi akibat tak dapat ‘membuat makanan’. Kepunahan tumbuhan sebagai produsen (ingat pelajaran biologi waktu SMP?) akan mengakibatkan kepunahan konsumennya.

 

Namun ada satu lagi yang mesti kita ingat. Jika setiap saat matahari terus menyinari bumi, maka akan tercipta suhu panas yang konstan. Suhu panas yang berlangsung terus menerus ini bisa menyebabkan perubahan ke arah negatif. Kita ambil contoh pada spesies kita saja alias manusia. Perubahan negatif akibat terkena matahari terus-menerus dapat berupa perubahan komposisi fenotif (yang tampak, contoh kecilnya : kulit kering, mata merah, dehidrasi tubuh) maupun perubahan komposisi genotif (yang tidak tampak, misalnya perubahan gen dalam DNA manusia). Pernah nonton dorama Jepang : Long Love Letter? Secara ilmiah (walaupun ada juga yang tidak masuk akal) dalam drama tersebut diceritakan mengenai sebagian manusia yang bermutasi akibat kondisi bumi beberapa puluh tahun ke dapan yang semakin panas. Itu baru contoh untuk manusia, belum yang lainnya. Bayangkan kalau di bumi ini siang terus…

 

Sejalan dengan bagian akhir bait pertama “Lihat Lebih Dekat”, Sang Maha Pencipta dengan luar biasa menciptakan sebuah kondisi penetral, yakni malam hari. Salah satu tujuan nyata terciptanya malam adalah sebagai waktu untuk beristirahat. Waktu ini bisa dimanfaatkan kita untuk melepas lelah setelah selama seharian menuntut ilmu, bekerja, atau kegiatan lainnya. Apalagi jika ‘dihadiahi’ bunga tidur yang cukup indah. Pastinya suasana malam akan terasa nyaman…

 

Tapi perlu dicatat, apakah malam hari perlu digunakan untuk istirahat terus? Sayang jika melewatkan malam hanya untuk memejamkan mata. Akan lebih indah jika sepertiga malam terakhir kita isi dengan bersyukur kepada-Nya… Pernahkah antara jam 3 sampai jam 4-an membuka jendela lalu menatap ke atas sana? Dinginnya udara malam & bintang yang bersinar (jika ada) menunggu kita untuk mengucapkan rasa syukur atas nikmat yang telah kita rasakan hingga saat ini… Jika setelah menatap indahnya langit malam kita isi dengan berucap syukur & bermunajat pada-Nya, Insya Allah itulah saat terbaik munculnya harapan doa bisa terkabul. Tapi awas, lho, jgn lupa tutup jendela! Ntar malah maling yang nongol…

 

Bulan, bintang, dan matahari (yang sebetulnya bintang juga) adalah suatu kesatuan yang saling mengisi satu sama lain. Mereka saling setia menjaga keseimbangan alam satu sama lain ini agar roda kehidupan tetap berputar. Kesetiaan mereka tanpa ada paksaan dari siapapun dan apapun. Mereka memang diciptakan untuk ‘menemani’ bumi dan segala isinya (termasuk kita) sejak pertama menatap dunia, hingga tiba masanya untuk kembali menutup mata. Dengan mengerti dan melaksanakan tugas masing-masing itulah mereka telah bersyukur kepada Sang Pencipta. Wajar jika selama ini berlum pernah ada berita matahari hampir tabrakan dengan bintang lain, matahari mogok kerja dari menyinari dunia, atau malah bulan dan matahari bertukar shift kerja. Keserasian yang saling mengisi satu sama lain itu adalah bentuk tugas mereka sebagai perwujudan rasa syukur kepada-Nya hingga ujung waktu….

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

(bersambung ke Lihat Lebih Dekat (II))

 

Lihat Lebih Dekat

(Lyric : Elfa S., Singer : Sherina)

 

Bila kita dapat memahami

Matahari menemani kita dalam kehangatan

Hingga sang rembulan bersenandung

Meninabobokan seisi dunia dalam lelap,

Setia…. Tanpa terpaksa

 

Bila kau dapat mengerti

Sahabat adalah setia dalam suka dan duka

Kau kan dapat berbagi rasa untuknya…

Begitulah seharusnya jalani kehidupan

Setia… Setia… Dan tanpa terpaksa

 

Mengapa bintang bersinar?

Mengapa air mengalir?

Mengapa dunia berputar?

Lihat s’galanya lebih dekat

Dan kau akan mengerti…

Kenalkan Mereka Tentang Alam

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Pulang dari kolamKemarin sore, saya dan dua sepupu yang masih kecil (yang satu kelas satu SD, kakaknya kelas dua SD) pergi ke kolam ikan yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari rumah. Mereka sangat antusias terutama saat melemparkan hu-ut (bahasa Sunda, artinya dedak untuk ikan). Saat pulang, kepuasan mereka terlihat dengan tak henti-hentinya saling melemparkan senyum dan canda. Ya, itulah pengalaman yang belum pernah mereka rasakan selama hidup dan tinggal di kota Ungaran, dekat dengan Semarang.

Pada dasarnya manusia diciptakan dari tanah, yang notabene adalah bagian dari alam. Secara alamiah, kita memiliki kecintaan pada alam. Namun kenyataannya, bukti dari rasa cinta terhadap alam itu akan muncul tergantung dari seberapa besar kita berteman dengan alam.

Masih teringat saat saya menonton sebuah dorama Jepang berjudul Long Love Letter yang menceritakan tentang kondisi bumi yang sangat mengerikan pada beberapa puluh tahun ke depan. Kondisi mengerikan yang paling terlihat (dalam dorama Long Love Letter) adalah tidak adanya air, sebagai akibat dari ulah manusia yang sejak dulu acuh tak acuh terhadap lingkungannya.

Satu hal yang pernah kita pelajari adalah adanya siklus (daur ulang air) yang tidak mungkin membuat air habis. Tapi… Jika melihat pada kenyataan saat ini, dengan luas area hutan yang makin berkurang, dengan banyaknya sampah yang tak terurus, dengan semakin banyaknya manusia yang tak peduli tentang lingkungan, apakah kita yakin bumi kita masih layak ditempati beberapa dekade ke depan?

Generasi kita dan generasi-generasi berikutnya harus paham tentang seberapa penting alam bagi kita. Dua kegiatan ala Karafuru San ini bisa kita coba untuk diaplikasikan bagi kita, dan bisa diajarkan bagi adik-adik kita atau anak-anak kita nantinya…

 

1.      Melakukan jalan-jalan ke alam secara rutin

Ini adalah kegiatan yang komplit. Selain sebagai bentuk perkenalan pada alam, juga bentuk olahraga!

Aplikasi untuk kita : Lebih asyik kalau bareng-bareng keluarga, teman, apalagi sahabat-sahabat dekat. Araf Pratamanaim

 Soalnya, di sini kita bisa tahu seperti apa mereka ‘yang sebenarnya’.

Aplikasi untuk adik-adik atau anak-anak kita nantinya : Akan lebih baik sambil diadakan games agar perjalanannya semakin menyenangkan di mata mereka. 

 

 

 

2.    Merawat kebun, halaman rumah, kolam ikan, dan sejenisnya kalau ada

Ini efektif! Kita (atau adik-adik dan anak-anak kita) langsung menghadapi bagian kecil dari alam dan mempelajari bagaimana cara merawatnya. Walaupun saat ini mungkin saja kita enggan, tapi jika dibiasakan, hal itu justru malah akan menimbulkan kesenangan. Ingat, pada dasarnya kita adalah manusia yang memiliki kecintaan tentang alam.

Aplikasinya : bisa dengan apa yang bakal diperoleh kalau kegiatan itu selesai, misalnya dengan mendapatkan hadiah yang jenisnya bisa ditentukan sendiri.

Semoga kecintaan kita, adik-adik kita, atau anak-anak kita nantinya terhadap alam dapat terus tumbuh seiring dengan dilakukannya kegiatan-kegiatan di atas sebagai bentuk aplikasi dari berteman dengan alam.

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

 

Colors of Nature

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

 

Colors of Nature

It’s brown, the one and the only one stalk I’ve found…

It’s orange, the sun I see from a rift of branch…

It’s green, when the leaves fall by the wind…

It’s yellow, when the sunflowers gather in a row…

It’s white, the pigeon who started a seed fight…

It’s gray, as a rabbit chews grass in his way…

It’s black, a little stone I wanna take…

It’s red, the roses that I wanna get…

It’s blue, as a wonderful sky like you…

 

It’s color, in a beautiful picture

A picture of hope, for human with love

It’s so deep, but we rare to thanks for it

Shall we wait… Until the eyes being dislodged?

 

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.