Gerakan Boikot Produk Zionis

Assalamu’alaykum…

Ada tulisannya mas Wahyudin, nih… Udah agak lama, sih, tapi belum basi, kok! Percaya, deh! ^_^! Tengok, yuk…

Para ulama Hamas, Al Ikhwanul Muslimin dan berbagai organisasi perjuangan Muslimin di Timur Tengah telah menyerukan boikot terhadap produk-produk yang mendukung negara Zionis Israel.

Produk-produk Amerika perlu diboikot, karena negara ini ikut membiayai negara Israel, berupa bantuan keuangan tiap tahun. Program bantuan luar negeri tahun 2002 yang telah disetujui Eks Presiden Bush adalah US$ 2,04 miliar untuk bantuan militer dan US$ 730 juta bantuan keuangan, adalah hampir 20% dari total bantuan luar negeri Amerika ke seluruh dunia.


Bentuk gerakan boikot yang paling sederhana adalah dengan tidak membeli produk-produk buatan Amerika dan Israel, atau produk dari negara manapun yang berhubungan baik dengan Israel. Hubungan itu bisa berbentuk kerja sama dagang, investasi, maupun pengembangan produk. Setiap Muslim bisa menahan diri untuk tidak membeli kebutuhan sehari-hari berupa makanan, minuman, atau pakaian yang bertanda
“made in Israel” atau “made in USA” atau merek-merek yang memang dikenal berasal dari jaringan kedua negara itu.


Misalnya, boikot terhadap perusahaan retail multinasional
Marks & Spencer, asal Inggris, segera terjadi begitu perusahaan itu diketahui melakukan perdagangan dalam jumlah yang sangat besar dengan Israel. M&S juga secara sengaja mempromosikan perdagangan antara Inggris dan Israel. Bahkan di markasnya di London, secara terang-terangan M&S mengumumkan bahwa sebagian besar keuntungan yang didapat dari ribuan outletnya di seluruh dunia pada hari Sabtu Minggu, akan disumbangkan bagi Israel.


Philip Morris, pabrik rokok terbesar di Amerika juga melakukan hal yang sama. CIA, Badan Intelejen Pusat Amerika Serikat berhasil mengungkap bahwa
Philip Morris menyumbangkan 12% dari keuntungan bersihnya ke Israel. Jumlah perokok di seluruh dunia mencapai angka 1,15 milyar orang, 400 juta diantaranya adalah perokok Muslim, berarti 35% dari jumlah perokok dunia. Laba yang diraih oleh produsen rokok bermerek Marlboro, Merit, Benson, L&M itu setiap bungkusnya mencapai 10%.


Amerika menjadi sasaran boikot, juga karena negara itu secara `istiqamah’ menjalankan kebijakan membantu Israel mati-matian. Baik dari segi keuangan, militer, politik dan lain-lain. Boikot ini bisa dilakukan dengan tidak membeli produk-produk dari restoran fast-food Amerika yang memang terkenal di seluruh dunia. Misalnya
McDonald’s, Kentucky Fried Chicken, A&W dan lain-lain. Tingkat efektivitas boikot seperti ini baru akan terasa bila dilakuan selama beberapa tahun, dan tersedia cukup alternatif agar orang tak mudah tergoda untuk membeli produk-produk Amerika itu.


Ada beberapa keberhasilan yang dicatat.
Supermarket Sainsbury’s asal Inggris terpaksa menutup semua outletnya di Mesir, sesudah beberapa bulan diboikot, meskipun perusahaan itu membantah bahwa mereka didukung negara Zionis.


Maskapai penerbangan
American Airlines yang hendak mengambil alih TWA (Trans World America) disarankan untuk menutup jalur penerbangannya ke Tel Aviv, meskipun jalur itu termasuk jalur yang laris. Lobi Zionis meyakini hal itu disebabkan meluasnya gerakan boikot terhadap semua perusahaan Amerika yang berhubungan dengan Israel.

Hm… Banyak, ya…? Yah, smoga kita bisa bertahan dengan produk bukan dari mereka…

Wassalamu’alaykum…

F16 dan Apache Kawal Pasukan Darat Israel Bantai Warga Gaza

Assalamu’alaykum…

Berikut tulisan Kang Musinlabib

israel_fighter_jetjpeapache

Setelah tetap menjadi  penonton, kini bisa dipastikan bahwa para pemimpin Arab, terutama di Kairo, Amman dan Riyadh adalah zionis-zionis Arab. Yang menjengkelkan, televisi-televisi Arab Saudi, Kuwait dan  Emirat enggan melakukan peliputan tragedi Gaza dengan cara menyiarkan pembacaan Alquran selama 24 jam. Hanya televisi Qatar yang masih tidak kuasa hati menutup mata dan telinga.

Ratusan tank-tank apache sejak semalam hingga kini, sebagaimana ditayangkan secara live oleh telivisi Aljazeera dan Alalam menggempur rumah sakit yang mestinya menjadi tempat paling aman. Telah dilaporkan bahwa kantor radio Al-Aqsa milik Hamas telah hancur lebur. Kantor itu tidak lagi digunakan sejak penyerbuan Israel pertama kali dilakukan.

Militer Israel memastikan bahwa satu pasukan telah masuk Jalur Gaza untuk merebut beberapa tempat yang ditengarai sebagai lokasi peluncuran roket.

Sementara itu, menurut seorang warga kota Beit Lahiya di Gaza, pasukan Israel telah melintasi pagar perbatasan di bawah selimut kegelapan, disertai oleh sejumlah helikopter tempur Israel.

Sebelumnya dilaporkan, tank-tank dan tentara Israel telah berhenti di perbatasan Jalur Gaza untuk mempersiapkan kemungkinan serangan darat, ketika gerilyawan Hamas meneruskan serangan roket di Israel selatan sebagai tantangan terhadap permintaan internasional untuk menghentikan serangan.

Dalam serangan sebelumnya, Israel menembakkan peluru-peluru ke sebuah masjid di Beit Lahiya yang dituduh menjadi pos komando dan pangkalan serangan Hamas. Sedikitnya 11 warga sipil, termasuk sejumlah anak, tewas dan 50 orang luka-luka, kata pejabat Hamas dan medis.

Menurut tim medis kepada AFP, Sabtu (3/1), sedikitnya 75 anak-anak dan 21 perempuan tewas dalam serangan terhadap salah satu daerah berpenduduk terpadat di dunia itu.

Serangan Isarel itu telah membuat korban tewas Palestina menjadi 446 orang, dengan sekitar 2.050 orang terluka, dalam pertumpahan darah berlarut-larut terburuk dalam beberapa dasawarsa konflik antara Israel dan Palestina.

Satu serangan diklaim menewaskan Abu Zakaria al-Jamal, komandan senior sayap bersenjata Hamas. Setelah Nizar Rayyan, ia adalah tokoh kedua dalam Hamas yang gugur. Yang jelas, target utama Israel adalah tokoh utamanya, Ismail Haniyah. Semoga Allah melindunginya.

Wassalamu’alaykum…

Israel versus World Update

basmallah

Assalamu’alaykum…

This is the update condition there that Karafuru San got from nasdaq JUST A FEW SECONDS before.

UPDATE: Senior Hamas Leader Killed In Israeli Air Strike

(Updates for added information)

GAZA CITY, GAZA (AFP)–One of the most senior leaders of the Palestinian Islamist Hamas movement, Nizar Rayan, was killed in an Israeli air strike in its Gaza Strip stronghold on Thursday, medics said.

Rayan, who was considered a hardliner within the Islamist group, was killed with at least four other people in the house that he shared with one of his four wives in Jabaliya in the north of the territory, the medics said.

Rayan is the most senior Hamas official killed since Israel unleashed its massive bombardment against the Islamists in Gaza on Saturday in response to persistent rocket fire from the enclave.

In the minutes following the strike, dozens of people rushed to the scene, pulling bodies from the rubble.

A few months after Hamas seized control of Gaza in June 2007, Rayan vowed at a Gaza City rally that the Islamists would also seize control in the Israeli- occupied West Bank which is still administered by Western-backed Palestinian president Mahmud Abbas.

Back to HeadlinesPrint Version<!– |  –>
makeAd(‘5′,’120×60′,’home’,”,”,”);

Israel set for ground attack as navy strikes Gaza coastline

(RTTNews) – Ignoring the French proposal for a temporary truce, Israel and Palestinian militants intensified attacks on each other as the Middle East war entered its sixth day on New Year.

The latest Israeli air strikes targeted Gaza’s parliament building and many more ministry buildings. A children’s hospital was reportedly damaged.

Equally aggressive was the Hamas response. Its members continued cross-border rocket-firing. Some of them landed as deep as Beersheba, about 40 kilometers inside Israel.

Rockets fired by the Hamas militants in the current fighting have flown farther and been more accurate than those used by them earlier, according to U.S. and Israeli officials.

Meanwhile, Israeli navy joined the onslaught, as naval ships attacked coastline positions of the territory’s Hamas leaders by firing artillery.

Thousands of Israeli ground troops were massed along the border in anticipation of a possible land invasion, although the move doesn’t have popular support in the Jewish nation.

So far, the campaign to crush rocket fire on southern Israel has been conducted largely from air.

Israel’s military spokeswoman Major Avital Leibovich said preparations for a ground operation were complete. “The infantry, the artillery, and other forces are ready. They’re around the Gaza Strip, waiting for any calls to go inside,” she said.

Wednesday, a united international stand for an immediate cease-fire appeal failed, as a late-night UN Security Council meeting could not vote on a draft resolution because of differences among some members.

Reports, quoting witnesses, said Israeli F-16 jet fighters and helicopter gunships flying over Gaza all night targeted the education ministry, the president’s office, the justice ministry, and the police headquarters.

Many buildings of Hamas-linked militants were destroyed in the refugee camps in central Gaza.

The head of Gaza’s emergency services said an attack on the house of a leader of the armed wing of Hamas, the Ezzedine al-Qassam Brigades, killed three neighbors, including one woman.

The Libyan draft resolution calling for an immediate ceasefire to halt the Israeli-Palestinian violence was thwarted after U.S. and British ambassadors said it contained nothing about Palestinian attacks on Israel.

“The resolution circulated by Libya is not balanced, and, therefore, is not currently acceptable to the United States,” U.S. Ambassador to UN, Zalmay Khalilzad, told reporters after the emergency meeting.

Showing no signs of ease in tensions in the Middle East, care- taker Prime Minister Ehud Olmert vowed Israel’s massive air blitz of the Gaza Strip would not end until Hamas militants gave up firing rockets into Israel.

The death toll in Israeli military operations launched Saturday aimed at destroying militant positions in Gaza is nearing 400, including 180 civilians. The number of the wounded has risen to nearly 2,000.

“We did not enter this operation in order to end it with the firing still continuing,” Olmert said at a meeting of his security Cabinet Wednesday, according to a senior government official.

The core group consisting of Olmert, defense minister Ehud Barak, and foreign minister Tzipi Livni rejected a French proposal for a 48-hour truce in and around the Gaza Strip.

“Hamas broke this cease-fire,” Olmert said. “If the conditions ripen” and if there is a solution “that promises a better security … we will consider it, but we are not there yet,” he was quoted as saying.

It has been reported that Israel demanded international monitors as a pre-condition of any truce with the Gaza militants.

Olmert made this point in talks with U.S. Secretary of State Condoleezza Rice and other world leaders, who are pressing for ending the violence.

Israel Not Interested In ‘Long War’ In Gaza: Olmert

JERUSALEM (AFP)–Israeli Prime Minister Ehud Olmert said on Thursday that Israel was not interested in conducting a “long war” in Gaza, where it has pummeled Hamas targets for six days.

“We are not interested in conducting a long war and we do not wish to conduct a war on a broad front,” Olmert said on a visit to the desert city of Beersheva, which has come under rocket fire from Gaza militants over the past several days.

  (END) Dow Jones Newswires
  01-01-090629ET
  Copyright (c) 2009 Dow Jones & Company, Inc.