Semerbak Kesturi Yang Terinjak (full)

Prolog

Mentari hampir saja tertidur di ujung cakrawala tepat di batas khatulistiwa. Seolah bahagia dengan hari yang baru saja dilaluinya, kini ia hendak mencari mimpi indah. Salam hangatnya pada sang dewi malam menyiratkan bahwa ia ikhlas tugasnya digantikan untuk memimpin kehidupan di bumi. Hal terakhir yang ia lakukan adalah tersenyum pada samudera. Dari garis horizon, pantulan sinarnya yang kemerahan tampak seolah memuat untaian ombak untuk disampaikan ke berjuta pantai, termasuk sebuah yang terletak di Samudera Pasifik, pantai di Pulau Hokkaido.

Semak belukar di pantai itu tampak bersiap tuk bersyukur menyambut datangnya malam, bersiap menampung tetesan-tetesan embun yang malam nanti akan menempel di pangkuannya. Pun begitu dengan sebuah gunung yang berdiri tegak memanjatkan ucapan terima kasihnya, Gunung Moiwa. Ia bahagia karena hingga hari ini keanggunan dan keindahannya masih dapat dinikmati. Ia tak sabar untuk menunggu malam, menyiapkan pesona yang akan ia tunjukkan esok hari bersama gunung-gunung lain yang juga berharap hal yang sama.

Mentari memang belum menghilang. Cahayanya yang samar-samar hampir tertutupi biang langit malam yang gelap. Namun justru pemandangan seperti itulah yang membuat siapapun akan merasa takjub melihatnya. Termasuk seorang pemuda berusia dua puluh empat tahun, Amar Fian.

Amar tak ingin kehilangan kesempatan menikmati pemandangan Kota Sapporo dari lift gantung yang membawanya turun dari puncak Gunung Moiwa. Ia baru saja menghabiskan satu hari yang terindah dalam hidupnya. Tak mungkin baginya melupakan desir angin di Teluk Ishikari saat udara pagi yang menusuk menyapanya. Tak mungkin pula melupakan rumput hijau yang ia injak saat berjalan-jalan di Taman Ohdohri di atas terik mentari. Atau saat secara tidak sengaja bertemu dengan sahabat karibnya semasa SMA yang saat ini tengah melanjutkan kuliah di Universitas Hokkaido, Sayyid, tepat di bawah Tokei-dai1. Semua itu akan menjadi salah satu bagian dari sejarah kehidupannya yang paling indah. Apalagi perjalanan itu tak dilaluinya sendiri. Dalam lift gantung itu ada empat orang. Amir, aku,dan dua orang lainnya. Saat ini di sampingnya duduk seseorang yang juga sedang menikmati keindahan yang sama. Seseorang itu sangat berarti bagi Amar, karena perjalanan ini hanyalah bagian dari berjuta perjalanan panjang yang akan mereka lalui. Saat ini ia sedang berbicara dengan seseorang lain yang duduk di sampingku.

Amar kini ganti menatapku yang duduk tepat di hadapannya. Ia tersenyum menyuratkan kebahagiaan yang tak terkira.

Amar hanya bisa mengajukan pertanyaan retoris, “Semua ini bukan kebetulan, kan?”

Amar melihatku mengangguk. Pandangannya kini beralih ke wajah seseorang yang berada di sampingnya. Tatapannya tampak kabur, seolah mengingat kembali perjalanan hidupnya yang telah ia lalui, yang hampir tak mungkin membawanya ke negeri sakura ini…

CHAPTER 1

Dimulainya Sebuah Pertaruhan

Ciamis, 2002

“Mar, bangun! Araf sudah nunggu dari tadi, tuh!

Suara ibunya yang menggelegar mau tak mau membangunkan Amar. Ia berusaha untuk duduk, mencoba menyadarkan dirinya sendiri.

“Makanya kalau habis Shubuh jangan tidur lagi!”

Dalam ketidaksadaran secara penuh Amar hanya bisa menjawab singkat, “Ya, Ma.”

Ibunya Amar kembali ke luar kamar. Ia menuju ke luar rumah, mengajakku untuk masuk. Tapi aku menolak sambil berusaha terlihat ramah. Setelah itu, ia kembali ke dalam, melanjutkan pekerjaan pagi hari yang seharusnya dilakukan oleh seorang ibu.

Rumahku dan rumah Amar sebetulnya cukup jauh, terbentang setengah kilometer jaraknya. Namun khusus hari ini, Amar memintaku datang menjemputnya agar bisa berangkat ke sekolah bersama-sama. Dengan sedikit keengganan, aku mengikuti kemauannya.

Inilah untuk yang pertama kalinya aku berkunjung ke rumahnya. Aku masih terduduk saat melihat ke seberang jalan. Rumah Amar terletak tepat di depan pertigaan jalan. Hal itu bisa membuatku melihat dengan lurus jalan menuju ke arah selatan.

Aku beranjak dari teras rumah Amar menuju halamannya yang luas. Halaman itu berukuran sekitar enam kali lima belas meter, dengan hampir seluruh permukaannya ditutupi oleh batako, kecuali di depan sebuah ruangan berjendela dan di belakang pagar. Pengecualian itu diisi oleh taman rumput yang ditanami beberapa jenis tanaman mulai dari tanaman anak nakal sampai pohon cemara. Pagar rumah Amar sendiri sebetulnya berwarna hijau. Namun pada beberapa bagian, catnya tampak pudar.

Pada jarak sekitar enam meter dari depan pintu masuk, aku mengamati rumahnya. Rumahnya yang hanya setingkat tampak begitu megah. Namun sayang, sama seperti pada pagar, beberapa cat putih, sudah mulai pudar. Hal itu membuatnya tampak seperti rumah besar yang kurang begitu terurus.

Hanya beberapa menit setelah ibunya Amar masuk, Amar keluar. Ia kini sudah berpakaian seragam dengan tas ransel di pundaknya. Pakaian seragam itu sebetulnya biasa-biasa saja, namun karena Amar boleh dikatakan kurus, pakaian itu terlihat sedikit lebih besar.

Secara fisik, Amar bukanlah seorang yang proporsional. Berat badannya kurang lima sampai sepuluh kilogram dari berat badan ideal untuk tubuh seukurannya. Tulang pada pergelangannya terlihat. Hidungnya yang agak bengkok, dahinya yang lebar, dan posisi setengah bungkuk yang sering dilakukannya terutama saat duduk bersila dan jalan membuatnya tampak terlihat lebih tua. Pun begitu dengan kantung mata yang sedikit tampak di bawah matanya semakin meyakinkan siapapun yang melihatnya bahwa Amar adalah seorang yang kurus dan kurang menarik, persis dengan ciri-ciri yang ada pada diriku. Siapapun yang baru mengenal kami akan cukup sulit membedakannya. Perbedaannya hanya bibir yang cukup tebal dan bentuk muka lonjong miliknya.

Namun terlepas dari itu semua, sorot mata seorang Amar yang memancarkan semangat, senyum yang ia pasang, dan keramahan yang ia tampakkan membuat semua kelemahannya hilang seketika. Hal itu pula yang ia tunjukkan sesaat setelah keluar dari rumahnya, untuk menyambutku.

Tak lama setelah berbincang mengenai hasil penunjukkan kemarin yang membuatnya terpilih sebagai wakil ketua Mejelis Perwakilan Kelas (MPK), kami segera berangkat menuju sekolah dengan kendaraan umum.

Sekolah Menengah Pertama 1 Ciamis tertetak tepat di jantung kota Ciamis bersebelahan dengan kantor bupati yang menghadap ke arah Mesjid Agung Ciamis, dipisahkan oleh Jalan Sudirman. Sementara Mesjid Agung sendiri menghadap ke arah Taman Rafflesia, sebuah taman yang cukup luas dengan sebuah air mancur dangan tempatnya yang berbentuk seperti bunga Rafflesia Arnoldi. Paket Pusat-Kota tersebut kurang begitu sempurna karena hanya terdapat sedikit pepohonan di sana. Jika sinar matahari menyengat, panas yang dipantulkan ke jalan akan terperangkap dan membuat suhu di sekitar pusat kota tersebut menjadi semakin panas.

Untungnya aku dan Amar tiba saat mentari masih belum menunjukkan tajinya. Waktu masih menunjukkan pukul setengah enam saat kami tiba dan melewati gerbang masuk sekolah. Di gerbang itu sudah berdiri Kang Udin, penjaga sekolah berkumis cukup tebal, dan Pak Agus, guru olahraga yang sangat memegang prinsip kedisiplinan dengan tegas. Kami menyapa mereka sambil memberikan senyuman setengah-terpaksa.

Setelah menanyakan kunci ruangan MPK dan mendapatkannya, Aku dan Amar mengucapkan terima kasih dan tersenyum –kali ini tanpa terpaksa. Setelah melihat mereka membalas senyuman kami dengan senyuman pula, kami pun berpisah. Aku melangkahkan kakiku menuju kantin yang letaknya di belakang sekolah, sementara Amar langsung menuju ruang kerja MPK.

Amar melangkahkan kakinya dengan gontai. Ini adalah rapat pertama yang harus diikutinya sebagai seorang wakil ketua. Ia mengagendakan sebuah rapat perdana di pagi ini setelah aku, ketua MPK terpilih, meminta untuk itu. Hal itu sebetulnya cukup memberatkan Amar. Dengan letak rumahnya yang berjarak sepuluh kilometer dari sekolah, agak sulit baginya untuk tiba sepagi ini. Untunglah di MPK ada salah satu nama yang rumahnya ternyata berjarak tidak terlalu jauh, aku. Setidaknya bisa berangkat bersama.

Langkah kaki yang diambil Amar telah membawanya ke sebuah ruangan yang terletak di samping kelas 2-D, ruangan OSIS-MPK. Kedua organisasi itu tidak memiliki tempat masing-masing sehingga dibutuhkan koordinasi masalah ruangan jika akan ada rapat internal. Ruangan tersebut tidaklah luas, hanya berdimensi alas empat kali dua setengah meter yang memanjang. Di sana terdapat sebuah lemari besar tempat menyimpan berbagai tetek bengek keorganisasian. Lemari itu sengaja diletakkan di tengah ruangan menghadap ke satu-satunya pintu di ruangan tersebut sebagai ‘tembok’ baru. Jadi seolah-olah dalam ruangan tersebut ada sekat antara ruangan dua setengah kali tiga meter dan ruangan dua setengah kali satu meter yang dipisahkan lemari. Di ‘ruangan’ berukuran dua setengah kali tiga meter terdapat sebuah meja kecil dan empat buah kursi sederhana yang mengelilinginya, serta sebuah meja kelas beserta dua buah kursi lainnya.

Setelah melihat bahwa pintu di ruangan tersebut terbuka, Amar masuk. Ia memutuskan untuk duduk di salah satu dari empat kursi sambil melihat-lihat gambar pahlawan Indonesia yang terpampang di dinding ruangan. Tak berapa lama aku datang dengan membawa pisang karamel, sejenia gorengan dan gehu, salah satu makanan khas daerah Jawa Barat yang disajikan dengan tauge di dalam tahu yang digoreng. Sambil memakan makanan-makanan tersebut dan menunggu yang lain, momen itulah untuk kali pertama, Amar menjadi sahabatku.

Sejak kelas satu, Amar adalah seorang yang tergolong cepat menangkap apa yang diajarkan gurunya. Hal itu menyebabkan dia masuk ke tiga besar rangking di kelasnya sekaligus peringkat tujuh dari sekian ratus siswa kelas satu pada catur wulan pertamanya. Kemampuannya itu ia teruskan hingga kelas dua ini, sehingga jika dilihat dalam grafik, peringkatnya terus naik hingga saat semester pertama kelas dua (saat sistem pendidikan Indonesia berubah dari caturwulan menjadi semester) Amar berhasil merasakan bagaimana bahagianya berada di peringkat pertama secara paralel di SMP-nya.

Di kelas dua inilah, selain aktif sebagai wakil ketua MPK, Amar pun mulai aktif mengikuti berbagai perlombaan kestudian. Bahkan beberapa di antaranya berhasil menjadi juara, termasuk saat ia mengikuti lomba cepat tepat antar SMP denganku dan Aisyah, salah satu teman sekelas kami.

Seperti sebuah peribahasa, semakin tinggi sebuah pohon, maka semakin besar pula angin yang berhembus. Saat itulah untuk yang pertama kalinya Amar diterpa sebuah kelakar yang sudah biasa dialami oleh anak SMP, digosipkan dengan lawan jenis.

Namun ada sebuah keanehan pada gosip-gosip yang beredar. Gosip yang menimpanya selalu berujung pada kenyataan yang benar-benar terjadi atau jika tidak malah berbalik menerpa seseorang yang dipercaya sebagai orang yang menyebarkan gosip itu.

Tak pelak keanehan itu menjadi teka-teki yang membuatku bertanya. Hingga pada suatu saat setelah membahas sebuah agenda tentang kinerja OSIS, aku menanyakan hal itu padanya saat ruangan kosong.

“Aku juga nggak tahu kenapa itu bisa terjadi. Yang ku tahu…” Amar menghentikan penjelasannya saat menatap wajahku. Tampak keengganan menyelimuti wajahnya. Ia tak jadi melanjutkannya dan malah mengajakku pergi.

Akhir tahun 2002 ditutup dengan sebuah pengumuman akan diadakannya perlombaan siswa berprestasi. Amar menjadi perwakilan dari SMP kami setelah menyisihkan beberapa saingannya termasuk aku. Namun ada sesuatu yang mengganjal. Ia agak kecewa karena yang akan mendampingi sebagai perwakilan siswi berprestasinya bukanlah Aisyah. Namun kekecewaan itu sedikit terobati dengan raihan juara kedua yang diperolehnya di tingkat provinsi.

Minggu demi minggu berlalu. Kedekatanku dengan Amar sudah seperti sebuah mata koin yang tak terpisahkan. Aku mulai berani untuk membagi pengalaman-pengalamanku. Hal itu perlahan membuat kepercayaan dirinya terhadapku tumbuh. Akhirnya pada suatu sore di kantin belakang yang menghadap Gunung Galuh, sebuah pembicaraan berujung pada satu topik yang sejak dulu ingin kutanyakan. Setelah yakin bahwa aku tak mungkin mendapatkan keuntungan jika menyebarkan berita itu, ia berkata, “Masalah rumor yang katanya ujung gosip itu ada dua –menjadi kenyataan atau berbalik arah- akupun nggak tahu. Yang jelas, aku cuma tahu alasan pertama. Kau nggak akan percaya seperti apa aku saat SD…

“Aku adalah anak yang pendiam. Aku masih ingat, saat hari pertama di SD aku memilih duduk di kursi tepat di barisan ketiga dari depan meja guru. Saat itu aku nggak berani kenalan sama anak lain. Kau tahu? Saat istirahat, cuma aku satu-satunya yang nggak keluar kelas. Sampai tiba-tiba datang anak kelas tiga yang namanya Reza –Dia itu anak Bu Elis, wali kelasku-. Dia nggak sendiri, melainkan bersama Fauzy, teman semejaku, dan seorang anak lagi yang nggak kuketahui namanya.

“Reza tiba-tiba menggebrak mejaku sambil menyuruhku pindah! Ia bilang kalau kursi itu sudah dipesan oleh anak yang nggak kuketahui namanya tadi. Dengan sopan aku mencoba menjelaskan kalau aku sudah lebih dulu menempatinya. Tapi penjelasanku rupanya malah membuat Reza semakin menjadi. Ia menggebrak mejaku dengan lebih keras. Kau tahu? Itulah untuk yang pertama kalinya aku dibentak seseorang. Sebelumnya orang tuaku belum pernah sekalipun membentakku. Bayangkan! Wajar, bukan, kalau saat itu mataku langsung berair? Reza kalap, apalagi saat bel berbunyi dan ibunya datang. Ia langsung kabur tanpa menjelaskan apa yang terjadi. Yang kudengar keesokan harinya, ia dimarahi atas perlakuan itu.

“Tapi… Setelah itu ia malah semakin ingin menjadikanku sebagai targetnya. Ternyata sebelum aku, ada anak lain –kelas dua- yang menjadi korbannya. Kau tahu apa yang biasa dia lakukan pada targetnya? Jahil. Ia selalu menyembunyikan beberapa peralatan sekolahku saat istirahat…”

Amar menghentikan perkataannya sejenak. Ia manatapku, “Parah, ya?”

Aku hanya mengangguk datar dengan harapan ia mau melanjutkan ceritanya.

Amar mengarahkan pandangannya ke atas, mencoba menyatukan kembali puing-puing memoar masa lalunya… “Aku menjadi targetnya selama empat tahun. Selama itu pula aku selalu menangis tiap kali menjadi sasaran kejahilannya. Bayangkan, bagiku pergantian tahun itu seolah menjadi penantian kebebasanku… Ya, kupikir begitu. Tapi ternyata nggak. Aku nggak tahu ini kebetulan atau bukan, tapi di dua tahun berikutnya, giliran gosip yang membuatku memeras air mata walau nggak sesering tahun-tahun sebelumnya. Aku cengeng, ya? Makanya sejak saat itu, ada satu hal yang ingin kupatrikan dalam diriku. Hal itu adalah…”

Teguran dari penjaga sekolah untuk segera pulang membuat Amar mau tak mau harus membuatku tidak mendengar kalimatnya hingga akhir, bahkan hingga akhir tahun pelajaran.

Akhir tahun pelajaran itu ditutup dengan prestasi Amar yang luar biasa. Mulai dari seringnya menjuarai perlombaan-perlombaan antar sekolah, menjadi ketua MPK, menjadi juara kedua Perlombaan Siswa Berprestasi seprovinsi, hingga yang terakhir, menduduki ranking pertama paralel dari semua siswa SMP 1 Ciamis.

Hingga pada suatu hari, salah seorang temannya, Yoga, mendatanginya.

“Mar, nanti pulang sekolah ada yang mau ketemu di belakang kantin mie ayam.”

“Siapa?” Tanya Amar.

Yoga menjawab singkat sambil berlalu, “Sudah, lihat saja nanti.”

Amar datang sendirian ke tempat yang ditunjukkan temannya. Ia menemukan seorang anak perempuan dari kelas satu yang terlihat sedang menunggunya. Anak perempuan itu tampak malu-malu saat Amar mendatanginya. Pipinya menjadi kemerahan saat Amar menanyakan padanya, “Nunggu saya?”

“Iya.”

Jawaban anak perempuan itu membuat Amar bertanya-tanya. Dalam waktu kurang dari satu jam, ia sudah mengetahui siapa nama anak perempuan itu, dari mana asalnya, dan berbagai info lain yang sebetulnya tak ia butuhkan, serta yang paling utama: alasan meminta Amar untuk datang. Penjelasan-penjelasan itu membawa Amar menginjak pada suatu tahap yang belum pernah ia alami sebelumnya, pengakuan rasa suka.

Dengan sebuah tanda tanya besar, Amar mengambil keputusan yang cukup baik, namun belum bisa dikatakan bijak, memberi nomor handphone miliknya agar anak perempuan itu bisa menghubunginya atau menanyakan apapun kapanpun ia mau.

Selama beberapa minggu sebelum liburan kenaikan kelas itu, Amar belum menanggapi atau bahkan menerima pengakuan. Satu hal yang membuat perhatiannya beralih adalah mulai munculnya gosip yang beredar yang menghubungkan antara ia dengan anak perempuan kelas satu itu. Kemunculan gosip itu tak ditanggapi berlebihan oleh Amar. Hal itu terjadi karena sejak awal ia sudah menduganya. Saat gosip itu beredar, hatinya tersenyum. Dengan ini… Ke depannya akan lebih mudah…

Masa liburan akan dimulai saat Amar mendapat kabar bahwa ia lolos ke provinsi dalam lomba olimpiade untuk cabang matematika. Dari nama-nama yang lolos dari sekolahnya, ketidakmunculan nama Aisyah membuatnya sedikit kecewa. Kekecewaan terbesar dirasakannya saat mengetahui kalau perlombaan tingkat provinsi akan berlangsung tepat saat sekolahnya mengadakan tur wisata ke Yogyakarta, walaupun sedikit terobati dengan turut lolosnya sahabat terdekat Amar, aku.

Perlombaan tingkat provinsi yang diikuti Amar berlangsung di Cibiru, daerah Bandung timur. Dalam perlombaan itu, bayang teman-temannya yang sedang berlibur membuat konsentrasinya sedikit berkurang. Alhasil Amar tak menembus peringkat lima besar. Kekecewaan semakin bertambah setelah mengetahui tak ada seorang pun dari SMP 1 Ciamis yang lolos ke tingkat nasional.

Kelas tiga adalah kelas yang membuat semua siswa SMP mulai fokus terhadap pelajaran. Namun tidak bagi Amar. Ia masih berusaha untuk merealisasikan keinginannya saat SD, sama seperti apa yang pernah hampir ia katakan pada sahabat terdekatnya… Makanya sejak saat itu, ada satu hal yang ingin kupatrikan dalam diriku. Hal itu adalah… Saat memikirkan hal itu sambil tersenyum, Amar melanjutkan kalimat terpotong itu dalam hatinya, merealisasikan setiap gosip yang muncul

Tanpa sepengetahuan Amar, nomor handphone miliknya telah tersebar. Hampir setiap hari ada nomor-nomor jahil yang seolah hendak menelepon, tapi saat diangkat ditutup. Beberapa ia tanggapi, namun kebanyakan hanya menjadi kesiaan bagi orang-orang tak terpilih yang menjahilinya.

Ada salah satu teman Amar mengetahui hal itu, Yoga. Yoga adalah seorang yang memiliki sikap humoris cukup tinggi. Dengan jerawat yang terlihat di beberapa titik di wajahnya dan gigi yang berderet tak rata menunjukkan kalau secara fisik biasa saja. Namun dibalik semua itu, terdapat sebuah aura persahabatan yang luar biasa dalam dirinya. Siapapun yang baru pertama kali bersua dengannya akan tertarik untuk menyambut pembicaraan yang ia mulai.

Pertemuan Amar dan Yoga pun diawali dengan senyum darinya. Begitu pula dengan pertemuan hari ini, di depan ruang ganti pakaian di belakang kelas. Tak ada yang hilir mudik di sana karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Kalaupun ada, itu hanya anak-anak basket yang biasa berlatih lari mengelilingi sekolah yang melewati mereka.

“Hei, Mar! Kulihat akhir-akhir ini kamu sering banget buka hape. Kalau dengan insting detektifku, pasti lagi banyak sms yang masuk, ya?”

Amar menjawab sambil menunjukkan telepon selulernya, “Bukan cuma sms. Orang yang miscall juga banyak, nih…”

“Asyik, donk!” Sahut Yoga sambil melihat-lihat isi pesan masuk dengan tersenyum. “Tapi kalau bisa, tanggapi, tuh. Terserah mau menerima atau menolak…”

“Menerima? Memangnya pernikahan!?” tanya Amar dengan nada bercanda.

“Maksudku, jangan bikin mereka terus-terusan menelepon atau sms. Kasian, kan, membuang pulsa untuk sesuatu yang nggak pasti.” Kata Yoga dengan pendangan menatap handphone tapi bias.

Amar menopang dagu dengan tangan kanannya, “Ho…. Itu salah mereka sendiri, kan? Siapa suruh melakukan hal itu? Sudah, lah… Toh lama-kelamaan bakal berkurang…”

Setelah sempat terdiam untuk beberapa saat, Yoga menyerahkan kembali handphone Amar sambil bertanya, “Mar, Apa tadi Aisyah mengatakan sesuatu padamu?”

“Hah? Nggak. Mengatakan apa?”

“Masih ingat pembicaraan kita kemarin?”

“Pembicaraan yang mana? Kok pembicaraannya loncat sana loncat sini, sih?”

Yoga terdiam sejenak sebelum berkata sambil tersenyum, “Ah, lupakan.”

“Kok gitu?”

“Bukan sesuatu yang penting, kok.”

Mereka lalu membicarakan berbagai hal lain hingga lembayung jingga muncul di ufuk barat. Angin yang mulai bertiup dingin memaksa mereka mengakhiri pembicaraan dan berpisah pulang.

Beberapa hari sebelum menjalani kegiatan sekolah di kelas tiga, Amar mengikuti sebuah perlombaan menjawab pertanyaan sains via internet di Tasikmalaya. Dalam perlombaan yang diselenggarakan hingga malam itu, Amar mengalahkanku. Tapi ia kurang satu peringkat lagi untuk menjadi juara, karena juara saat itu diambil oleh tuan rumah. Saat pembagian hadiah bagi para pemenang, Amar berkenalan dengan orang yang mengalahkannya, April. Sejak saat itu, mereka saling berkomunikasi satu sama lain.

Komunikasi itu berujung pada sebuah kesempatan yang ditunggu Amar. Saat ia tahu kalau April adalah anak dari seorang guru di SMAnya, ia berkata kepadaku, “Dunia memang sempit, ya? Jelas ini bukan suatu kebetulan…”

Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, salah satu kabar yang beredar di antara kabar-kabar lain yang menimpa Amar adalah tentang hubungannya dengan April. Spekulasi merebak mengatakan kalau mereka, yang notabene berbeda sekolah, sudah jadian. Namun spekulasi itu sedikit terbantahkan saat Amar diberitakan sedang menyukai seseorang dari sekolah yang sama dengannya.

Dalam suatu pagi saat ruangan kelas hanya terdiri dari Yoga, dan aku, Amar muncul. Kemunculannya diikuti oleh keingintahuan Yoga. Tak terpengaruh dengan adanya aku di sana, Yoga bertanya tanpa basa basi, “Kau menyukai seseorang?”

Amar hanya tersenyum. Namun senyumannya itu menyiratkan sebuah jawaban yang positif. Tanpa ragu lagi Yoga mengacu pada satu nama, “Shanty?”. Amar hanya menempelkan telunjuk di bibirnya sambil berdesis meminta Yoga untuk diam. Ia tak perlu menunggu Yoga pergi, karena setelah ia menanyakan tugas pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, Yoga terbelalak. Ekspresinya berubah menjadi tenang setelah Amar mau meminjamkan buku tugasnya. Ia kembali ke mejanya.

Aku menghampiri Amar dan mengajaknya keluar. Di luar kelas, giliran Amar yang terbelalak saat aku menyebutkan sebuah nama. Ia hanya bisa berkata, “Bagaimana mungkin kau tahu?”

Dengan sebuah senyuman bangga aku menyebutkan tiga kata yang mungkin telah menjadi ciri khasku. Sebelum aku menyelesaikan kalimat itu dengan sempurna, Amar terlebih dahulu memotongnya, “Iya, iya, ‘Aku kan detektif’! Dasar maniak Conan! Mm… Tapi… Tolong rahasiakan itu, ya!”

Aku mengiyakan dengan suatu syarat, Amar akan menceritakan apa yang sebetulnya ia patrikan dalam dirinya, yang belum sempat ia beritahukan padaku. Dalam beberapa hari ke depan, aku dikejutkan dengan sebuah berita yang mengabarkan kalau Amar memacari Indah, Rindu, dan yang terakhir, Shanty, siswi kelas tetangga. Dan saat kukonfirmasikan kepadanya, ia hanya mengangguk.

Keterkejutanku tak berlangsung lama karena pergantian hari yang berlangsung cepat. Pergantian itu menjadi sesuatu yang terlihat membosankan. Saat matahari menggantikan rembulan dan sebaliknya, rotasi kehidupan untuk makhluk hidup berputar. Jika saat sebelumnya seseorang bisa mendapat kesenangan yang sangat banyak, maka keesokan hari ia bisa mendapat sesuatu yang sangat menyakitkan.

Hal itu menimpa Amar. Dalam semester ini, grafik nilainya turun. Bahkan dalam beberapa mata pelajaran ia hampir mendapat nilai yang bisa membuatnya harus mengulang. Ia tahu, salah satu faktor yang membuatnya begitu adalah apa yang pernah ia bicarakan dengan Yoga. Walaupun begitu ia tahu, saat ini ia memiliki kesempatan lagi untuk segera merealisasikan satu kegilaan yang terpatri dalam dirinya.

Turunnya nilai menjadi satu alasan baginya untuk bisa lepas dari Shanty. Padahal yang sesungguhnya, tak lama sebelum mereka mengakhiri ‘petualangan’ yang mereka ciptakan sendiri, gosip antara Amar dan April kembali terdengar. Amar membuatku kaget setelah mengaku memulai ‘petualangan’ baru bersama April hanya satu hari setelah mengakhiri ‘petualangannya’ yang sebelumnya.

Sementara itu di sisi lain, kabar baru beredar saat Aisyah digosipkan sedang bersama dengan salah satu teman dekat Amar. Setelah mendengar hal itu, Amar tampak berbeda. Ia malah semakin mengoarkan hubungannya dengan April.

Semua berita yang beredar saat kelas semester akhir di kelas tiga membuatku dan Yoga bingung. Saat Amar semakin menyatakan secara terang-terangan akan cintanya pada April, Aisyah mengakui hubungannya dengan teman dekat Amar tersebut. Ia diberitakan menjalani masa pacarannya tak lama sebelum berganti pasangan. Hingga tiba pada suatu siang yang cukup terik di permulaan semester terakhir saat Yoga mengajak Amar ke mushala di jam pelajaran. Setelah diizinkan oleh guru bahasa Indonesia, mereka duduk di serambi, menunggu adzan dzuhur datang.

“Kamu aneh, ya?” sahut Yoga.

“Aneh kenapa?” balas Amar.

“Di kelas tiga ini, hampir setiap gosip yang beredar mengenaimu seolah menjadi kenyataan. Apalagi namanya selain aneh?”

“Nggak, kok. Itu cuma kebetulan.” Jawab Amar sambil menerawang ke langit biru yang tak terjangkau terik matahari.

Yoga menghela nafas, “Kamu tahu, apa yang ada dalam pikiranku dan mungkin pikiran teman-teman?”

Amar menggelengkan kepala sebelum Yoga menjawab dengan jawaban yang membuat Amar kaget, “Kamu playboy, ya…”

Kekagetan itu tak hilang walau adzan tiba. Dalam shalatnya, Amar tak menemukan kata kekhusyukan. Ia hanya memikirkan apa yang dikatakan Yoga.

Mereka kembali ke kelas tepat sesaat sebelum pelajaran bahasa Indonesia selesai. Amar, yang pada hari ini duduk di depan, hanya terdiam walaupun teman sebangkunya meminta izin untuk memberitahukan pada guru biologi yang akan masuk kalau ia pergi ke toilet.

Di tengah alam bawah sadarnya yang masih kacau, tiba-tiba Aisyah duduk di samping Amar. “Punya selembar kertas yang cukup besar?”

Amar mengorak-ngorek bagian bawah mejanya. Ia menemukan selembar cover buku cukup besar yang tak terpakai, namun masih bisa ditulisi sesuatu. Setelah menyerahkannya pada Aisyah, ia bertanya, “Untuk apa?”

Alih-alih menjawab, Aisyah menulis sesuatu di selembar cover buku itu, sehingga membuat Amar terdiam. Setelah menerima cover buku yang tadi ditulisi Aisyah, Amar membacanya. Di sana tertulis : “Apa kamu tahu kenapa aku melakukan itu?”

Karena tak tahu, Amar menulis dan menyerahkannya pada Aisyah, “Melakukan apa?”

Aisyah menulis, “Apa kau ingat apa yang biasa kulakukan setelah shalat kalau kita dalam satu jamaah?”

Setelah membacanya, Amar teringat kalau Aisyah sering menawarkan tangannya untuk bersalaman. Ia membalas dengan anggapan Aisyah sedang mengajaknya bercanda, “Ya, aku ingat! Salaman, kan? Wah… Pas gitu kita kayak pasangan yang sudah menikah, ya… Hehehe…”

Aisyah kemali menyerahkan cover buku yang telah ia tuliskan : “Apa kau tahu siapa yang paling sering kubicarakan dengan Yoga, Araf, atau teman-teman lainnya?”

Amar membalas, “Nggak tau… Hm… Memangnya siapa? Aku ya!? Hehehe…”

Aisyah kembali meneruskan pertukaran cover buku yang diisi oleh satu sama lain secara bergantian itu. Ia kini menuliskan sesuatu yang membuat Amar sadar kalau apa yang mereka lakukan bukan sekedar candaan. Tulisan itu sama sekali tak ada kaitannya dengan pertanyaan sebelumnya: “Apa kau tahu kenapa aku senang kelas ini nggak dipecah tiga tahun berturut-turut?”

“Nggak…”

“Apa kau tahu kenapa aku senang tiap kali akan ada perlombaan?”

Amar menunduk penuh tanya saat kembali menuliskan satu kata, “Nggak”

Kalimat berikutnya membuat Amar berprasangka, “Apa kau tahu kenapa aku sengaja menerima saat ada seseorang yang menembakku?”

“Nggak” jawab Amar singkat. Ia ingin segera mengetahui apa maksud Aisyah dengan semua itu. Namun Aisyah jutru memegang cover buku itu dengan cukup lama. Saat ini, untuk yang pertama kalinya Amar tak berani menatap mukanya. Yang ia lakukan hanya menunggu… menunggu cover buku itu kembali ke tangannya.

Akhirnya apa yang ia tunggu datang juga. Tulisan itu kini berbunyi, “Aku capek… Kenapa, sih, kau nggak menyadarinya?”

Berbagai spekulasi merebak dalam benak Amar. Namun ada sebuah yang terbersit sangat jelas. Amar mengira kalau Aisyah sedang mengatakan perasaan yang sebenarnya. Tapi pikiran itu segera ditepisnya dengan mengatakan sesuatu dalam hatinya, Ah, mana mungkin! Bukankah sekarang dia lagi jadian sama seseorang? Lagipula, apa mungkin seorang Aisyah yang kualitas ibadahnya jauh di atasku begitu? Apalagi dengan orang sepertiku… Nggak mungkin!

Amar sadar kalau ia belum memegang cover bukunya. Ia membaca tulisan tadi tanpa ia pegang. Alhasil Aisyah kembali membawanya dan kini… meremasnya!

“Anu…” Amar hanya bisa mengatakan itu saat menghadapkan wajahnya ke muka Aisyah. Namun sebuah pemandangan membuatnya sangat kalap. Ia melihat butiran air mata mengalir di atas wajah putih yang tertunduk. Aisyah menangis di hadapannya dalam diam.

CHAPTER 2

Sebuah Inspirasi

Pertengahan Juli tahun 1989 memunculkan sebuah penantian panjang dari kemarau yang melanda Indonesia. Hampir seluruh warga menantikan datangnya hujan yang tak kunjung tiba sejak Februari. Air dimana-mana sudah berkurang. Sungai dan danau sudah lama merindukan tetesan-tetesan air yang bisa tutupi retakan-retakan tanah yang menganga.

Hal yang sama berlaku malam ini. Hujan begitu dinantikan. Para jangkerik tak lagi berbunyi nyaring dan riang seperti biasa karena jumlah air yang mereka minum berkurang dari hari ke hari. Bahkan mencicipi tetesan embun pun mulai sulit. Burung hantu terpaksa mengantuk setelah menggunakan waktu pagi dan sore untuk mencari sumber air yang komposisinya tepat untuk dirinya. Beragam tumbuhan kini tak lagi begitu sedap dipandang. Dalam remang malam, beberapa antheridium mulai frustasi setelah tak lagi bisa menggoda para lebah karena warna kebanggaannya mulai pudar.

Tak berbeda jauh dengan manusia. Malam ini hampir setiap keluarga mengeluhkan hal yang sama. Hal itu terjadi karena cukup banyak yang terpaksa menumpang mandi pagi dan sore di tetangga, bahkan yang kebih parah, di kali yang tersisa, kali yang juga digunakan untuk mencuci. Banyak juga yang mengeluh karena air pam tak lagi mengalir. Adalah petaka bagi yang tidak memiliki air dari sumur resapan. Untunglah, keramahan masih dimiliki oleh negara yang kaya sumber daya alam ini, sehingga keluarga yang kesulitan bisa mendapatkan air dari tetangga mereka yang sedikit lebih beruntung.

Di salah satu sudut kota Ciamis, sedikit berbeda dengan keluarga lain, sebuah keluarga menantikan dua hal. Bukan hanya hujan, melainkan juga seorang anggota keluarga baru. Sudah delapan bulan semenjak sang ibu merasakan hal aneh dalam perutnya, sama seperti yang ia rasakan enam tahun yang lalu. Dalam sebuah kamar yang memiliki pintu ke ruang tamu, ia tertidur. Namun tidurnya tak lama karena rasa sakit di dalam perutnya kembali timbul. Yang pertama kalinya disebut saat itu adalah: “Bidan. Waktunya sudah tiba.”

Sambil menahan kantuk yang menyerang, Bu Ayi, bidan yang dipanggil, bersiap memulai tugasnya. Sudah lima belas tahun ia berpengalaman dalam menangani peristiwa kelahiran. Wajahnya yang keibuan seolah menggambarkan sifat kasih sayang tak pernah pudar dimilikinya. Dan memang benar, dengan ditambah senyum yang mengembang di wajahnya, tak terlihat sedikitpun rasa khawatir.

Hal itu membuat sang ayah lebih tenang. Saat anak pertamanya terbangun, ia menyerahkan sepenuhnya pada sanak saudaranya. Tugas mereka saat itu adalah bagaimana menjelaskan pada anak laki-lakinya untuk tidak memasuki kamar yang akan dijadikan sebagai tempat kelahiran itu. Ia merasa beruntung saat kala itu cukup banyak keluarganya yang sengaja datang dari jauh untuk mengiringi proses kelahiran anaknya.
Di ruang keluarga, salah satu sanak saudara bertanya pada sang anak pertama….

“Asyik, ya, mau punya adik…”

“Iya! Tapi, kok nggak boleh lihat pas lahirnya?” tanyanya polos, yang diikuti senyum oleh sanak saudara yang mendengarnya.

Sang ayah menjawab, “Aa akan tau jawabannya kalau sudah besar.”

Sang kakak yang sering dipanggil dengan sebutan ‘Aa’ itu hanya merengut.

Dalam hati kecilnya ia tak sabar untuk mengetahui jawaban yang belum ia dapatkan. Keinginannya semakin menjadi saat sang ayah melangkah masuk menuju kamar tempat Bu Ayi bertugas dan menutup pintunya rapat-rapat.

Suasana di dalam kamar cukup tegang, termasuk sang ibu. Dalam kamar berukuran empat kali empat meter itu, terlihat adik perempuannya dan dua orang ibu-ibu tetangga yang siaga untuk membantu. Salah seorang dari ibu itu memegang tangannya, untuk memberikan kepercayaan dan kekuatan agar proses kelahiran itu lebih mudah.

Kini sang ibu meringis kesakitan. Dalam sakitnya ia mencoba mengumpulkan memori-memori yang masih tersisa saat melahirkan anak pertamanya tujuh tahun yang lalu. Namun yang ada dalam kepalanya adalah rasa sakit yang menjalar dari dalam perutnya. Hal itu cukup untuk membuat sang ayah tergerak. Ia lalu meminta izin untuk menggantikan ibu yang sejak tadi memegang tangan istrinya.

Sang ayah duduk di samping istrinya. Ia menatapnya dengan tatapan yang lembut, penuh kedamaian. Senyumnya mengembang, bersiap untuk mengatakan sesuatu. Namun apa yang ia katakan bukanlah kata-kata ‘Sabar, ya, Ma…’ atau ‘Tenang, Ma, Papa di sini.’ Yang keluar dari bibirnya adalah sebuah perkataan yang tidak disangka oleh siapapun yang berada dalam kamar itu, termasuk istrinya, “Ma, tahu apa yang Papa lihat? Dia tersenyum bangga pada mamanya.” ucapnya sambil mengelus badan yang berisi makhluk itu dengan tangan yang satunya.

Walaupun tahu perkataan itu hanya sebuah hiburan, tapi memberikan sebuah semangat yang begitu besar bagi sang ibu. Suaminya meneruskan, “Anak kita tersenyum karena bangga mamanya akan memberikan yang terbaik bagi kelahirannya… Ia juga tersenyum untuk menanti senyuman balasan dari mamanya. Soalnya Papa yakin, anak kita ini nantinya akan jadi seseorang yang mengubah peradaban. Dalam benak Papa, Si Adik sama Aa, adalah anak-anak tersholeh yang akan lahir ke dunia, yang akan membahagiakan orangtuanya. Rugi sekali Papa kalau nggak memberi yang terbaik untuknya dan Si Aa. Dan Papa yakin, Mama pun akan berbuat yang terbaik, kan?”

Setelah mendengar hal itu, semua yang ada di dalam kamar merasakan ketenangan yang amat dalam. Tanpa membuang waktu, Bu Ayi langsung membimbing sang ibu. Setelah melalui proses yang tidak begitu sulit, lahirlah bayi perempuan yang tampak sehat. Ia menyambut dunia dengan tangisnya, sementara kedua orangtuanya menerimanya dengan senyum.
Sang ibu bertanya pada suaminya, “Nama yang kemarin kita perbincangkan dengan Ustadz jadi?”

“Ya. Aisyah adalah nama terbaik untuk anak kita yang satu ini….”
Lima tahun setelahnya, Aisyah tumbuh menjadi balita yang cerdas. Ia selalu bertanya saat ada sesuatu yang mengusik hatinya. Walaupun begitu, ia hanya masuk taman kanak-kanak selama satu tahun saja.

Kecerdasannya tak berkurang saat ia masuk SD. Di caturwulan pertamanya ia berhasil meraih ranking satu di kelasnya.

Pada siang hari di tengah musim hujan, tak lama setelah Aisyah mengikuti ujian akhir tahun, untuk yang pertama kalinya ia begitu menginginkan sebuah boneka Barbie bergaun merah muda. Namun karena orangtuanya belum bersedia membelikan, Aisyah kecewa. Setelah beradu mulut dengan orangtuanya, ia pergi ke luar rumah tanpa arah.

Aisyah berjalan mengikuti jalan kecil yang biasa dilewati motor dan sepeda. Kadang mobil juga lewat. Namun karena jalanannya belum diaspal, biasanya pengendara mobil lebih memilih berputar ke jalan lain.

Lelah dan letih membuatnya berhenti di sebuah warung yang sekaligus juga sebagai tempat tambal ban. Aisyah membeli sebuah minuman kemasan untuk mengurangi rasa haus yang ia rasakan. Ya, Ia memang mempersiapkan ‘perjalanannya’ dengan membawa dompet kecil berisikan kepingan uang yang biasa ditabungkan di dalamnya.

Ia meminta izin kepada penjaga warung, wanita separuh baya, untuk beristirahat sejenak.

“Mau kemana, Dik?” Tanya ibu penjaga warung itu.

“Mm… Ke… rumah temen! Ya, ke rumah temen!” sahut Aisyah dengan sedikit terbata-bata. Setidaknya itulah jawaban yang paling masuk akal yang bisa ia ucapkan. Sebetulnya ia tak terbiasa berbohong. Ia melakukan itu karena tak ingin ibu penjaga warung ini ‘mengembalikannya’ ke rumah.

Aisyah melangkah menuju kursi bambu yang ada di sana dan duduk di atasnya. Ia membuka minuman kemasan yang baru saja dibelinya, lalu meminumnya. Pada tegukan pertama ia memperhatikan lingkungan tempat ia berada. Pada tiga tegukan berikutnya ia sudah bisa menggambarkannya jika diminta.

Warung yang ia tempati sekarang, termasuk kompresor tambal ban dan kursi bambunya, berada di sebuah lingkungan tempat tinggal yang tidak terlalu padat. Sejauh mata memandang ke dua arah hanya ada tak kurang dari sepuluh rumah. Semua rumah yang dilihatnya adalah rumah dari batubata yang cukup sederhana. Tak ada pagar pembatas apalagi halaman yang luas.

Kesederhanaan tampak karena lingkungan tempat mereka tinggal memang bukanlah lingkungan yang mewah.

Aisyah menghela nafas. Ada satu rumah yang mengusik hatiya. Rumah itu tak berbeda jauh dengan rumah-rumah yang lain, terletak di seberang jalan kecil, hanya berbeda dua rumah dari rumah yang berhadapan dengan warung. Yang membedakannya adalah rumah yang satu ini memiliki sebuah ayunan dari ban bekas yang terikat pada pohon rambutan di halamannya, serta cat dindingnya yang berwarna merah muda.

Warna itu mengingatkannya pada boneka Barbie yang tidak bisa ia dapatkan dari orangtuanya. Walaupun salah satu sisi dalam hatinya mengatakan kalau apa yang ia lakukan adalah tidak benar, namun sisi hatinya yang lain berkata bahwa ‘pergi sejenak ke luar rumah’ adalah jawaban yang bisa membuat ayah dan ibunya luluh.

Teriakan dari jauh menghentikan lamunannya. Ia menatap ke jalan, ke arah di mana suara itu muncul. Arah suara itu tak lain adalah arah jalan menuju rumah Aisyah. Aisyah sendiri tak melihat apapun hingga tiga sepeda yang ditumpangi anak-anak seusianya melewati jalan di depannya dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Ketiga anak dalam tiga sepeda yang berbeda itu memacu sepedanya dengan tersenyum. Salah seorang di antaranya berkata, “Urang nu bakal meunang! Saya yang akan menang!” sementara salah satu yang lainnya membalas, “Sorry, ya!”

Ketiga sepeda itu menghilang secepat mereka muncul. Suasana ketenangan yang sebelumnya ada kembali hadir di lingkungan dekat warung itu. Tapi hanya sementara, karena tak lama setelahnya, di arah yang sama tempat tiga sepeda tadi muncul, terdengar suara ban pecah.

Satu menit kemudian, seorang anak lain yang usianya tak jauh berbeda dengan usia Aisyah datang menuntun sepeda miliknya. Hanya dalam hitungan detik, sepeda itu telah sampai ke warung yang ditempati Aisyah.
Anak laki-laki itu berambut keriting dan berkulit putih, sambil menenteng tak kecil di pinggangnya. Kini ia langsung mencari pemilik warung.

Walaupun sempat melirik ke arah Aisyah, namun tak begitu dipedulikan olehnya. Karena saat ini yang ada di kepalanya adalah bagaimana agar ban sepedanya cepat kembali seperti semula.

“Punten! Permisi!” tanyanya.

Setelah ibu penjaga warung datang, anak laki-laki tadi berkata, “Mau tambal ban, bu!”

“Oh, tunggu, ya! Si Bapaknya lagi ke rumah Pak RT. Ibu nyusul ke sana dulu. Dekat, kok. Tuh, yang berwarna biru!” Ucapnya sambil menunjuk sebuah rumah berwarna biru yang berada di ujung jalan. Ia lalu bertanya untuk memastikan, “Nggak apa-apa?”

Anak laki-laki itu berkata singkat, “Nggak apa-apa.” Ia tahu jawabannya membawa konsekuensi pada waktu yang harus ia habiskan lebih banyak untuk menunggu suami dari ibu separuh baya tadi datang. Ia hanya berusaha ikhlas walau permainan adu cepat dengan teman-temannya tak mungkin ia menangkan.

Aisyah melihat ibu separuh baya itu pergi dengan tergopoh gopoh. Kini ia hanya berdua dengan anak laki-laki yang seumuran, yang tak dikenalnya.

“Anu…” kata Aisyah, “Sepedanya bocor, ya?”

“Hm?” tanyanya sambil menoleh, “Iya, tadi ban belakangnya kena paku. Kamu… anaknya ibu yang punya warung ini?”

“Oh, bukan! Kebetulan lewat dan capek, jadinya beli minuman.”

“Memangnya mau ke mana?”

“Sebenarnya nggak tau. Mungkin cuma kabur gara-gara nggak dibeliin bar…”

Perkataan Aisyah terhenti sebelum mengucap kata ‘barbie’. Ia baru sadar kalau ia sudah berkata terlalu jauh kepada orang yang bahkan belum dikenalnya.

Anak laki-laki itu mengerutkan dahi meminta kejelasan kalimat yang belum selesai tadi, tapi ia tak pernah mendapatkannya karena anak perempuan di hadapannya memalingkan wajah.

Saat itu ibu penjaga warung tadi datang dengan suaminya sambil menjelaskan pada anak laki-laki itu kalau ia tak bisa mengurus ban.
Setelah urusan ban selesai, anak itu pamit untuk melanjutkan perjalanannya. Ia melihat ban belakang dan memegangnya. Setelah memastikan tak ada lagi masalah pada hal itu, ia tersenyum dan menaiki sepedanya hingga senyumnya terhenti karena ada seseorang yang bertanya, “Bolehkah aku ikut?”

Orang yang bertanya tersebut adalah anak perempuan yang saat ini duduk di atas kursi bambu. Ia melanjutkan, “Kau mau pergi ke arah sana, kan?”

“Iya, sih, tapi…”

“Sudahlah. Ya?”

Untuk menghindari perdebatan yang akan menyita waktunya lebih lama lagi, anak laki-laki itu akhirnya mengiyakan. Ia memperbolehkan anak perempuan yang belum begitu dikenalnya itu menduduki kursi penumpang di jok belakang.

Di perjalanan, ia bertanya, “Kau ingin kuturunkan di mana?”

“Di tempat tujuan kamu dan teman-temanmu untuk mengakhiri perjalanan sepeda kalian.”

Jawaban Aisyah membuatnya kaget karena ia sama sekali belum menyinggung tentang teman-temannya. Namun kekagetan itu sedikit hilang dengan penjelasan Aisyah dengan analisisnya. Setelah pertanyaan itu, tak ada lagi percakapan lain yang muncul karena Aisyah lebih memilih untuk bertanya pada dirinya sendiri, Kenapa aku malah ikut dengan anak laki-laki ini? Apalagi ke daerah yang jauh dari rumah? Bagaimana kalau ia nggak mengantarkanku pulang? Bagaimana kalau ia dan teman-temannya itu punya niat jahat? Begitu pula dengan anak laki-laki yang kini juga lebih memilih memikirkan berbagai pertanyaan yang muncul dari dalam benaknya, Aduh, kenapa aku malah mengiyakan? Bagaimana kalau nanti ditertawakan teman-teman?

Desir angin dan gesekan ban yang berhenti menghentikan pikiran-pikiran dalam benak mereka.

Aisyah bertanya, “Kenapa berhenti?”

“Anu… Di pertigaan ini belok kanan atau kiri, ya…?”

“Jangan bilang kamu lupa jalannya.”

“Sepertinya begitu. Ini baru kedua kalinya aku ke sini. Padahal pertigaannya begitu banyak. Yang kuingat –dan sudah kita lewati tadi- adalah kanan, kiri, lalu… kiri kalau tidak salah, terus kanan, lalu… lupa. Padahal kalau saja bersama salah satu temanku, nggak mungkin tersesat.”

“Kalau gitu, mungkin belok kanan. Mau ke puncak Gunung Galuh, kan?”

Setelah anak laki-laki itu bertanya bagaimana Aisyah bisa tahu, yang ditanya menjawab singkat, “Arah yang bertolak belakang dengan rumahku, yang katanya sering dipakai anak-anak bermain ya Gunung Galuh ini.”

Sebetulnya lebih tepat jika dipanggil dengan sebutan Bukit Galuh, bukan Gunung. Karena tingginya tak lebih dari lima ratus meter dari permukaan tanah.

“Oh… Sebenarnya aku juga berpikir untuk belok kanan. Tapi karena aku membawamu, terlalu riskan mengambil risiko.” Kata anak laki-laki itu.
Aisyah menyarankan untuk bertanya pada orang yang ada di sana. Tapi saat mereka menoleh ke segala arah, tak ada siapapun di sana kecuali jalan, pepohonan, dan semak belukar.

Akhirnya mereka memilih untuk belok kanan. Namun tak berapa lama setelah mengambil arah itu, anak laki-laki menyadari kalau awan hitam muncul. Yang ia takutkan saat itu adalah hujan muncul, padahal di sana tak ada tempat untuk berteduh. Dengan perasaan khawatir, ia bertanya, “Bagaimana, nih? Sepertinya hujan akan turun. Tetap naik atau berbalik?”

Aisyah terdiam. Ia lalu menjawab, “Pilihlah jalan yang kamu percayakan.”

Seolah baru mendengar kalimat bijak yang pertama kali di dengarnya, anak laki-laki itu menghentikan sepedanya. Ia menunduk dan menghela nafas. Hal yang ia lakukan saat itu adalah memutar sepedanya kembali ke arah mereka muncul.

Mereka tiba di pertigaan pertama, lalu berbelok ke arah kiri. Saat itu rintik-rintik hujan mulai turun. Dengan agak panik, anak-laki-laki itu memacu sepedanya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Mereka tiba di pertigaan kedua dan berbelok ke kanan. Saat itu tetesan-tetesan air hujan sudah begitu kejam menusuk punggung mereka, menghadirkan dingin yang amat sangat, apalagi dibalut dengan angin yang berhembus seiring dengan semakin cepatnya sepeda itu berjalan. Tapi saat tiba di pertigaan ketiga, anak laki-laki itu menghentikan sepedanya. Dengan setengah berteriak melawan suara angin yang kencang ia bertanya, “Hei! Apa kau ingat dari sini ke arah mana!?”

Aisyah berteriak sambil menahan dingin yang ia rasakan, “Sejak tadi aku tak pernah memperhatikan jalan!!”

Anak laki-laki itu memutuskan untuk belok kiri. Setelah beberapa saat tak menemukan pertigaan yang lainnya, mereka menemukan sebuah warung kecil kosong yang layak mereka jadikan tempat berteduh.

Dengan nafas tak teratur, mereka berlari untuk berteduh di sana. Anak laki-laki itu mempersilakan Aisyah duduk di tempat duduk yang terbuat dari bambu, di sebelah dalam. Sementara ia lebih memilih untuk duduk di dekat pintu masuk.

Tak berapa lama ia meminta maaf pada Aisyah. Ia mengaku kalau dirinya tak begitu pandai dalam mengingat jalan. Ia begitu menyalahkan dirinya yang mengiyakan saat Aisyah meminta ikut. Tapi permintaan maaf itu segera dibalas dengan permintaan maaf lain dari Aisyah dengan gigi bergemeletuk, “Harusnya… Harusnya aku yang minta maaf. Gara-gara aku, kamu… kamu malah… nggak jadi bermain bareng teman-temanmu…”

Anak laki-laki yang memeluk dirinya sendiri untuk menghangatkan badan itu melihat Aisyah begitu pucat. Ia teringat akan baju ganti yang ia bawa di dalam tasnya. Segera dibukanya resleting tas pinggangnya untuk mengeluarkan sebuah kemeja yang agak basah.

Ia menawarkan baju itu, “Hei, Kau! Buka bajumu!”

“HAH!?” Tanya Aisyah kaget.

“Maksudku, ganti dengan baju ini!”

“Nggak! Lagipula…” Ia menghela nafasnya yang tidak teratur, “lagipula itu kan punyamu!”

“Dengar, jangan mentang-mentang kau suka warna pink dan baju ini berwarna hitam kau nggak mau memakainya!”

“Bagaimana kau tahu aku suka warna pink?”

“Apa yang disukai anak perempuan berkaos pink, bersandal pink, dan berjam tangan pink selain warna pink? Dengar, di kondisi seperti ini, kita nggak punya orang tua yang diandalkan, kita nggak tau arah dan terjebak hujan, aku nggak mau ada perdebatan. Segera ganti atau kau akan sakit.”

“Kau sendiri?” Tanya Aisyah sedikit khawatir.

Anak laki-laki itu melemparkan kemeja miliknya pada Aisyah lalu berbalik ke belakang. “Aku tak akan mengintip. Kalau sudah selesai, bilang.”

Tak lama kemudian Aisyah memberi isyarat tanda kalau proses ganti bajunya sudah selesai. Anak laki-laki itu lalu meminta Aisyah untuk memeriksa suhu tubuhnya. Setelah mengetahui kalau tubuh anak perempuan di sampingnya itu sedikit lebih panas dari biasanya, ia memintanya untuk menunggu. Sebelum Aisyah bertanya alasannya, ia sudah terlanjur pergi.

Aisyah kini sendiri, ketakutan. Ia manatap keadaan di luar warung kosong –yang boleh dibilang gubuk- yang kini mulai gelap. Air hujan turun begitu deras. Saking kencangnya angin yang berhembus membuatnya turun dengan kemiringan hampir 45 derajat. Ia amat berharap anak laki-laki itu segera kembali, sehingga tak membuatnya sendiri.

Sebuah cahaya tampak di atas langit dan menghilang dengan cepat diikuti petir yang menggelegar. Tetesan air yang begitu besar membuat atap warung yang ditempati Aisyah benar-benar mengkhawatirkan. Beberapa ranting pepohonan berjatuhan, bahkan salah satunya jatuh tepat di depan pintu masuk warung itu yang tak berpintu itu.

Dalam kondisi setengah ketakutan itu Aisyah merasa kalau dirinya kini agak demam. Ia semakin mendekapkan kedua tangannya melingkari kedua kaki yang ia naikkan ke atas kursi bambu. Punggungnya yang sejak tadi menempel seolah sudah tak kuat lagi berdiri tegak. Dalam kecemasannya itu ia teringat ibunya. Aisyah bergumam, “…Ma…”. Ia membayangkan kalau ibunya kini mungkin khawatir menunggunya. Ia juga teringat ayahnya yang mungkin kecewa karena ia malah pergi hanya gara-gara tak dibelikan boneka Barbie yang diinginkannya.

Saat itu ia teringat kalau ayahnya pernah berkata, “… Di manapun kita berada, Allah selalu bersama kita….” Hal selanjutnya yang ia lakukan adalah berdoa dengan lidahnya yang mulai kelu, dengan bibirnya yang mulai membiru… “Ya Allah… izinkan Syah kembali ke Papa dan Mama… Syah janji nggak akan ngambek ke mereka lagi…”

Dalam harapan pada sang pencipta itu, Aisyah melihat dari jauh kalau anak laki-laki tadi sudah kembali dengan tangan yang digenggamnya rapat-rapat. Setelah masuk ke dalam warung dengan nafas yang terengah-engah, ia membuka genggaman tangannya dan menunjukkan segenggam buah kersen. Ia lalu berkata sambil menyerahkan isi genggaman tangannya pada Aisyah, “Sebelumnya aku berharap menumukan pohon belimbing atau jambu. Tapi yang bisa kutemukan tak jauh dari sini hanyalah ini. Makanlah….”

Aisyah menerimanya, namun kembali menawarkan. Anak laki-laki itu hanya mengambil sedikit. “Sebetulnya bukan buah kersennya yang penting, melainkan bagaimana cara agar perutmu nggak kosong. Soalnya saat ada bagian tubuh kita yang masih kerja, biasanya secara otomatis tubuh kita bakal ikut aktif, termasuk memperlambat penyebaran penyakit.”

“Tapi…” tanya Aisyah.
Anak laki-laki itu memotong pertanyaannya. “Lupakan. Aku terbiasa

bermain bola saat hujan, kok. Memang, sih, kalau tak beruntung bakal sakit. Dan itu sering. Tapi Alhamdulillah lebih sering nggak sakit. Semoga yang ini juga nggak. “

“Bukan itu… Bagaimana kau bisa tahu tentang biar perut nggak kosong?”

“Oh…” jawabnya malu, “Ayahku yang mengajarkan. Dan aku senang menerimanya. Bagiku, beliau adalah ayah terhebat. Walaupun kadang aneh.”

“Aneh?”

“Kau tahu apa pernah ia ajarkan? Ayahku pernah memberitahu daun-daun apa saja yang bisa dimakan, jamur-jamur mana yang beracun, bahkan sampai bagaimana caranya memakan tanah saat tak ada apapun yang lain untuk dimakan.”

Aisyah kaget sampai anak laki-laki itu melanjutkan, “Semua itu diajarkannya agar aku bisa berhi… berhijid..? Berhijad? Aduh, aku lupa namanya apa. Pokoknya semacam berjuang agar kita bisa mendapat berbagai kenikmatan!”
Bunyi petir terdengar berbarengan dengan berakhirnya kalimat yang diucapkan anak laki-laki itu.

Dengan seluruh badan yang basah kuyup, ia melangkah menuju tempat duduknya seraya melanjutkan, “Yang dikatakan padaku beda dengan yang dikatakan pada adikku. Ia pernah berkata pada adikku satu-satunya itu saat kami sekeluarga sedang bermain di halaman rumah, -dia perempuan, tahun ini mau masuk TK-, katanya, Ade kalau udah gede bakal lebih cantik kalau pakai kerudung kayak Mama… Soalnya rambut perempuan itu akan lebih indah kalau dijaga dengan kerudung, sebab kalau terus-terusan dibuka, keindahannya lama-lama bakal hilang… Padahal apa yang dibilang ayahku beda sama apa yang dibilang guruku di sekolah agama. Guruku bilang….”
Aisyah masih menatap ke anak laki-laki itu yang masih memberikan penjelasan. Namun yang ada dipikirannya adalah fakta bahwa saat ini ia belum memakai kerudung. Padahal beberapa teman di kelasnya sudah memakainya.

Setelah anak laki-laki itu menyelesaikan penjelasannya, Aisyah tersenyum.

Hampir berbarengan dengan bunyi petir yang berbunyi cukup lama setelah kilatan cahayanya terlihat. Hampir berbarengan dengan berkurangnya keinginan sang awan untuk menumpahkan beban air yang ditampungnya. Juga hampir berbarengan dengan matahari yang muncul dari persembunyiannya di arah barat.

Perbincangan itu tak hanya melupakan demam kecil yang Aisyah rasakan, tapi juga memberikan sebuah inspirasi baru untuk Aisyah. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk memulai memakai kerudung esok hari, tentu jika kondisinya baik untuk sekolah, walapun hanya tinggal menunggu pembagian raport Sabtu ini.

Hujan berangin kencang itu menghilang secepat ia muncul. Anak laki-laki itu meminta waktu agar pakaiannya sedikit lebih kering. Ia tak mau ambil risiko masuk angin karena besok masih harus sekolah. Di sela menunggu, anak laki-laki itu masih asyik menceritakan bagaimana keluarganya. Ceritanya berhenti setelah ia merasa siap untuk mengantar Aisyah pulang. Namun karena ia lupa jalan pulang, mereka terpaksa menunggu ada orang yang lewat sambil bercerita satu sama lain.

Matahari yang hampir tenggelam menyimpulkan cerita Aisyah yang mengaku kalau dirinya agak manja, sehingga apapun yang ia inginkan harus selalu terpenuhi. Anak laki-laki itu turut menyimpulkan bahwa untuk seorang anak bungsu, sifat manja adalah hal yang wajar selama tak berlebihan.

Malam yang hampir menjelang mengakhiri cerita anak laki-laki yang bercerita tentang kunjungan ke Gunung Galuh yang akan sering ia lakukan tiap dua minggu sekali. Aisyah ikut mengakhirnya saat ia mengatakan tertarik untuk ikut bermain ke sana bersama anak laki-laki itu.

Seorang bapak-bapak, dengan sepeda kumbangnya, melewati warung tempat mereka berteduh. Dari dia lah Aisyah dan anak laki-laki itu mengetahui jalan pulang.

Ketika sampai di depan rumah, anak laki-laki itu menolak untuk masuk karena hari sudah terlanjur malam. Ia takut orangtuanya khawatir. Sebelum berpisah, anak laki-laki itu meminta Aisyah untuk menyampaikan permohonan maaf kepada orangtuanya akibat membawa anak perempuan mereka bersepeda di tengah hujan.
Setelah mengatakan, “Kamu nggak salah, kok”, Aisyah meminta anak laki-laki itu datang ke tempat warung bertambal ban tempat mereka bertemu. Ia ingin mengembalikan kemeja yang saat ini dipakainya di sana.

Setelah anak laki-laki itu berkata bahwa hari minggu adalah waktunya, Aisyah mempersilakannya pulang.

Aisyah mengetuk pintu dengan perasaan senang. Bukan hanya karena demamnya yang hilang, melainkan juga karena hari itu ia telah bertemu dengan… Oh, ia baru sadar kalau sejak tadi mereka belum bertukar nama. Saat Aisyah memalingkan muka kea rah di mana anak laki-laki itu menurunkannya, ia mendapatinya telah menghilang. Dalam hantinya ia berkata, Akan kutanyakan namanya minggu depan.

Saat pintu rumah dibukakan, ia begitu bersemangat masuk tak sabar untuk menceritakan pengalamannya bersama anak laki-laki yang baru saja dikenalnya itu. Tapi ia merasa waktunya tidak tepat karena begitu masuk, ia langsung disambut dengan kekhawatiran dari kedua orangtuanya.
Ibunya memeluknya, “Dari mana saja? Mama khawatir!”

“Tadi Syah dari….” Perkataannya terpotong saat pelukan itu dilepaskan Ibunya.

“Syah,” kata suara bijak yang dikenalnya, suara ayahnya, “Kamu nggak perlu kabur. Bukankah papa tadi pagi bilang kalau papa belum bisa memberikannya?”

Ayahnya memeluk Aisyah dengan begitu hangat. Ia lalu melanjutkan, “Insya Allah boneka barbie berbaju pink itu akan papa berikan Sabtu nanti, bertepatan dengan saat kita pindah rumah.”

***

Aisyah masih mengenang momen itu, saat di mana untuk yang pertama kalinya ia begitu mengagumi seseorang. Ia memang tak pernah tahu, bahwa sehari setelah ia dan keluarganya pindah rumah, anak laki-laki itu datang ke warung bertambal ban.

Anak laki-laki itu menerima kemeja miliknya –yang dititipkan- dari ibu penjaga warung. Tapi tak pernah bisa memberikan sebuah benda yang ingin ia berikan sebagai permintaan maaf, sebuah boneka Barbie berbaju merah muda, karena anak perempuan yang ingin ditemuinya telah pindah.

***

Untuk pertama kalinya sejak ia mengagumi sosok anak laki-laki yang belum ia ketahui namanya itu, ia kembali kagum. Di sekolahnya kali ini, SMP N 1 Ciamis, ia bertemu dengan anak laki-laki yang cerdas, mudah bersosialisasi, berjiwa pemimpin, dan pandai dalam berbagai hal.

Anak laki-laki itu baru saja meraih ranking pertama parallel di sekolahnya, di akhir tahun, ia juga terpilih sebagai wakil ketua MPK, memiliki banyak teman yang dikenal dan mengenalnya, pernah juara pidato, baik bahasa Indonesia maupun Inggris, juara matematika, dan banyak lagi. Satu lagi yang membuatnya kagum adalah anak laki-laki itu selalu shalat dzuhur di mesjid sekolah walaupun tidak sedang dalam masa istirahat. Nama anak laki-laki itu adalah Amar.

Sejak kelas satu, mereka adalah saingan. Dalam tiga catur wulan, Aisyah selalu berhasil mengalahkan Amar. Namun di semester kali ini giliran Amar lah yang mengalahkannya. Anehnya ia justru malah lebih menyukai posisinya sebagai ranking kedua.

Saat Amar mendapat raport yang berisi nilai terbaik di kelas, Aisyah menjadi orang pertama yang menyalaminya dan memberikan ucapan selamat.
Saat diberi kabar kalau dia akan ikut lomba cerdas cermat dan satu tim dengan Amar –dan aku-, dialah yang pertama kali meminta kami –lebih tepatnya Amar- untuk belajar bersama menghadapi perlombaan itu.

Saat ada tes dari sekolah untuk menyaring masing-masing seorang siswa laki-laki dan perempuan untuk mengikuti perlombaan siswa teladan, Aisyah dengan semangat mengikutinya, karena ia yakin Amarlah yang akan mewakili sekolahnya dari siswa laki-laki. Namun semangat itu harus ia akhiri dengan kekecewaan sebagai peringkat kedua , setelah dikalahkan siswa perempuan dari kelas lain. Kekecewaan itu begitu besar, hingga membuatnya mengambil satu kesimpulan kalau ia tak hanya mengagumi Amar, melainkan lebih. Boleh dikatakan menyukai.

Rasa suka itu ia pendam dalam-dalam dengan kata. Aisyah hanya berharap Amar mengetahui perasaannya dengan tingkah laku yang ia tunjukkan. Namun seiring waktu berjalan hingga mereka menjadi siswa akhir tahun tak juga membuat Amar mengerti di matanya.

Hingga pada suatu hari rasa suka itu menjadi kecewa saat tahu kalau Amar dikabarkan dekat dengan pelajar dari sekolah yang berbeda. Rasa kecewa itu yang membuatnya ingin melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Amar. Saat Amar dikabarkan berpacaran dengan pelajar itu, Aisyah pun berpacaran dengan siswa lain yang masih satu sekolah dengannya, karena kebetulan siswa tersebut mengajaknya menjadi pacarnya.

Kekecewaan itu kini memuncak. Ia sudah sering berbicara dengan teman-teman terdekat Amar. Ia juga lebih sering mengajak Amar shalat dzuhur saat Amar mulai lebih memilih memprioritaskan belajar untuk persiapan UAN daripada shalat. Tapi apa yang ia lakukan nihil. Apa yang selama ini ia lakukan tak menghasilkan apapun.

Aisyah begitu ingin menumpahkan air yang sudah memenuhi kelenjar di matanya itu. Ia tak tahan. Akhirnya ia memutuskan untuk mengaku pada orang yang disukainya itu. Ia menghampiri Amar yang sedang duduk sendiri di mejanya. Ia meminta Amar menyiapkan selembar kertas, dan menuliskan segala yang ia pikir perlu dituliskannya, termasuk satu kalimat yang baru saja ia tulis, “Aku capek… Kenapa, sih, kau nggak menyadarinya?”

Dalam kekecewaan yang berujung kesedihan itu Aisyah merenung dalam hatinya. Hanya diam yang bisa sedikit tenangkan hatinya sambil mengenang ingatan menyebalkan tentang kenangannya bersama dua orang yang ia kagumi selama hidupnya, yang tak pernah memberikan akhir bahagia untuknya.

Tanpa ia sadari, air mata sudah mengalir di pelupuk wajah Aisyah.

Kenapa? Tanyanya.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-language:JA;} p.MsoNoSpacing, li.MsoNoSpacing, div.MsoNoSpacing {mso-style-priority:1; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-language:JA;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

CHAPTER 3

Butir-Butir Waktu

Kenapa?

Pertanyaan itu muncul pula di benak Amar. Ia menyesal saat ada kabar yang mengatakan kalau Aisyah menyukainya (saat kelas dua) tak ia tanggapi dengan serius. Kalau saja ia tahu akhirnya akan seperti ini, ia tak akan membiarkannya begitu saja.

Amar tahu ia punya alasan untuk itu. Setidaknya, ia tak ingin Aisyah masuk ke dalam permainan ‘dari-gosip-menjadi-nyata’ buatannya. Walaupun begitu, air mata yang Aisyah tunjukkan padanya membuatnya bingung. Sangat bingung.

Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus mengakui perasaanku yang sebenarnya padanya? Jangan! Jangan! Di saat seperti ini pengakuanku hanya akan dilihat sebagai kata-kata hiburan belaka. Lagipula aku tak mungkin memberitahukan ‘permainan itu’ padanya.

Tunggu!

Amar berhenti sejenak, teringat akan suatu hal yang mungkin ada kaitannya dengan semua yang ia hadapi.

Permainan… Ya, mungkin aku terkena kutukan permainan itu!

Amar masih menunduk dalam pemikiran tentang apa yang harus dilakukannya. Ia tetap menunduk saat Aisyah menghapus pipinya yang basah dan beranjak pergi.

“Sebentar! Tolong duduk lagi…” harapnya sambil menunduk.

Aisyah menghentikan langkahnya. Ia pun kembali duduk dengan sebuah tanya.

Amar mulai mengarahkan padangan pada wajah Aisyah, pandangan yang terlihat kelu. Ia mencoba memberikan semangat dalam senyumnya. Dalam harap agar Aisyah mengerti, terbayang di pikiran Amar sebuah lirik dari lagu Let Love Lead the Way-nya Spice Girls.

You may feel weak, but you are strong. Don’t you give up, girl! If you keep holding on, you’ll never be wrong. Just close your eyes cause it lies deep in your heart…

Aisyah yang tak begitu pandai dalam bahasa inggris hanya terdiam. Ia berharap agar Amar menjelaskan untaian kata-kata yang baru saja diucapkannya.

Amar ingin menjelaskan. Tapi penjelasan itu hanya muncul dalam hatinya…

Tangisanmu memperlihatkan kelemahanmu… Tapi aku yakin kau bukanlah cewek yang lemah. Perasaanmu… Tolong jangan berubah… Saat kau yakin itu adalah yang terbaik, patrikan dalam hatimu… Pertahankan… Karena suatu saat nanti, perasaan itu mungkin akan mendatangkan keajaiban padamu… Aku hanya bisa berharap bisa menjadi keajaiban itu….

Karena kejelasan yang ia harapkan tak kunjung datang, Aisyah berbalik dan meninggalkan meja tempat Amar berada.

Amar sebetulnya tak kuasa untuk menyimpan kebingungan-kebingungan yang ada dalam hatinya. Ia ingin menceritakan semua yang mengganjal pada waktu yang tepat.Dan hal itu baru terlaksana menjelang akhir tahun pelajaran berakhir, saat semua siswa kelas tiga sedang fokus menghadapi ujian nasional yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Ia menceritakan segala unek-uneknya pada Yoga dan aku.

“Dasar bodoh!” sahut Yoga setelah mendengar semuanya. Perkataan itu membuat tatapan wajah Amar mengarah padanya.

Ia melanjutkan dengan suara yang lebih halus, “Maksudku, kamu mungkin bodoh, Mar, dengan melewatkan dia hanya demi kepuasan permainanmu itu. Tapi, aku lebih bodoh lagi… Kamu masih ingat waktu awal kelas tiga dulu? Saat aku bertanya, ‘Apa Aisyah mengatakan sesuatu padamu?’”

Selagi Amar mencoba mengingat-ingat, Yoga menyelesaikan untaian kalimatnya, “Kamu mungkin sudah lupa. Tapi yang jelas, hal itu terjadi bertepatan dengan mulai munculnya gosip-gosip yang beredar tentangmu. Secara nggak sengaja Aisyah menceritakan ‘sesuatu’ padaku. Setelah itu kita ngobrol. Dan setelah ngobrol, ia tiba-tiba mendatangiku sambil bertanya, ‘Kamu bilang apa sama Amar?’ Karena aku nggak merasa bilang apapun, aku menjawab, ‘nggak bilang apa-apa’. Eh, setelah itu dia malah mencengkeram kerah bajuku! Katanya, ‘Awas kalau bohong!’”

Aku memuji Yoga –setengah bercanda- yang masih ingat rangkaian adegannya dengan detail.

“Mana mungkin aku lupa! Baru pertama seumur-umur kerah bajuku ditarik cewek! Diancam, lagi! Kamu tahu, Mar?” ia menatap Amar yang memang menanti lanjutan ceritanya, “Apa yang dia nggak mau aku ceritakan itu adalah apa yang dia ceritakan nggak sengaja sebelumnya. Dan kamu tahu apa yang dia ceritakan?” Yoga menunggu isyarat dari Amar.

Setelah Amar menggelengkan kepalanya, Yoga berkata pelan, ”Dia suka padamu, Mar.”

Angin sepoi-sepoi sempat berhembus membelai dedaunan pohon-pohon kayu yang dilewatinya, dan menyentuh dengan lembut ketiga orang yang saat ini duduk di depan mereka.

Yoga melanjutkan, “Maaf, ya… Seandainya aku lebih pintar untuk memilih menceritakan padamu waktu itu. Akhirnya mungkin nggak bakal kayak gini.”

Amar tersenyum simpul. Ia tak ingin menyalahkan Yoga. Ia lebih ingin menyalahkan dirinya yang telah membuat seseorang yang disukainya menangis. Rasa menyalahkan itu berujung pada satu penyesalan yang amat menohok hatinya. Walau begitu, pada akhirnya Amar harus mengakui kalau penyesalan apapun tak akan ada gunanya.

Aku mengiyakan dan mengingatkan kalau yang lebih penting untuk dipikirkan dalam dua minggu ini adalah mempersiapkan ujian. Selain itu juga menyebutkan sebuah pertanyaan retoris, meyakinkan kalau semua itu bukanlah suatu kebetulan.

Detik membawa keheningan berlabuh di hadapan kami. Dalam kesunyian itu, masing-masing berpikir untuk mencari sebuah topik baru untuk bisa mencairkan suasana.

Justru Amar lah yang pertama kali menemukannya, “Raf, SMA jadinya tetap di Bandung, kan?”

Aku mengangguk, mencoba tersenyum dan akhirnya berhasil memberikan senyuman yang cukup untuk mengarahkan pembicaraan ke arah yang Amar minta.

“Syukurlah! Smoga kita bisa sama-sama lagi!” sahut Amar, “SMA 3, kan?”

Sahabatnya itu mengangguk yakin, sebelum menanyakan hal yang sama pada Yoga seperti pertanyaan Amar sebelumnya.

Yoga menjawab yakin, “STM, ah! Pengen langsung aplikatif. Biar langsung kerja.”

“Sip!” kata Amar tersenyum seolah tak pernah menceritakan masalah yang tadi diceritakannya, “Ntar kalau sudah dapat gaji, jangan lupa traktir! Pokoknya aku sama Araf bakal tunggu di Bandung! Jadi kalau bisa, kerjanya di Bandung aja!”

“Sip!”

Selama hampir dua minggu Amar berhasil melupakan permalasalahan yang sempat dialaminya. Dalam hari-harinya itu, ia diharapkan menjadi tulang punggung keberhasilan UAN kelas 3D, kelas di mana ia, Yoga, Aisyah, dan aku berada. Gelar runner-up siswa berprestasi membuatnya diharapkan mampu membantu teman-teman sekelasnya.

Hingga pada suatu pagi, tepat dua hari sebelum pelaksanaan ujian itu, Yoga mengajak Amar dan aku pergi ke suatu tempat yang ia rahasiakan. Syaratnya adalah dengan menggunakan sepeda. Aku, yang tidak memiliki sepeda seperti Amar, menolak. Namun setelah dikatakan kalau Yoga akan meminjamkan milik ayahnya, kami tersenyum.

Keesokan harinya, saat sekolah masih diliburkan dengan tujuan agar para siswa beristirahat, kami malah melakukan perjalanan yang Yoga agendakan. Perjalanan itu menempuh waktu sekitar satu jam sebelum akhirnya tiba di suatu tempat yang Yoga maksudkan, Gunung Galuh.

Di sebuah jalan setapak yang mengarah ke atas, Yoga, yang menjadi komandan arah, tiba-tiba membelokkan sepedanya menuju ke semak belukar. Sebelum kedua temannya bertanya, ia telah menjawab, “Aku tahu tempat yang asyik!”

Aku hanya bisa mengingatkan kalau besok ujian dan kami tak boleh mengalami hal-hal yang gila di sini.

Yoga tertawa, membuat Amar berkata setengah berbisik sambil menengok ke arahku, “Malah si Yoga yang gila.”

Aku, yang bersepeda di belakang mereka, tersenyum setengah tertawa. Hingga dalam beberapa menit, tawaku akhirnya berakhir setelah kami melihat sebuah lapangan rumput kecil yang miring sekitar dua puluh derajat dengan sungai yang airnya mengalir di sampingnya.

Lapangan itu tidak terlalu besar, hanya berukuran enam kali tiga meter. Di ujung timur lapangan itu terlihat cahaya mentari yang masih sepenggalan naik. Cahayanya tidak memilukan dan tidak pula menyilaukan. Cukup indah untuk dipandang dan berjemur di bawahnya. Sementara itu di sebelah utara, sungai kecil dengan air yang mengalir tampak. Walaupun ikan-ikan tak terlihat, bebatuan yang timbul memberikan semarak yang amat sangat. Di sekeliling sisi lain, pepohonan menjulang tinggi memberi kesempatan agar angin pagi tenangkan diri.

Tanpa ada yang menyuruh, Amar langsung menambatkan sepedanya di sebuah pohon dan beranjak menuju lapangan. Itu membuat Yoga berkata, “Gimana? Keren, kan?”

Amar tersenyum. Setelah memastikan kalau lapangan hijaunya cukup nyaman, ia berbaring memanfaatkan kemiringan lapangan itu yang menghadap ke arah matahari.

Setelah aku mengiyakan kalau pemandangan yang ada di sana cukup indah, Yoga tersenyum puas. Ia lalu mengajakku ke arah lapangan dan berbaring, sementara aku berjalan ke arahnya dan duduk, sambil terdiam mendengarkan ocehan burung yang berirama dengan indah.

Kami sejenak terdiam mensyukuri apa yang kami lihat, dengar, dan rasakan saat ini.

Sambil berbaring, Yoga berkata, “Sebelumnya aku pernah ke sini… Bahkan selagi kecil aku biasanya bermain bersama teman-teman kecilku. Besepeda dan bermain bola…”

Amar terhenyak, “Lho! Kok sama!? Aku juga dulu sering ke tempat ini? Bedanya, aku dan teman-temanku datang bukan untuk bermain bola, tapi untuk sekedar jalan-jalan menikmati pemandangan… Ya, seperti sekarang ini… Dulu kami…”

Amar bercerita tentang masa kecilnya, diikuti cerita Yoga tentang masa lalunya di Gunung Galuh ini. Hanya aku yang belum memiliki cap sejarah kehidupan yang lama di sini, karena ini adalah untuk yang pertama kalinya aku ke sini.

Saling tukar cerita itu berakhir saat mentari mulai memberikan panasnya. Selanjutnya kami berpetualang, tertawa, bercerita, dan begitu seterusnya hingga merasa kalau kami telah melalui hari dengan sempurna.

Ujian Akhir Nasional berlalu secepat angin berlalu. Yang ada hanya menyisakan kenangan saat aku dan Amar berada di ruangan yang sama, berusaha untuk membantu teman-teman lainnya yang kesulitan di tengah ujian. Sementara Yoga terpaksa harus meminta bantuan orang lain. Ia hanya bisa pasrah saat nilai ujian keluar, karena di ruangannya, orang-orang yang diharapkan memberi bantuan tidak bisa membantunya.

Kenangan tentang soal yang dibahas pada saat keluar pun masih terasa, terutama bagi Amar. Karena pada hari kedua, ia diminta Aisyah untuk membahasnya. Dengan sedikit canggung, Amar hanya menjawab seperlunya. Ia sangat berhati-hati dalam kata, tak ingin mengingatkan Aisyah tentang hal yang mungkin bisa membuatnya membencinya.

Hasil akhir keluar. Amar, yang sejak awal diprediksi bisa meraih predikat pertama, secara mengejutkan harus puas di peringkat ketiga, dibawah Hana, siswi yang dahulu mengalahkan Aisyah untuk menjadi perwakilan siswa berprestasi. Ia juga harus menerima kekalahannya dariku, sebagai runner-up.

Akibat peringkat tiga yang diterimanya itu, berkali-kali aku harus meminta maaf darinya. Dan berkali-kali pula ia tersenyum dan berkata, “Nggak, apa-apa… Artinya kamu lebih hebat, Raf!”

Untunglah, sahabatnya itu sedikit terbantu dengan keputusan dari sekolah. Setiap tahun, di SMPN 1 Ciamis, selalu ada prosesi pasangan terbaik pada acara perpisahan. Dan pada tahun ini yang terpilih adalah Amar dan Hana. Mereka terpilih karena telah membawa nama SMPN 1 Ciamis ke jenjang provinsi pada perlombaan Siswa Berprestasi.

Akhirnya hari perpisahan tiba. Aku dan Yoga menemani Amar melakukan persiapan sebelum tampil. Ia sedang duduk di salah satu meja guru di ruangan guru, menanti Hana yang saat ini belum tiba. Di sebelahnya ada Bu Elis, wali kelas kami.

“Gimana rasanya tampil?” Tanya Yoga.

“Grogi, tau… Lagian, harusnya si Araf, nih, yang tampil!”

Aku tersenyum sambil berkata dalam hati, Terus kalau aku tampil, aku bakal ngeliat kamu kecewa, gitu?

“Ah, si Araf kan sudah dapat juara dua UAN! Eh, iya, sudah tau Aisyah peringkat berapa?” Tanya Yoga tiba-tiba.

Kontan suasana mendadak berubah.

Saat Bu Elis hampir mengatakan peringkat UAN Aisyah, Yoga tersadar dan kontan berkata, “Ih, Bu, biar Amar aja yang nyari tau!”

Bu Elis yang belum mengerti adanya sesuatu antara Amar dan Aisyah hanya bisa berkata pada Yoga kalau memotong perkataan orang itu kurang baik. Ia menjadikan Yoga sebagai sasaran ceramahnya.

Apa yang dilakukan Bu Elis mungkin tampak membuat kesal. Tapi sebenarnya ia adalah wali kelas yang sangat perhatian. Kasih sayang yang selalu ia berikan pada murid-muridnya membuat Bu Elis bagaikan ibu kandung kami di sekolah.

Setidaknya Amar pernah merasakan kasih sayang yang diberikan Bu Elis saat nilainya turun tepat ketika ia mulai gencar digosipkan. Saat itu Amar merasa kesal dengan wali kelasnya itu karena berita tentang perjalanan gosipnya digembar-gemborkan ke guru lain.

Tapi kekesalannya perlahan menghilang seiring dengan bisikan sang waktu yang menyadarkan kalau yang dilakukan Bu Elis adalah sebagai bentuk kasih sayang karena tak ingin agar salah satu anak didik kebanggaanya itu hancur di bidang pelajaran karena memikirkan pacaran. Sang waktu pula lah yang membentuk rasa kasih sayang dan sikap hormat dalam diri Amar.

Sama seperti sekarang, ia begitu bangga menatap wajah Ibu wali kelasnya. Walaupun guratan di wajahnya terlihat letih, jiwa keibuannya amat terpancar. Termasuk saat ia berkata, “Mar, tuh, Hana udah datang. Ayo, siap-siap! Tinggal beberapa menit lagi prosesinya…”

Prosesi pasangan terbaik itu berlangsung megah. Lantunan musik khas Jawa Barat menghilangkan suara-suara lain yang ada di sekitarnya. Berbagai bunga, mulai dari mawar, melati, hingga anggrek, saling beterbangan setelah dilemparkan pada dayang-dayang (yang diperankan oleh siswi-siswi kelas satu). Tak ada satu pun orang di sana yang tidak mengarahkan pandangannya ke prosesi Pasangan Terbaik itu.

Kedua orangtua Amar dan Hana tampak sumringah saat duduk melihat anak mereka dari kursi penonton di barisan depan. Lukisan bahagia begitu terpancar menyelaraskan guratan kebanggaan. Saat Sang Lengser (sosok penyambut pengantin atau orangtua pengantin yang biasanya ada dalam pernikahan khas Sunda, Jawa Barat) menjemput mereka, rona merah terlihat di pipi, mencampuradukkan perasaan bangga, dan haru. Di saat-saat itulah mereka bisa merasakan bagaimana mereka merasa bangga telah melahirkan anak yang luar biasa.

Lain orang tua, lain bagi Amar dan Hana. Mereka justru malu. Walaupun bangga dengan prestasi yang telah diraih, gelar ‘Pasangan Tahun Ini’ membuat mereka kurang nyaman. Rasa malu muncul dalam hati Hana karena sepatu yang ia pakai bukanlah sepatu yang seharusnya ia gunakan. Ia malah memakai sepatu olahraga. Sementara bagi Amar, penampilannya itu membuatnya merasa kalau ia tak seharusnya berada di situ.

Di akhir prosesi, Aisyah mendatangi Amar dan mengucapkan selamat.

“Ah, harusnya si Araf yang maju…” ujarnya merendah.

Aisyah tersenyum, “Kau lebih pantas, ko…”

Amar sempat merasa melayang sebelum Aisyah kembali bertanya, “Mar, mau nerusin di SMA 3 Bandung, ya?”

Setelah Amar mengiyakan, Aisyah menjawab dengan senyum, “Oooh… Kalo gitu moga sukses, ya…”

Ketika mereka berpisah, Aisyah menghela nafas, menyembunyikan rasa sakit yang dirasakannya.

***

Hari pertama masuk di SMA 3 Bandung merupakan hari yang tak mungkin terlupakan oleh Amar. Sekolah yang menurut orangtuanya, serta paman dan bibinya, sebagai sekolah terbaik di Bandung itu menyisipkan sebuah lembaran baru dalam sejarah kehidupannya.

Amar tak hanya bertemu dengan teman baru, ia pun bertemu dengan suasana yang berbeda, suasana kota besar. Suasana yang membuatnya harus bersabar ketika teman-teman barunya memperlihatkan gengsi yang sangat tinggi. Gengsi itu mereka perlihatkan dengan kendaraan pribadi, dengan telepon genggam yang sangat mewah, atau dengan gaya rambut dan gaya pakaian yang sebelumnya tak pernah terpikir dalam benak Amar. Ia harus bersabar, karena ia tak bisa memiliki semua gengsi itu.

Ada hal lain yang juga dirasakan Amar ketika ia dikelompokkan dalam satu kelompok besar. Kelompok yang awalnya ia kira sebagai calon teman sekelasnya ternyata selama tiga hari ke depan akan bersamanya di masa perkenalan lingkungan sekolah. Setidaknya begitulah yang disampaikan oleh tiga orang kakak pembimbing yang ada di kelompoknya itu.

Kakak-kakak pembimbing juga menjadi hal yang mengusik hatinya. Mereka begitu murah senyum, ramah, dan enak untuk diajak bicara. Dari hasil perkenalan diri, Amar akhirnya mengetahui kalau mereka adalah seorang anggota rohis (rohani siswa), sebuah istilah yang sebetulnya tidak terlalu asing di telinga Amar.

Ia masih teringat ketika kelas satu SMP, salah seorang guru agama meminta ketua murid untuk menjadikan salah seorang menjadi anggota rohis kelas. Karena tak ada yang mengacungkan tangan, Aisyahlah yang akhirnya terpilih. Amar tak berani mengacungkan tangan bukan karena tak tahu apa itu rohis, melainkan lebih kepada keengganan yang muncul.

Kengganan yang Amar rasakan dulu kini tak bisa ia rasakan. Justru keingintahuan yang muncul. Kakak-kakak rohis yang bersamanya di kelompok itu terkesan nyaman, membuatnya ingin bertanya kenapa mereka bisa seperti itu. Namun hingga hari pertama usai, tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Amar lebih memilih diam.

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore ketika seluruh siswa baru dipersilakan pulang. Cuaca tidak begitu terang dan juga tidak begitu gelap. Hanya ada siluet senja yang muncul bertahtakan awan yang menjadi latar belakang terbangnya burung-burung untuk kembali ke sarang.

Amar melepas letih yang menderanya. Ia segera menuju gerbang depan, berlari. Sebelum pulang dengan dijemput pamannya, Amar ingin menceritakan banyak hal terlebih dahulu dengan sahabatnya. Ia begitu ingin berbagi tentang kehidupan barunya tinggal bersama paman dan bibinya, jauh dari orangtua, atau tentang suasana pertamanya dengan teman-teman yang rata-rata berasal dari Bandung, atau juga tentang kenyamanan kakak-kakak rohis yang menjadi pembimbing kelompoknya.

Ia tiba di gerbang depan. Dari sana Amar bisa melihat bangunan sekolahnya yang menjulang dengan cukup megah. Bangunan itu dibangun pertama kali pada masa penjajahan Belanda, sebelum akhirnya direnovasi beberapa kali dan ditambahkan dengan bangunan lain. Bangunan utama yang menghadap ke Jalan Belitung itu memiliki jendela khas Belanda yang amat tinggi dengan jumlah rata-rata tiga buah tiap kelas. Hal itu membuat Amar bisa dengan jelas melihat deretan lima belas buah jendela yang sebagian tertutup, dan sebagian lainnya lagi terbuka.

Di ujung jalan, Amar telah melihat pamannya menunggu dengan sepeda motor. Sebaliknya, pamannya itu belum melihatnya karena saking banyaknya siswa baru yang hendak pulang.

Amar memilih untuk menunggu. Kemarin ia sudah berjanji pada sahabatnya untuk bertemu sebelum pulang di depan gerbang. Sahabatnya itulah satu-satunya yang juga diterima di sekolah yang sama. Amar tak bisa membayangkan betapa akan kesepiannya ia jika sahabat yang dikenalnya dari kelas satu SMP itu tak memutuskan untuk bersekolah di tempat yang sama dengannya.

Sambil menunggu, Amar melihat-lihat keadaan sekitar. Jalan Belitung yang biasanya agak lengang kini menjadi terhambat akibat kendaraan yang memenuhi ruas jalan. Beberapa pedangang turut andil dalam kemacetan sore. Para siswa baru juga tak jauh berbeda. Kebanyakan yang bergerombol (pastinya adalah kawanan yang telah berteman sejak SMP) juga membuat jalanan semakin semrawut.

Lama kelamaan, kepadatan itu berkurang seiring dengan berkurangnya volume kendaraan yang melintasinya. Walaupun beberapa pedagang telah pergi, sebagian yang lain masih bertahan, berharap ada siswa baru yang membeli barang jajaannya.

Amar kini mulai kesal. Sahabat yang ditunggunya tak kunjung datang. Ia terkejut ketika ada yang menyebut namanya. Namun saat menoleh, yang ada hanyalah pamannya, yang sudah bisa melihatnya dengan jelas akibat kelengangan itu.

“Kok lama?” Tanya pamannya.

“Nunggu Araf dulu. Tapi kok dia belum keluar, ya?”

“Oh, temenmu yang kemaren itu? Kenapa nggak telepon aja?”

Amar tersadar kalau orangtuanya membelikannya telepon genggam adalah untuk alasan yang seperti itu. Segera ia mengambil telepon genggam yang ada dalam sakunya. Sambil menatap telepon genggam berwarna biru pemberian orangtuanya tepat seminggu sebelum masuk itu, ia mencari nomor sahabatnya. Setelah memastikan, ia mencoba menelepon.

Berdering, tapi tak ada jawaban.

Amar mencoba untuk yang kedua kali, yang ketiga kali, bahkan yang keempat kalinya. Tetap bordering, tapi tak ada jawaban. Hingga akhirnya ia memustuskan untuk mengirim sebuah pesan singkat kalau ia akan pulang duluan bersama pamannya.

Sesampainya di rumah, Amar kembali menekan nomor sahabatnya itu dan menunggu. Nomor yang dituju tetap berdering. Dan tetap, tak ada jawaban.

Keesokan harinya, hari kedua itu berlalu begitu cepat, meninggalkan kenangan kala Amar menyaksikan berbagai atraksi dari ekstrakulikuler yang ada di sekolahnya. Pikirannya tentang nomor yang tak bisa ia hubungi sempat menghilang karenanya. Namun saat pukul lima, déjà vu seolah terjadi.

Amar menunggu di gerbang depan, dan memulai menekan nomor yang sama, seperti yang ia tekan kemarin. Kali ini tak tersambung. Tak ada bunyi “Tiiiiit” atau “Tulalit” atau “Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan”.

Amar menyerah ketika menelepon untuk yang kelima kalinya.

Hanya beberapa detik setelahnya telepon genggamnya berbunyi. Dengan cepat ia mengangkatnya, “Halo!?”

“Mar, kemana aja?” Suara itu membuat Amar melihat nomor yang terlihat di layar telepon genggamnya, nomor ibunya, “Ko mama telepon, kamu sibuk mulu? Udah pulang?”

“Oh… belum, baru selesai. Tadi habis nelepon Araf, tapi nggak nyambung-nyambung.”

“Lho! Memang Araf nggak ngasih tau?”

“Kenapa gitu, Ma?”

“Tadi malem Araf nelepon ke rumah. Katanya, dia nggak jadi sekolah di Bandung. Pindah.”

***

Tanggal di kalender merah berlangsung pada hari Senin, ketika kelas baru berlangsung satu bulan. Kesempatan itu tak disiakan Amar untuk pulang ke Ciamis, sekaligus berkunjung ke rumah sahabatnya, menanyakan perihal kepindahannya itu pada keluarganya.

Saat tiba di sana, hal yang lebih mengejutkan harus Amar terima. Seluruh keluarga sahabatnya itu sudah tidak lagi tinggal di sana, meninggalkan sebuah rumah bercat putih yang sendu, dengan lampu yang menyala syahdu dalam terang surya yang temaram.

Sahabat dekat Amar dan keluarganya, semuanya telah pindah.

(bersambung ke Chapter 4)