Prolog

Mentari hampir saja tertidur di ujung cakrawala tepat di batas khatulistiwa. Seolah bahagia dengan hari yang baru saja dilaluinya, kini ia hendak mencari mimpi indah. Salam hangatnya pada sang dewi malam menyiratkan bahwa ia ikhlas tugasnya digantikan untuk memimpin kehidupan di bumi. Hal terakhir yang ia lakukan adalah tersenyum pada samudera. Dari garis horizon, pantulan sinarnya yang kemerahan tampak seolah memuat untaian ombak untuk disampaikan ke berjuta pantai, termasuk sebuah yang terletak di Samudera Pasifik, pantai di Pulau Hokkaido.

Semak belukar di pantai itu tampak bersiap tuk bersyukur menyambut datangnya malam, bersiap menampung tetesan-tetesan embun yang malam nanti akan menempel di pangkuannya. Pun begitu dengan sebuah gunung yang berdiri tegak memanjatkan ucapan terima kasihnya, Gunung Moiwa. Ia bahagia karena hingga hari ini keanggunan dan keindahannya masih dapat dinikmati. Ia tak sabar untuk menunggu malam, menyiapkan pesona yang akan ia tunjukkan esok hari bersama gunung-gunung lain yang juga berharap hal yang sama.

Mentari memang belum menghilang. Cahayanya yang samar-samar hampir tertutupi biang langit malam yang gelap. Namun justru pemandangan seperti itulah yang membuat siapapun akan merasa takjub melihatnya. Termasuk seorang pemuda berusia dua puluh empat tahun, Amar Fian.

Amar tak ingin kehilangan kesempatan menikmati pemandangan Kota Sapporo dari lift gantung yang membawanya turun dari puncak Gunung Moiwa. Ia baru saja menghabiskan satu hari yang terindah dalam hidupnya. Tak mungkin baginya melupakan desir angin di Teluk Ishikari saat udara pagi yang menusuk menyapanya. Tak mungkin pula melupakan rumput hijau yang ia injak saat berjalan-jalan di Taman Ohdohri di atas terik mentari. Atau saat secara tidak sengaja bertemu dengan sahabat karibnya semasa SMA yang saat ini tengah melanjutkan kuliah di Universitas Hokkaido, Sayyid, tepat di bawah Tokei-dai1. Semua itu akan menjadi salah satu bagian dari sejarah kehidupannya yang paling indah. Apalagi perjalanan itu tak dilaluinya sendiri. Dalam lift gantung itu ada empat orang. Amir, aku,dan dua orang lainnya. Saat ini di sampingnya duduk seseorang yang juga sedang menikmati keindahan yang sama. Seseorang itu sangat berarti bagi Amar, karena perjalanan ini hanyalah bagian dari berjuta perjalanan panjang yang akan mereka lalui. Saat ini ia sedang berbicara dengan seseorang lain yang duduk di sampingku.

Amar kini ganti menatapku yang duduk tepat di hadapannya. Ia tersenyum menyuratkan kebahagiaan yang tak terkira.

Amar hanya bisa mengajukan pertanyaan retoris, “Semua ini bukan kebetulan, kan?”

Amar melihatku mengangguk. Pandangannya kini beralih ke wajah seseorang yang berada di sampingnya. Tatapannya tampak kabur, seolah mengingat kembali perjalanan hidupnya yang telah ia lalui, yang hampir tak mungkin membawanya ke negeri sakura ini…