Chapter 3: Butir-Butir Waktu

Kenapa?

Pertanyaan itu muncul pula di benak Amar. Ia menyesal saat ada kabar yang mengatakan kalau Aisyah menyukainya (saat kelas dua) tak ia tanggapi dengan serius. Kalau saja ia tahu akhirnya akan seperti ini, ia tak akan membiarkannya begitu saja.

Amar tahu ia punya alasan untuk itu. Setidaknya, ia tak ingin Aisyah masuk ke dalam permainan ‘dari-gosip-menjadi-nyata’ buatannya. Walaupun begitu, air mata yang Aisyah tunjukkan padanya membuatnya bingung. Sangat bingung.

Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus mengakui perasaanku yang sebenarnya padanya? Jangan! Jangan! Di saat seperti ini pengakuanku hanya akan dilihat sebagai kata-kata hiburan belaka. Lagipula aku tak mungkin memberitahukan ‘permainan itu’ padanya.

Tunggu!

Amar berhenti sejenak, teringat akan suatu hal yang mungkin ada kaitannya dengan semua yang ia hadapi.

Permainan… Ya, mungkin aku terkena kutukan permainan itu!

Amar masih menunduk dalam pemikiran tentang apa yang harus dilakukannya. Ia tetap menunduk saat Aisyah mengusap pipinya yang basah dan beranjak pergi.

“Sebentar! Tolong duduk lagi…” harapnya sambil menunduk.

Aisyah menghentikan langkahnya. Ia pun kembali duduk dengan sebuah tanya.

Amar mulai mengarahkan padangan pada wajah Aisyah, pandangan yang terlihat kelu. Ia mencoba memberikan semangat dalam senyumnya. Dalam harap agar Aisyah mengerti, terbayang di pikiran Amar sebuah lirik dari lagu Let Love Lead the Way-nya Spice Girls.

You may feel weak, but you are strong. Don’t you give up, girl! If you keep holding on, you’ll never be wrong. Just close your eyes cause it lies deep in your heart…

Aisyah yang tak begitu pandai dalam bahasa inggris hanya terdiam. Ia berharap agar Amar menjelaskan untaian kata-kata yang baru saja diucapkannya.

Amar ingin menjelaskan. Tapi penjelasan itu hanya muncul dalam hatinya…

Tangisanmu memperlihatkan kelemahanmu… Tapi aku yakin kau bukanlah cewek yang lemah. Perasaanmu… Tolong jangan berubah… Saat kau yakin itu adalah yang terbaik, patrikan dalam hatimu… Pertahankan… Karena suatu saat nanti, perasaan itu mungkin akan mendatangkan keajaiban padamu… Aku hanya bisa berharap bisa menjadi keajaiban itu….

Karena kejelasan yang ia harapkan tak kunjung datang, Aisyah berbalik dan meninggalkan meja tempat Amar berada.

Amar sebetulnya tak kuasa untuk menyimpan kebingungan-kebingungan yang ada dalam hatinya. Ia ingin menceritakan semua yang mengganjal pada waktu yang tepat.Dan hal itu baru terlaksana menjelang akhir tahun pelajaran berakhir, saat semua siswa kelas tiga sedang fokus menghadapi ujian nasional yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Ia menceritakan segala unek-uneknya pada Yoga dan aku.

“Dasar bodoh!” sahut Yoga setelah mendengar semuanya. Perkataan itu membuat tatapan wajah Amar mengarah padanya.

Ia melanjutkan dengan suara yang lebih halus, “Maksudku, kamu mungkin bodoh, Mar, dengan melewatkan dia hanya demi kepuasan permainanmu itu. Tapi, aku lebih bodoh lagi… Kamu masih ingat waktu awal kelas tiga dulu? Saat aku bertanya, ‘Apa Aisyah mengatakan sesuatu padamu?’”

Selagi Amar mencoba mengingat-ingat, Yoga menyelesaikan untaian kalimatnya, “Kamu mungkin sudah lupa. Tapi yang jelas, hal itu terjadi bertepatan dengan mulai munculnya gosip-gosip yang beredar tentangmu. Secara nggak sengaja Aisyah menceritakan ‘sesuatu’ padaku. Setelah itu kita ngobrol. Dan setelah ngobrol, ia tiba-tiba mendatangiku sambil bertanya, ‘Kamu bilang apa sama Amar?’ Karena aku nggak merasa bilang apapun, aku menjawab, ‘nggak bilang apa-apa’. Eh, setelah itu dia malah mencengkeram kerah bajuku! Katanya, ‘Awas kalau bohong!’”

Aku memuji Yoga –setengah bercanda- yang masih ingat rangkaian adegannya dengan detail.

“Mana mungkin aku lupa! Baru pertama seumur-umur kerah bajuku ditarik cewek! Diancam, lagi! Kamu tahu, Mar?” ia menatap Amar yang memang menanti lanjutan ceritanya, “Apa yang dia nggak mau aku ceritakan itu adalah apa yang dia ceritakan nggak sengaja sebelumnya. Dan kamu tahu apa yang dia ceritakan?” Yoga menunggu isyarat dari Amar.

Setelah Amar menggelengkan kepalanya, Yoga berkata pelan, ”Dia suka padamu, Mar.”

Angin sepoi-sepoi sempat berhembus membelai dedaunan pohon-pohon kayu yang dilewatinya, dan menyentuh dengan lembut ketiga orang yang saat ini duduk di depan mereka.

Yoga melanjutkan, “Maaf, ya… Seandainya aku lebih pintar untuk memilih menceritakan padamu waktu itu. Akhirnya mungkin nggak bakal kayak gini.”

Amar tersenyum simpul. Ia tak ingin menyalahkan Yoga. Ia lebih ingin menyalahkan dirinya yang telah membuat seseorang yang disukainya menangis. Rasa menyalahkan itu berujung pada satu penyesalan yang amat menohok hatinya. Walau begitu, pada akhirnya Amar harus mengakui kalau penyesalan apapun tak akan ada gunanya.

Aku mengiyakan dan mengingatkan kalau yang lebih penting untuk dipikirkan dalam dua minggu ini adalah mempersiapkan ujian. Selain itu juga menyebutkan sebuah pertanyaan retoris, meyakinkan kalau semua itu bukanlah suatu kebetulan.

Detik membawa keheningan berlabuh di hadapan kami. Dalam kesunyian itu, masing-masing berpikir untuk mencari sebuah topik baru untuk bisa mencairkan suasana.

Justru Amar lah yang pertama kali menemukannya, “Raf, SMA jadinya tetap di Bandung, kan?”

Aku mengangguk, mencoba tersenyum dan akhirnya berhasil memberikan senyuman yang cukup untuk mengarahkan pembicaraan ke arah yang Amar minta.

“Syukurlah! Smoga kita bisa sama-sama lagi!” sahut Amar, “SMA 3, kan?”

Sahabatnya itu mengangguk yakin, sebelum menanyakan hal yang sama pada Yoga seperti pertanyaan Amar sebelumnya.

Yoga menjawab yakin, “STM, ah! Pengen langsung aplikatif. Biar langsung kerja.”

“Sip!” kata Amar tersenyum seolah tak pernah menceritakan masalah yang tadi diceritakannya, “Ntar kalau sudah dapat gaji, jangan lupa traktir! Pokoknya aku sama Araf bakal tunggu di Bandung! Jadi kalau bisa, kerjanya di Bandung aja!”

“Sip!”

Selama hampir dua minggu Amar berhasil melupakan permalasalahan yang sempat dialaminya. Dalam hari-harinya itu, ia diharapkan menjadi tulang punggung keberhasilan UAN kelas 3D, kelas di mana ia, Yoga, Aisyah, dan aku berada. Gelar runner-up siswa berprestasi membuatnya diharapkan mampu membantu teman-teman sekelasnya.

Hingga pada suatu pagi, tepat dua hari sebelum pelaksanaan ujian itu, Yoga mengajak Amar dan aku pergi ke suatu tempat yang ia rahasiakan. Syaratnya adalah dengan menggunakan sepeda. Aku, yang tidak memiliki sepeda seperti Amar, menolak. Namun setelah dikatakan kalau Yoga akan meminjamkan milik ayahnya, kami tersenyum.

Keesokan harinya, saat sekolah masih diliburkan dengan tujuan agar para siswa beristirahat, kami malah melakukan perjalanan yang Yoga agendakan. Perjalanan itu menempuh waktu sekitar satu jam sebelum akhirnya tiba di suatu tempat yang Yoga maksudkan, Gunung Galuh.

Di sebuah jalan setapak yang mengarah ke atas, Yoga, yang menjadi komandan arah, tiba-tiba membelokkan sepedanya menuju ke semak belukar. Sebelum kedua temannya bertanya, ia telah menjawab, “Aku tahu tempat yang asyik!”

Aku hanya bisa mengingatkan kalau besok ujian dan kami tak boleh mengalami hal-hal yang gila di sini.

Yoga tertawa, membuat Amar berkata setengah berbisik sambil menengok ke arahku, “Malah si Yoga yang gila.”

Aku, yang bersepeda di belakang mereka, tersenyum setengah tertawa. Hingga dalam beberapa menit, tawaku akhirnya berakhir setelah kami melihat sebuah lapangan rumput kecil yang miring sekitar dua puluh derajat dengan sungai yang airnya mengalir di sampingnya.

Lapangan itu tidak terlalu besar, hanya berukuran enam kali tiga meter. Di ujung timur lapangan itu terlihat cahaya mentari yang masih sepenggalan naik. Cahayanya tidak memilukan dan tidak pula menyilaukan. Cukup indah untuk dipandang dan berjemur di bawahnya. Sementara itu di sebelah utara, sungai kecil dengan air yang mengalir tampak. Walaupun ikan-ikan tak terlihat, bebatuan yang timbul memberikan semarak yang amat sangat. Di sekeliling sisi lain, pepohonan menjulang tinggi memberi kesempatan agar angin pagi tenangkan diri.

Tanpa ada yang menyuruh, Amar langsung menambatkan sepedanya di sebuah pohon dan beranjak menuju lapangan. Itu membuat Yoga berkata, “Gimana? Keren, kan?”

Amar tersenyum. Setelah memastikan kalau lapangan hijaunya cukup nyaman, ia berbaring memanfaatkan kemiringan lapangan itu yang menghadap ke arah matahari.

Setelah aku mengiyakan kalau pemandangan yang ada di sana cukup indah, Yoga tersenyum puas. Ia lalu mengajakku ke arah lapangan dan berbaring, sementara aku berjalan ke arahnya dan duduk, sambil terdiam mendengarkan ocehan burung yang berirama dengan indah.

Kami sejenak terdiam mensyukuri apa yang kami lihat, dengar, dan rasakan saat ini.

Sambil berbaring, Yoga berkata, “Sebelumnya aku pernah ke sini… Bahkan selagi kecil aku biasanya bermain bersama teman-teman kecilku. Besepeda dan bermain bola…”

Amar terhenyak, “Lho! Kok sama!? Aku juga dulu sering ke tempat ini? Bedanya, aku dan teman-temanku datang bukan untuk bermain bola, tapi untuk sekedar jalan-jalan menikmati pemandangan… Ya, seperti sekarang ini… Dulu kami…”

Amar bercerita tentang masa kecilnya, diikuti cerita Yoga tentang masa lalunya di Gunung Galuh ini. Hanya aku yang belum memiliki cap sejarah kehidupan yang lama di sini, karena ini adalah untuk yang pertama kalinya aku ke sini.

Saling tukar cerita itu berakhir saat mentari mulai memberikan panasnya. Selanjutnya kami berpetualang, tertawa, bercerita, dan begitu seterusnya hingga merasa kalau kami telah melalui hari dengan sempurna.

Ujian Akhir Nasional berlalu secepat angin berlalu. Yang ada hanya menyisakan kenangan saat aku dan Amar berada di ruangan yang sama, berusaha untuk membantu teman-teman lainnya yang kesulitan di tengah ujian. Sementara Yoga terpaksa harus meminta bantuan orang lain. Ia hanya bisa pasrah saat nilai ujian keluar, karena di ruangannya, orang-orang yang diharapkan memberi bantuan tidak bisa membantunya.

Kenangan tentang soal yang dibahas pada saat keluar pun masih terasa, terutama bagi Amar. Karena pada hari kedua, ia diminta Aisyah untuk membahasnya. Dengan sedikit canggung, Amar hanya menjawab seperlunya. Ia sangat berhati-hati dalam kata, tak ingin mengingatkan Aisyah tentang hal yang mungkin bisa membuatnya membencinya.

Hasil akhir keluar. Amar, yang sejak awal diprediksi bisa meraih predikat pertama, secara mengejutkan harus puas di peringkat ketiga, dibawah Hana, siswi yang dahulu mengalahkan Aisyah untuk menjadi perwakilan siswa berprestasi. Ia juga harus menerima kekalahannya dariku, sebagai runner-up.

Akibat peringkat tiga yang diterimanya itu, berkali-kali aku harus meminta maaf darinya. Dan berkali-kali pula ia tersenyum dan berkata, “Nggak, apa-apa… Artinya kamu lebih hebat, Raf!”

Untunglah, sahabatnya itu sedikit terbantu dengan keputusan dari sekolah. Setiap tahun, di SMPN 1 Ciamis, selalu ada prosesi pasangan terbaik pada acara perpisahan. Dan pada tahun ini yang terpilih adalah Amar dan Hana. Mereka terpilih karena telah membawa nama SMPN 1 Ciamis ke jenjang provinsi pada perlombaan Siswa Berprestasi.

Akhirnya hari perpisahan tiba. Aku dan Yoga menemani Amar melakukan persiapan sebelum tampil. Ia sedang duduk di salah satu meja guru di ruangan guru, menanti Hana yang saat ini belum tiba. Di sebelahnya ada Bu Elis, wali kelas kami.

“Gimana rasanya tampil?” Tanya Yoga.

“Grogi, tau… Lagian, harusnya si Araf, nih, yang tampil!”

Aku tersenyum sambil berkata dalam hati, Terus kalau aku tampil, aku bakal ngeliat kamu kecewa, gitu?

“Ah, si Araf kan sudah dapat juara dua UAN! Eh, iya, sudah tau Aisyah peringkat berapa?” Tanya Yoga tiba-tiba.

Kontan suasana mendadak berubah.

Saat Bu Elis hampir mengatakan peringkat UAN Aisyah, Yoga tersadar dan kontan berkata, “Ih, Bu, biar Amar aja yang nyari tau!”

Bu Elis yang belum mengerti adanya sesuatu antara Amar dan Aisyah hanya bisa berkata pada Yoga kalau memotong perkataan orang itu kurang baik. Ia menjadikan Yoga sebagai sasaran ceramahnya.

Apa yang dilakukan Bu Elis mungkin tampak membuat kesal. Tapi sebenarnya ia adalah wali kelas yang sangat perhatian. Kasih sayang yang selalu ia berikan pada murid-muridnya membuat Bu Elis bagaikan ibu kandung kami di sekolah.

Setidaknya Amar pernah merasakan kasih sayang yang diberikan Bu Elis saat nilainya turun tepat ketika ia mulai gencar digosipkan. Saat itu Amar merasa kesal dengan wali kelasnya itu karena berita tentang perjalanan gosipnya digembar-gemborkan ke guru lain.

Tapi kekesalannya perlahan menghilang seiring dengan bisikan sang waktu yang menyadarkan kalau yang dilakukan Bu Elis adalah sebagai bentuk kasih sayang karena tak ingin agar salah satu anak didik kebanggaanya itu hancur di bidang pelajaran karena memikirkan pacaran. Sang waktu pula lah yang membentuk rasa kasih sayang dan sikap hormat dalam diri Amar.

Sama seperti sekarang, ia begitu bangga menatap wajah Ibu wali kelasnya. Walaupun guratan di wajahnya terlihat letih, jiwa keibuannya amat terpancar. Termasuk saat ia berkata, “Mar, tuh, Hana udah datang. Ayo, siap-siap! Tinggal beberapa menit lagi prosesinya…”

Prosesi pasangan terbaik itu berlangsung megah. Lantunan musik khas Jawa Barat menghilangkan suara-suara lain yang ada di sekitarnya. Berbagai bunga, mulai dari mawar, melati, hingga anggrek, saling beterbangan setelah dilemparkan pada dayang-dayang (yang diperankan oleh siswi-siswi kelas satu). Tak ada satu pun orang di sana yang tidak mengarahkan pandangannya ke prosesi Pasangan Terbaik itu.

Kedua orangtua Amar dan Hana tampak sumringah saat duduk melihat anak mereka dari kursi penonton di barisan depan. Lukisan bahagia begitu terpancar menyelaraskan guratan kebanggaan. Saat Sang Lengser (sosok penyambut pengantin atau orangtua pengantin yang biasanya ada dalam pernikahan khas Sunda, Jawa Barat) menjemput mereka, rona merah terlihat di pipi, mencampuradukkan perasaan bangga, dan haru. Di saat-saat itulah mereka bisa merasakan bagaimana mereka merasa bangga telah melahirkan anak yang luar biasa.

Lain orang tua, lain bagi Amar dan Hana. Mereka justru malu. Walaupun bangga dengan prestasi yang telah diraih, gelar ‘Pasangan Tahun Ini’ membuat mereka kurang nyaman. Rasa malu muncul dalam hati Hana karena sepatu yang ia pakai bukanlah sepatu yang seharusnya ia gunakan. Ia malah memakai sepatu olahraga. Sementara bagi Amar, penampilannya itu membuatnya merasa kalau ia tak seharusnya berada di situ.

Di akhir prosesi, Aisyah mendatangi Amar dan mengucapkan selamat.

“Ah, harusnya si Araf yang maju…” ujarnya merendah.

Aisyah tersenyum, “Kau lebih pantas, ko…”

Amar sempat merasa melayang sebelum Aisyah kembali bertanya, “Mar, mau nerusin di SMA 3 Bandung, ya?”

Setelah Amar mengiyakan, Aisyah menjawab dengan senyum, “Oooh… Kalo gitu moga sukses, ya…”

Ketika mereka berpisah, Aisyah menghela nafas, menyembunyikan rasa sakit yang dirasakannya.

***

Hari pertama masuk di SMA 3 Bandung merupakan hari yang tak mungkin terlupakan oleh Amar. Sekolah yang menurut orangtuanya, serta paman dan bibinya, sebagai sekolah terbaik di Bandung itu menyisipkan sebuah lembaran baru dalam sejarah kehidupannya.

Amar tak hanya bertemu dengan teman baru, ia pun bertemu dengan suasana yang berbeda, suasana kota besar. Suasana yang membuatnya harus bersabar ketika teman-teman barunya memperlihatkan gengsi yang sangat tinggi. Gengsi itu mereka perlihatkan dengan kendaraan pribadi, dengan telepon genggam yang sangat mewah, atau dengan gaya rambut dan gaya pakaian yang sebelumnya tak pernah terpikir dalam benak Amar. Ia harus bersabar, karena ia tak bisa memiliki semua gengsi itu.

Ada hal lain yang juga dirasakan Amar ketika ia dikelompokkan dalam satu kelompok besar. Kelompok yang awalnya ia kira sebagai calon teman sekelasnya ternyata selama tiga hari ke depan akan bersamanya di masa perkenalan lingkungan sekolah. Setidaknya begitulah yang disampaikan oleh tiga orang kakak pembimbing yang ada di kelompoknya itu.

Kakak-kakak pembimbing juga menjadi hal yang mengusik hatinya. Mereka begitu murah senyum, ramah, dan enak untuk diajak bicara. Dari hasil perkenalan diri, Amar akhirnya mengetahui kalau mereka adalah seorang anggota rohis (rohani siswa), sebuah istilah yang sebetulnya tidak terlalu asing di telinga Amar.

Ia masih teringat ketika kelas satu SMP, salah seorang guru agama meminta ketua murid untuk menjadikan salah seorang menjadi anggota rohis kelas. Karena tak ada yang mengacungkan tangan, Aisyahlah yang akhirnya terpilih. Amar tak berani mengacungkan tangan bukan karena tak tahu apa itu rohis, melainkan lebih kepada keengganan yang muncul.

Kengganan yang Amar rasakan dulu kini tak bisa ia rasakan. Justru keingintahuan yang muncul. Kakak-kakak rohis yang bersamanya di kelompok itu terkesan nyaman, membuatnya ingin bertanya kenapa mereka bisa seperti itu. Namun hingga hari pertama usai, tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Amar lebih memilih diam.

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore ketika seluruh siswa baru dipersilakan pulang. Dalam proses pengenalan lingkungan sekolah itu, pihak sekolah memberi izin panitia untuk membubarkan acara tidak pada jam sekolah (biasanya pukul setengah dua). Hal itu bertujuan agar tersampaikannya materi secara keseluruhan.

Pada jam ini, cuaca terlihat tidak begitu terang dan juga tidak begitu gelap. Hanya ada siluet senja yang muncul bertahtakan awan yang menjadi latar belakang terbangnya burung-burung untuk kembali ke sarang.

Amar melepas letih yang menderanya. Ia segera menuju gerbang depan, berlari. Sebelum pulang dengan dijemput pamannya, Amar ingin menceritakan banyak hal terlebih dahulu dengan sahabatnya. Ia begitu ingin berbagi tentang kehidupan barunya tinggal bersama paman dan bibinya, jauh dari orangtua, atau tentang suasana pertamanya dengan teman-teman yang rata-rata berasal dari Bandung, atau juga tentang kenyamanan kakak-kakak rohis yang menjadi pembimbing kelompoknya.

Ia tiba di gerbang depan. Dari sana Amar bisa melihat bangunan sekolahnya yang menjulang dengan cukup megah. Bangunan itu dibangun pertama kali pada masa penjajahan Belanda, sebelum akhirnya direnovasi beberapa kali dan ditambahkan dengan bangunan lain. Bangunan utama yang menghadap ke Jalan Belitung itu memiliki jendela khas Belanda yang amat tinggi dengan jumlah rata-rata tiga buah tiap kelas. Hal itu membuat Amar bisa dengan jelas melihat deretan lima belas buah jendela yang sebagian tertutup, dan sebagian lainnya lagi terbuka.

Di ujung jalan, Amar telah melihat pamannya menunggu dengan sepeda motor. Sebaliknya, pamannya itu belum melihatnya karena saking banyaknya siswa baru yang hendak pulang.

Amar memilih untuk menunggu. Kemarin ia sudah berjanji pada sahabatnya untuk bertemu sebelum pulang di depan gerbang. Sahabatnya itulah satu-satunya yang juga diterima di sekolah yang sama. Amar tak bisa membayangkan betapa akan kesepiannya ia jika sahabat yang dikenalnya dari kelas satu SMP itu tak memutuskan untuk bersekolah di tempat yang sama dengannya.

Sambil menunggu, Amar melihat-lihat keadaan sekitar. Jalan Belitung yang biasanya agak lengang kini menjadi terhambat akibat kendaraan yang memenuhi ruas jalan. Beberapa pedangang turut andil dalam kemacetan sore. Para siswa baru juga tak jauh berbeda. Kebanyakan yang bergerombol (pastinya adalah kawanan yang telah berteman sejak SMP) juga membuat jalanan semakin semrawut.

Lama kelamaan, kepadatan itu berkurang seiring dengan berkurangnya volume kendaraan yang melintasinya. Walaupun beberapa pedagang telah pergi, sebagian yang lain masih bertahan, berharap ada siswa baru yang membeli barang jajaannya.

Amar kini mulai kesal. Sahabat yang ditunggunya tak kunjung datang. Ia terkejut ketika ada yang menyebut namanya. Namun saat menoleh, yang ada hanyalah pamannya, yang sudah bisa melihatnya dengan jelas akibat kelengangan itu.

“Kok lama?” Tanya pamannya.

“Nunggu Araf dulu. Tapi kok dia belum keluar, ya?”

“Oh, temenmu yang kemaren itu? Kenapa nggak telepon aja?”

Amar tersadar kalau orangtuanya membelikannya telepon genggam adalah untuk alasan yang seperti itu. Segera ia mengambil telepon genggam yang ada dalam sakunya. Sambil menatap telepon genggam berwarna biru pemberian orangtuanya tepat seminggu sebelum masuk itu, ia mencari nomor sahabatnya. Setelah memastikan, ia mencoba menelepon.

Berdering, tapi tak ada jawaban.

Amar mencoba untuk yang kedua kali, yang ketiga kali, bahkan yang keempat kalinya. Tetap bordering, tapi tak ada jawaban. Hingga akhirnya ia memustuskan untuk mengirim sebuah pesan singkat kalau ia akan pulang duluan bersama pamannya.

Sesampainya di rumah, Amar kembali menekan nomor sahabatnya itu dan menunggu. Nomor yang dituju tetap berdering. Dan tetap, tak ada jawaban.

Keesokan harinya, hari kedua itu berlalu begitu cepat, meninggalkan kenangan kala Amar menyaksikan berbagai atraksi dari ekstrakulikuler yang ada di sekolahnya. Pikirannya tentang nomor yang tak bisa ia hubungi sempat menghilang karenanya. Namun saat pukul lima, déjà vu seolah terjadi.

Amar menunggu di gerbang depan, dan memulai menekan nomor yang sama, seperti yang ia tekan kemarin. Kali ini tak tersambung. Tak ada bunyi “Tiiiiit” atau “Tulalit” atau “Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan”.

Amar menyerah ketika menelepon untuk yang kelima kalinya.

Hanya beberapa detik setelahnya telepon genggamnya berbunyi. Dengan cepat ia mengangkatnya, “Halo!?”

“Mar, kemana aja?” Suara itu membuat Amar melihat nomor yang terlihat di layar telepon genggamnya, nomor ibunya, “Ko mama telepon, kamu sibuk mulu? Udah pulang?”

“Oh… belum, baru selesai. Tadi habis nelepon Araf, tapi nggak nyambung-nyambung.”

“Lho! Memang Araf nggak ngasih tau?”

“Kenapa gitu, Ma?”

“Tadi malem Araf nelepon ke rumah. Katanya, dia nggak jadi sekolah di Bandung. Pindah.”

***

Tanggal di kalender merah berlangsung pada hari Senin, ketika kelas baru berlangsung satu bulan. Kesempatan itu tak disiakan Amar untuk pulang ke Ciamis, sekaligus berkunjung ke rumah sahabatnya, menanyakan perihal kepindahannya itu pada keluarganya.

Saat tiba di sana, hal yang lebih mengejutkan harus Amar terima. Seluruh keluarga sahabatnya itu sudah tidak lagi tinggal di sana, meninggalkan sebuah rumah bercat putih yang sendu, dengan lampu yang menyala syahdu dalam terang surya yang temaram.

Sahabat dekat Amar dan keluarganya, semuanya telah pindah.

6 responses to “Chapter 3: Butir-Butir Waktu

  1. Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Alhamdulillah akhirnya chapter 3 yang ditunggu-tunggu diunggah (upload) juga…Nuhun raf..
    Ceritanya bikin penasaran. Gimana kelanjutan hidup si Amar tanpa teman-temannya dan tanpa Aisyah.
    Jangan-jangan nanti ada cewe lain yg mampir ke hati Amar..
    heheiy…

    Kalo boleh komentar, ada beberapa koreksi/saran/kritik buat chapter ini:

    //////////////////////////////////////
    “Aisyah menghapus pipinya”
    sebaiknya sih…
    “menghapus air mata di pipinya”.
    Rasanya ga umum “menghapus pipi”.
    ////////////////////////////////////

    “Selain itu juga menyebutkan sebuah pertanyaan retoris, meyakinkan kalau semua itu bukanlah suatu kebetulan.”

    Subjeknya harusnya ada raf, “aku”, jadi sebaiknya diubah:

    “Selain itu aku juga menyebutkan sebuah pertanyaan retoris, meyakinkan kalau semua itu bukanlah suatu kebetulan.”

    /////////////////////////////////////
    “Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore ketika seluruh siswa baru dipersilakan pulang.”

    raf, sma 3 pulangnya siang kali, bukan sore..

    //////////////////////////////////////

    btw, kasian juga si Amar. kesepian…

    /////////////////////////////////////

    Paling itu aja komen dari saya. Mohon maaf kalo ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.

    ditunggu chapter4-nya ya… LANJUTKAN! (gaya iklan partai demokrat)

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


    >>Wah, kalo cewek laen… Ah, liat aja, ntar… ^_^!

    > Harusnya : Aisyah ‘mengusap’ pipinya, bukan ‘menghapus’
    > Kalo yang pertanyaan retoris itu emang sengaja nggak ada subjeknya.. ^_^!
    > Nah, kalo yang jam lima, emang kurang disebutin… Itu karena mereka masih dalam tahap perkenalan lingkungan sekolah alias MOS-nya… Makanya sore… ^_^

    Alhamdulillah, kesalahan sudah diperbaiki… Makasih, Waf…

    Iya, nih… Saat itu.. Emang saat-saat dimana Amar kesepian… T_T

    SIP! Akan Dilanjutkan!! Insya Allah…
    Thanks, Waf… Tetep setia menunggu, ya… ^_^

  2. Sip, maaf menunggu lama… haha…

    Aku orangnya gak seteliti dan sedetail wafdan jadi cuma bisa ngomen secara keseluruhan.

    Maaf, sepertinya ada yang kurang dalam cerita ini.
    Tapi gak tau apa.
    Kurang kerasa bumbunya kalo dimasakan.
    Perkiraanku sampai sekarang mungkin karena konflik di chapter ini kurang dibangun.
    Atau mungkin terlalu sering dengar konflik kaya ginian.
    Atau mungkin kelamaan nunggu uploadnya chapter demi chapter jadi kurang berasa suasana ceritanya.
    Tapi gak tau juga sih.
    Aku juga kagak begitu ngerti soal bikin novel.

    Butir butir waktu yang sangat berarti saat mereka mengalir dalam ruang ruang yang sepi. Andai butir-butir waktu terdiam membeku sejenak. Aku akan berbalik lari untuk membenahi kisahku. Mampukan aku menggenggam butir-butir waktu.

    >>Yup… Gara-gara diuploadnya lama… Itu alasannya kenapa ceritanya kurang… Sama kayak Komik Detective Conan yang diterbitin lamaaaa banget… Jadinya, ya, gitu… Diharap dukungannya terus…. ^_^

    Makasih, Fa…

  3. *blogwalking*
    uwow… ceritanya keren..
    subhanallah. salutlah…
    jadi ini te tokoh utamanya siapa? heho, amar ya? ato araf? ato aisyah? ato yoga?(eh, yoga te temen kecilnya Aisyah itu?)
    wah banyak nanya saya. sudahlah. pkonya salutlah. keren d^^b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s