Chapter 2 : Sebuah Inspirasi

Pertengahan Juli tahun 1989 memunculkan sebuah penantian panjang dari kemarau yang melanda Indonesia. Hampir seluruh warga menantikan datangnya hujan yang tak kunjung tiba sejak Februari. Air dimana-mana sudah berkurang. Sungai dan danau sudah lama merindukan tetesan-tetesan air yang bisa tutupi retakan-retakan tanah yang menganga.

Hal yang sama berlaku malam ini. Hujan begitu dinantikan. Para jangkerik tak lagi berbunyi nyaring dan riang seperti biasa karena jumlah air yang mereka minum berkurang dari hari ke hari. Bahkan mencicipi tetesan embun pun mulai sulit. Burung hantu terpaksa mengantuk setelah menggunakan waktu pagi dan sore untuk mencari sumber air yang komposisinya tepat untuk dirinya. Beragam tumbuhan kini tak lagi begitu sedap dipandang. Dalam remang malam, beberapa antheridium mulai frustasi setelah tak lagi bisa menggoda para lebah karena warna kebanggaannya mulai pudar.

Tak berbeda jauh dengan manusia. Malam ini hampir setiap keluarga mengeluhkan hal yang sama. Hal itu terjadi karena cukup banyak yang terpaksa menumpang mandi pagi dan sore di tetangga, bahkan yang kebih parah, di kali yang tersisa, kali yang juga digunakan untuk mencuci. Banyak juga yang mengeluh karena air pam tak lagi mengalir. Adalah petaka bagi yang tidak memiliki air dari sumur resapan. Untunglah, keramahan masih dimiliki oleh negara yang kaya sumber daya alam ini, sehingga keluarga yang kesulitan bisa mendapatkan air dari tetangga mereka yang sedikit lebih beruntung.

Di salah satu sudut kota Ciamis, sedikit berbeda dengan keluarga lain, sebuah keluarga menantikan dua hal. Bukan hanya hujan, melainkan juga seorang anggota keluarga baru. Sudah delapan bulan semenjak sang ibu merasakan hal aneh dalam perutnya, sama seperti yang ia rasakan enam tahun yang lalu. Dalam sebuah kamar yang memiliki pintu ke ruang tamu, ia tertidur. Namun tidurnya tak lama karena rasa sakit di dalam perutnya kembali timbul. Yang pertama kalinya disebut saat itu adalah: “Bidan. Waktunya sudah tiba.”

Sambil menahan kantuk yang menyerang, Bu Ayi, bidan yang dipanggil, bersiap memulai tugasnya. Sudah lima belas tahun ia berpengalaman dalam menangani peristiwa kelahiran. Wajahnya yang keibuan seolah menggambarkan sifat kasih sayang tak pernah pudar dimilikinya. Dan memang benar, dengan ditambah senyum yang mengembang di wajahnya, tak terlihat sedikitpun rasa khawatir.

Hal itu membuat sang ayah lebih tenang. Saat anak pertamanya terbangun, ia menyerahkan sepenuhnya pada sanak saudaranya. Tugas mereka saat itu adalah bagaimana menjelaskan pada anak laki-lakinya untuk tidak memasuki kamar yang akan dijadikan sebagai tempat kelahiran itu. Ia merasa beruntung saat kala itu cukup banyak keluarganya yang sengaja datang dari jauh untuk mengiringi proses kelahiran anaknya.
Di ruang keluarga, salah satu sanak saudara bertanya pada sang anak pertama….

“Asyik, ya, mau punya adik…”

“Iya! Tapi, kok nggak boleh lihat pas lahirnya?” tanyanya polos, yang diikuti senyum oleh sanak saudara yang mendengarnya.

Sang ayah menjawab, “Aa akan tau jawabannya kalau sudah besar.”

Sang kakak yang sering dipanggil dengan sebutan ‘Aa’ itu hanya merengut.

Dalam hati kecilnya ia tak sabar untuk mengetahui jawaban yang belum ia dapatkan. Keinginannya semakin menjadi saat sang ayah melangkah masuk menuju kamar tempat Bu Ayi bertugas dan menutup pintunya rapat-rapat.

Suasana di dalam kamar cukup tegang, termasuk sang ibu. Dalam kamar berukuran empat kali empat meter itu, terlihat adik perempuannya dan dua orang ibu-ibu tetangga yang siaga untuk membantu. Salah seorang dari ibu itu memegang tangannya, untuk memberikan kepercayaan dan kekuatan agar proses kelahiran itu lebih mudah.

Kini sang ibu meringis kesakitan. Dalam sakitnya ia mencoba mengumpulkan memori-memori yang masih tersisa saat melahirkan anak pertamanya tujuh tahun yang lalu. Namun yang ada dalam kepalanya adalah rasa sakit yang menjalar dari dalam perutnya. Hal itu cukup untuk membuat sang ayah tergerak. Ia lalu meminta izin untuk menggantikan ibu yang sejak tadi memegang tangan istrinya.

Sang ayah duduk di samping istrinya. Ia menatapnya dengan tatapan yang lembut, penuh kedamaian. Senyumnya mengembang, bersiap untuk mengatakan sesuatu. Namun apa yang ia katakan bukanlah kata-kata ‘Sabar, ya, Ma…’ atau ‘Tenang, Ma, Papa di sini.’ Yang keluar dari bibirnya adalah sebuah perkataan yang tidak disangka oleh siapapun yang berada dalam kamar itu, termasuk istrinya, “Ma, tahu apa yang Papa lihat? Dia tersenyum bangga pada mamanya.” ucapnya sambil mengelus badan yang berisi makhluk itu dengan tangan yang satunya.

Walaupun tahu perkataan itu hanya sebuah hiburan, tapi memberikan sebuah semangat yang begitu besar bagi sang ibu. Suaminya meneruskan, “Anak kita tersenyum karena bangga mamanya akan memberikan yang terbaik bagi kelahirannya… Ia juga tersenyum untuk menanti senyuman balasan dari mamanya. Soalnya Papa yakin, anak kita ini nantinya akan jadi seseorang yang mengubah peradaban. Dalam benak Papa, Si Adik sama Aa, adalah anak-anak tersholeh yang akan lahir ke dunia, yang akan membahagiakan orangtuanya. Rugi sekali Papa kalau nggak memberi yang terbaik untuknya dan Si Aa. Dan Papa yakin, Mama pun akan berbuat yang terbaik, kan?”

Setelah mendengar hal itu, semua yang ada di dalam kamar merasakan ketenangan yang amat dalam. Tanpa membuang waktu, Bu Ayi langsung membimbing sang ibu. Setelah melalui proses yang tidak begitu sulit, lahirlah bayi perempuan yang tampak sehat. Ia menyambut dunia dengan tangisnya, sementara kedua orangtuanya menerimanya dengan senyum.
Sang ibu bertanya pada suaminya, “Nama yang kemarin kita perbincangkan dengan Ustadz jadi?”

“Ya. Aisyah adalah nama terbaik untuk anak kita yang satu ini….”
Lima tahun setelahnya, Aisyah tumbuh menjadi balita yang cerdas. Ia selalu bertanya saat ada sesuatu yang mengusik hatinya. Walaupun begitu, ia hanya masuk taman kanak-kanak selama satu tahun saja.

Kecerdasannya tak berkurang saat ia masuk SD. Di caturwulan pertamanya ia berhasil meraih ranking satu di kelasnya.

Pada siang hari di tengah musim hujan, tak lama setelah Aisyah mengikuti ujian akhir tahun, untuk yang pertama kalinya ia begitu menginginkan sebuah boneka Barbie bergaun merah muda. Namun karena orangtuanya belum bersedia membelikan, Aisyah kecewa. Setelah beradu mulut dengan orangtuanya, ia pergi ke luar rumah tanpa arah.

Aisyah berjalan mengikuti jalan kecil yang biasa dilewati motor dan sepeda. Kadang mobil juga lewat. Namun karena jalanannya belum diaspal, biasanya pengendara mobil lebih memilih berputar ke jalan lain.

Lelah dan letih membuatnya berhenti di sebuah warung yang sekaligus juga sebagai tempat tambal ban. Aisyah membeli sebuah minuman kemasan untuk mengurangi rasa haus yang ia rasakan. Ya, Ia memang mempersiapkan ‘perjalanannya’ dengan membawa dompet kecil berisikan kepingan uang yang biasa ditabungkan di dalamnya.

Ia meminta izin kepada penjaga warung, wanita separuh baya, untuk beristirahat sejenak.

“Mau kemana, Dik?” Tanya ibu penjaga warung itu.

“Mm… Ke… rumah temen! Ya, ke rumah temen!” sahut Aisyah dengan sedikit terbata-bata. Setidaknya itulah jawaban yang paling masuk akal yang bisa ia ucapkan. Sebetulnya ia tak terbiasa berbohong. Ia melakukan itu karena tak ingin ibu penjaga warung ini ‘mengembalikannya’ ke rumah.

Aisyah melangkah menuju kursi bambu yang ada di sana dan duduk di atasnya. Ia membuka minuman kemasan yang baru saja dibelinya, lalu meminumnya. Pada tegukan pertama ia memperhatikan lingkungan tempat ia berada. Pada tiga tegukan berikutnya ia sudah bisa menggambarkannya jika diminta.

Warung yang ia tempati sekarang, termasuk kompresor tambal ban dan kursi bambunya, berada di sebuah lingkungan tempat tinggal yang tidak terlalu padat. Sejauh mata memandang ke dua arah hanya ada tak kurang dari sepuluh rumah. Semua rumah yang dilihatnya adalah rumah dari batubata yang cukup sederhana. Tak ada pagar pembatas apalagi halaman yang luas.

Kesederhanaan tampak karena lingkungan tempat mereka tinggal memang bukanlah lingkungan yang mewah.

Aisyah menghela nafas. Ada satu rumah yang mengusik hatiya. Rumah itu tak berbeda jauh dengan rumah-rumah yang lain, terletak di seberang jalan kecil, hanya berbeda dua rumah dari rumah yang berhadapan dengan warung. Yang membedakannya adalah rumah yang satu ini memiliki sebuah ayunan dari ban bekas yang terikat pada pohon rambutan di halamannya, serta cat dindingnya yang berwarna merah muda.

Warna itu mengingatkannya pada boneka Barbie yang tidak bisa ia dapatkan dari orangtuanya. Walaupun salah satu sisi dalam hatinya mengatakan kalau apa yang ia lakukan adalah tidak benar, namun sisi hatinya yang lain berkata bahwa ‘pergi sejenak ke luar rumah’ adalah jawaban yang bisa membuat ayah dan ibunya luluh.

Teriakan dari jauh menghentikan lamunannya. Ia menatap ke jalan, ke arah di mana suara itu muncul. Arah suara itu tak lain adalah arah jalan menuju rumah Aisyah. Aisyah sendiri tak melihat apapun hingga tiga sepeda yang ditumpangi anak-anak seusianya melewati jalan di depannya dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Ketiga anak dalam tiga sepeda yang berbeda itu memacu sepedanya dengan tersenyum. Salah seorang di antaranya berkata, “Urang nu bakal meunang! Saya yang akan menang!” sementara salah satu yang lainnya membalas, “Sorry, ya!”

Ketiga sepeda itu menghilang secepat mereka muncul. Suasana ketenangan yang sebelumnya ada kembali hadir di lingkungan dekat warung itu. Tapi hanya sementara, karena tak lama setelahnya, di arah yang sama tempat tiga sepeda tadi muncul, terdengar suara ban pecah.

Satu menit kemudian, seorang anak lain yang usianya tak jauh berbeda dengan usia Aisyah datang menuntun sepeda miliknya. Hanya dalam hitungan detik, sepeda itu telah sampai ke warung yang ditempati Aisyah.
Anak laki-laki itu berambut keriting dan berkulit putih, sambil menenteng tak kecil di pinggangnya. Kini ia langsung mencari pemilik warung.

Walaupun sempat melirik ke arah Aisyah, namun tak begitu dipedulikan olehnya. Karena saat ini yang ada di kepalanya adalah bagaimana agar ban sepedanya cepat kembali seperti semula.

“Punten! Permisi!” tanyanya.

Setelah ibu penjaga warung datang, anak laki-laki tadi berkata, “Mau tambal ban, bu!”

“Oh, tunggu, ya! Si Bapaknya lagi ke rumah Pak RT. Ibu nyusul ke sana dulu. Dekat, kok. Tuh, yang berwarna biru!” Ucapnya sambil menunjuk sebuah rumah berwarna biru yang berada di ujung jalan. Ia lalu bertanya untuk memastikan, “Nggak apa-apa?”

Anak laki-laki itu berkata singkat, “Nggak apa-apa.” Ia tahu jawabannya membawa konsekuensi pada waktu yang harus ia habiskan lebih banyak untuk menunggu suami dari ibu separuh baya tadi datang. Ia hanya berusaha ikhlas walau permainan adu cepat dengan teman-temannya tak mungkin ia menangkan.

Aisyah melihat ibu separuh baya itu pergi dengan tergopoh gopoh. Kini ia hanya berdua dengan anak laki-laki yang seumuran, yang tak dikenalnya.

“Anu…” kata Aisyah, “Sepedanya bocor, ya?”

“Hm?” tanyanya sambil menoleh, “Iya, tadi ban belakangnya kena paku. Kamu… anaknya ibu yang punya warung ini?”

“Oh, bukan! Kebetulan lewat dan capek, jadinya beli minuman.”

“Memangnya mau ke mana?”

“Sebenarnya nggak tau. Mungkin cuma kabur gara-gara nggak dibeliin bar…”

Perkataan Aisyah terhenti sebelum mengucap kata ‘barbie’. Ia baru sadar kalau ia sudah berkata terlalu jauh kepada orang yang bahkan belum dikenalnya.

Anak laki-laki itu mengerutkan dahi meminta kejelasan kalimat yang belum selesai tadi, tapi ia tak pernah mendapatkannya karena anak perempuan di hadapannya memalingkan wajah.

Saat itu ibu penjaga warung tadi datang dengan suaminya sambil menjelaskan pada anak laki-laki itu kalau ia tak bisa mengurus ban.
Setelah urusan ban selesai, anak itu pamit untuk melanjutkan perjalanannya. Ia melihat ban belakang dan memegangnya. Setelah memastikan tak ada lagi masalah pada hal itu, ia tersenyum dan menaiki sepedanya hingga senyumnya terhenti karena ada seseorang yang bertanya, “Bolehkah aku ikut?”

Orang yang bertanya tersebut adalah anak perempuan yang saat ini duduk di atas kursi bambu. Ia melanjutkan, “Kau mau pergi ke arah sana, kan?”

“Iya, sih, tapi…”

“Sudahlah. Ya?”

Untuk menghindari perdebatan yang akan menyita waktunya lebih lama lagi, anak laki-laki itu akhirnya mengiyakan. Ia memperbolehkan anak perempuan yang belum begitu dikenalnya itu menduduki kursi penumpang di jok belakang.

Di perjalanan, ia bertanya, “Kau ingin kuturunkan di mana?”

“Di tempat tujuan kamu dan teman-temanmu untuk mengakhiri perjalanan sepeda kalian.”

Jawaban Aisyah membuatnya kaget karena ia sama sekali belum menyinggung tentang teman-temannya. Namun kekagetan itu sedikit hilang dengan penjelasan Aisyah dengan analisisnya. Setelah pertanyaan itu, tak ada lagi percakapan lain yang muncul karena Aisyah lebih memilih untuk bertanya pada dirinya sendiri, Kenapa aku malah ikut dengan anak laki-laki ini? Apalagi ke daerah yang jauh dari rumah? Bagaimana kalau ia nggak mengantarkanku pulang? Bagaimana kalau ia dan teman-temannya itu punya niat jahat? Begitu pula dengan anak laki-laki yang kini juga lebih memilih memikirkan berbagai pertanyaan yang muncul dari dalam benaknya, Aduh, kenapa aku malah mengiyakan? Bagaimana kalau nanti ditertawakan teman-teman?

Desir angin dan gesekan ban yang berhenti menghentikan pikiran-pikiran dalam benak mereka.

Aisyah bertanya, “Kenapa berhenti?”

“Anu… Di pertigaan ini belok kanan atau kiri, ya…?”

“Jangan bilang kamu lupa jalannya.”

“Sepertinya begitu. Ini baru kedua kalinya aku ke sini. Padahal pertigaannya begitu banyak. Yang kuingat –dan sudah kita lewati tadi- adalah kanan, kiri, lalu… kiri kalau tidak salah, terus kanan, lalu… lupa. Padahal kalau saja bersama salah satu temanku, nggak mungkin tersesat.”

“Kalau gitu, mungkin belok kanan. Mau ke puncak Gunung Galuh, kan?”

Setelah anak laki-laki itu bertanya bagaimana Aisyah bisa tahu, yang ditanya menjawab singkat, “Arah yang bertolak belakang dengan rumahku, yang katanya sering dipakai anak-anak bermain ya Gunung Galuh ini.”

Sebetulnya lebih tepat jika dipanggil dengan sebutan Bukit Galuh, bukan Gunung. Karena tingginya tak lebih dari lima ratus meter dari permukaan tanah.

“Oh… Sebenarnya aku juga berpikir untuk belok kanan. Tapi karena aku membawamu, terlalu riskan mengambil risiko.” Kata anak laki-laki itu.
Aisyah menyarankan untuk bertanya pada orang yang ada di sana. Tapi saat mereka menoleh ke segala arah, tak ada siapapun di sana kecuali jalan, pepohonan, dan semak belukar.

Akhirnya mereka memilih untuk belok kanan. Namun tak berapa lama setelah mengambil arah itu, anak laki-laki menyadari kalau awan hitam muncul. Yang ia takutkan saat itu adalah hujan muncul, padahal di sana tak ada tempat untuk berteduh. Dengan perasaan khawatir, ia bertanya, “Bagaimana, nih? Sepertinya hujan akan turun. Tetap naik atau berbalik?”

Aisyah terdiam. Ia lalu menjawab, “Pilihlah jalan yang kamu percayakan.”

Seolah baru mendengar kalimat bijak yang pertama kali di dengarnya, anak laki-laki itu menghentikan sepedanya. Ia menunduk dan menghela nafas. Hal yang ia lakukan saat itu adalah memutar sepedanya kembali ke arah mereka muncul.

Mereka tiba di pertigaan pertama, lalu berbelok ke arah kiri. Saat itu rintik-rintik hujan mulai turun. Dengan agak panik, anak-laki-laki itu memacu sepedanya dengan kecepatan yang lebih tinggi. Mereka tiba di pertigaan kedua dan berbelok ke kanan. Saat itu tetesan-tetesan air hujan sudah begitu kejam menusuk punggung mereka, menghadirkan dingin yang amat sangat, apalagi dibalut dengan angin yang berhembus seiring dengan semakin cepatnya sepeda itu berjalan. Tapi saat tiba di pertigaan ketiga, anak laki-laki itu menghentikan sepedanya. Dengan setengah berteriak melawan suara angin yang kencang ia bertanya, “Hei! Apa kau ingat dari sini ke arah mana!?”

Aisyah berteriak sambil menahan dingin yang ia rasakan, “Sejak tadi aku tak pernah memperhatikan jalan!!”

Anak laki-laki itu memutuskan untuk belok kiri. Setelah beberapa saat tak menemukan pertigaan yang lainnya, mereka menemukan sebuah warung kecil kosong yang layak mereka jadikan tempat berteduh.

Dengan nafas tak teratur, mereka berlari untuk berteduh di sana. Anak laki-laki itu mempersilakan Aisyah duduk di tempat duduk yang terbuat dari bambu, di sebelah dalam. Sementara ia lebih memilih untuk duduk di dekat pintu masuk.

Tak berapa lama ia meminta maaf pada Aisyah. Ia mengaku kalau dirinya tak begitu pandai dalam mengingat jalan. Ia begitu menyalahkan dirinya yang mengiyakan saat Aisyah meminta ikut. Tapi permintaan maaf itu segera dibalas dengan permintaan maaf lain dari Aisyah dengan gigi bergemeletuk, “Harusnya… Harusnya aku yang minta maaf. Gara-gara aku, kamu… kamu malah… nggak jadi bermain bareng teman-temanmu…”

Anak laki-laki yang memeluk dirinya sendiri untuk menghangatkan badan itu melihat Aisyah begitu pucat. Ia teringat akan baju ganti yang ia bawa di dalam tasnya. Segera dibukanya resleting tas pinggangnya untuk mengeluarkan sebuah kemeja yang agak basah.

Ia menawarkan baju itu, “Hei, Kau! Buka bajumu!”

“HAH!?” Tanya Aisyah kaget.

“Maksudku, ganti dengan baju ini!”

“Nggak! Lagipula…” Ia menghela nafasnya yang tidak teratur, “lagipula itu kan punyamu!”

“Dengar, jangan mentang-mentang kau suka warna pink dan baju ini berwarna hitam kau nggak mau memakainya!”

“Bagaimana kau tahu aku suka warna pink?”

“Apa yang disukai anak perempuan berkaos pink, bersandal pink, dan berjam tangan pink selain warna pink? Dengar, di kondisi seperti ini, kita nggak punya orang tua yang diandalkan, kita nggak tau arah dan terjebak hujan, aku nggak mau ada perdebatan. Segera ganti atau kau akan sakit.”

“Kau sendiri?” Tanya Aisyah sedikit khawatir.

Anak laki-laki itu melemparkan kemeja miliknya pada Aisyah lalu berbalik ke belakang. “Aku tak akan mengintip. Kalau sudah selesai, bilang.”

Tak lama kemudian Aisyah memberi isyarat tanda kalau proses ganti bajunya sudah selesai. Anak laki-laki itu lalu meminta Aisyah untuk memeriksa suhu tubuhnya. Setelah mengetahui kalau tubuh anak perempuan di sampingnya itu sedikit lebih panas dari biasanya, ia memintanya untuk menunggu. Sebelum Aisyah bertanya alasannya, ia sudah terlanjur pergi.

Aisyah kini sendiri, ketakutan. Ia manatap keadaan di luar warung kosong –yang boleh dibilang gubuk- yang kini mulai gelap. Air hujan turun begitu deras. Saking kencangnya angin yang berhembus membuatnya turun dengan kemiringan hampir 45 derajat. Ia amat berharap anak laki-laki itu segera kembali, sehingga tak membuatnya sendiri.

Sebuah cahaya tampak di atas langit dan menghilang dengan cepat diikuti petir yang menggelegar. Tetesan air yang begitu besar membuat atap warung yang ditempati Aisyah benar-benar mengkhawatirkan. Beberapa ranting pepohonan berjatuhan, bahkan salah satunya jatuh tepat di depan pintu masuk warung itu yang tak berpintu itu.

Dalam kondisi setengah ketakutan itu Aisyah merasa kalau dirinya kini agak demam. Ia semakin mendekapkan kedua tangannya melingkari kedua kaki yang ia naikkan ke atas kursi bambu. Punggungnya yang sejak tadi menempel seolah sudah tak kuat lagi berdiri tegak. Dalam kecemasannya itu ia teringat ibunya. Aisyah bergumam, “…Ma…”. Ia membayangkan kalau ibunya kini mungkin khawatir menunggunya. Ia juga teringat ayahnya yang mungkin kecewa karena ia malah pergi hanya gara-gara tak dibelikan boneka Barbie yang diinginkannya.

Saat itu ia teringat kalau ayahnya pernah berkata, “… Di manapun kita berada, Allah selalu bersama kita….” Hal selanjutnya yang ia lakukan adalah berdoa dengan lidahnya yang mulai kelu, dengan bibirnya yang mulai membiru… “Ya Allah… izinkan Syah kembali ke Papa dan Mama… Syah janji nggak akan ngambek ke mereka lagi…”

Dalam harapan pada sang pencipta itu, Aisyah melihat dari jauh kalau anak laki-laki tadi sudah kembali dengan tangan yang digenggamnya rapat-rapat. Setelah masuk ke dalam warung dengan nafas yang terengah-engah, ia membuka genggaman tangannya dan menunjukkan segenggam buah kersen. Ia lalu berkata sambil menyerahkan isi genggaman tangannya pada Aisyah, “Sebelumnya aku berharap menumukan pohon belimbing atau jambu. Tapi yang bisa kutemukan tak jauh dari sini hanyalah ini. Makanlah….”

Aisyah menerimanya, namun kembali menawarkan. Anak laki-laki itu hanya mengambil sedikit. “Sebetulnya bukan buah kersennya yang penting, melainkan bagaimana cara agar perutmu nggak kosong. Soalnya saat ada bagian tubuh kita yang masih kerja, biasanya secara otomatis tubuh kita bakal ikut aktif, termasuk memperlambat penyebaran penyakit.”

“Tapi…” tanya Aisyah.
Anak laki-laki itu memotong pertanyaannya. “Lupakan. Aku terbiasa

bermain bola saat hujan, kok. Memang, sih, kalau tak beruntung bakal sakit. Dan itu sering. Tapi Alhamdulillah lebih sering nggak sakit. Semoga yang ini juga nggak. “

“Bukan itu… Bagaimana kau bisa tahu tentang biar perut nggak kosong?”

“Oh…” jawabnya malu, “Ayahku yang mengajarkan. Dan aku senang menerimanya. Bagiku, beliau adalah ayah terhebat. Walaupun kadang aneh.”

“Aneh?”

“Kau tahu apa pernah ia ajarkan? Ayahku pernah memberitahu daun-daun apa saja yang bisa dimakan, jamur-jamur mana yang beracun, bahkan sampai bagaimana caranya memakan tanah saat tak ada apapun yang lain untuk dimakan.”

Aisyah kaget sampai anak laki-laki itu melanjutkan, “Semua itu diajarkannya agar aku bisa berhi… berhijid..? Berhijad? Aduh, aku lupa namanya apa. Pokoknya semacam berjuang agar kita bisa mendapat berbagai kenikmatan!”
Bunyi petir terdengar berbarengan dengan berakhirnya kalimat yang diucapkan anak laki-laki itu.

Dengan seluruh badan yang basah kuyup, ia melangkah menuju tempat duduknya seraya melanjutkan, “Yang dikatakan padaku beda dengan yang dikatakan pada adikku. Ia pernah berkata pada adikku satu-satunya itu saat kami sekeluarga sedang bermain di halaman rumah, -dia perempuan, tahun ini mau masuk TK-, katanya, Ade kalau udah gede bakal lebih cantik kalau pakai kerudung kayak Mama… Soalnya rambut perempuan itu akan lebih indah kalau dijaga dengan kerudung, sebab kalau terus-terusan dibuka, keindahannya lama-lama bakal hilang… Padahal apa yang dibilang ayahku beda sama apa yang dibilang guruku di sekolah agama. Guruku bilang….”
Aisyah masih menatap ke anak laki-laki itu yang masih memberikan penjelasan. Namun yang ada dipikirannya adalah fakta bahwa saat ini ia belum memakai kerudung. Padahal beberapa teman di kelasnya sudah memakainya.

Setelah anak laki-laki itu menyelesaikan penjelasannya, Aisyah tersenyum.

Hampir berbarengan dengan bunyi petir yang berbunyi cukup lama setelah kilatan cahayanya terlihat. Hampir berbarengan dengan berkurangnya keinginan sang awan untuk menumpahkan beban air yang ditampungnya. Juga hampir berbarengan dengan matahari yang muncul dari persembunyiannya di arah barat.

Perbincangan itu tak hanya melupakan demam kecil yang Aisyah rasakan, tapi juga memberikan sebuah inspirasi baru untuk Aisyah. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk memulai memakai kerudung esok hari, tentu jika kondisinya baik untuk sekolah, walapun hanya tinggal menunggu pembagian raport Sabtu ini.

Hujan berangin kencang itu menghilang secepat ia muncul. Anak laki-laki itu meminta waktu agar pakaiannya sedikit lebih kering. Ia tak mau ambil risiko masuk angin karena besok masih harus sekolah. Di sela menunggu, anak laki-laki itu masih asyik menceritakan bagaimana keluarganya. Ceritanya berhenti setelah ia merasa siap untuk mengantar Aisyah pulang. Namun karena ia lupa jalan pulang, mereka terpaksa menunggu ada orang yang lewat sambil bercerita satu sama lain.

Matahari yang hampir tenggelam menyimpulkan cerita Aisyah yang mengaku kalau dirinya agak manja, sehingga apapun yang ia inginkan harus selalu terpenuhi. Anak laki-laki itu turut menyimpulkan bahwa untuk seorang anak bungsu, sifat manja adalah hal yang wajar selama tak berlebihan.

Malam yang hampir menjelang mengakhiri cerita anak laki-laki yang bercerita tentang kunjungan ke Gunung Galuh yang akan sering ia lakukan tiap dua minggu sekali. Aisyah ikut mengakhirnya saat ia mengatakan tertarik untuk ikut bermain ke sana bersama anak laki-laki itu.

Seorang bapak-bapak, dengan sepeda kumbangnya, melewati warung tempat mereka berteduh. Dari dia lah Aisyah dan anak laki-laki itu mengetahui jalan pulang.

Ketika sampai di depan rumah, anak laki-laki itu menolak untuk masuk karena hari sudah terlanjur malam. Ia takut orangtuanya khawatir. Sebelum berpisah, anak laki-laki itu meminta Aisyah untuk menyampaikan permohonan maaf kepada orangtuanya akibat membawa anak perempuan mereka bersepeda di tengah hujan.
Setelah mengatakan, “Kamu nggak salah, kok”, Aisyah meminta anak laki-laki itu datang ke tempat warung bertambal ban tempat mereka bertemu. Ia ingin mengembalikan kemeja yang saat ini dipakainya di sana.

Setelah anak laki-laki itu berkata bahwa hari minggu adalah waktunya, Aisyah mempersilakannya pulang.

Aisyah mengetuk pintu dengan perasaan senang. Bukan hanya karena demamnya yang hilang, melainkan juga karena hari itu ia telah bertemu dengan… Oh, ia baru sadar kalau sejak tadi mereka belum bertukar nama. Saat Aisyah memalingkan muka kea rah di mana anak laki-laki itu menurunkannya, ia mendapatinya telah menghilang. Dalam hantinya ia berkata, Akan kutanyakan namanya minggu depan.

Saat pintu rumah dibukakan, ia begitu bersemangat masuk tak sabar untuk menceritakan pengalamannya bersama anak laki-laki yang baru saja dikenalnya itu. Tapi ia merasa waktunya tidak tepat karena begitu masuk, ia langsung disambut dengan kekhawatiran dari kedua orangtuanya.
Ibunya memeluknya, “Dari mana saja? Mama khawatir!”

“Tadi Syah dari….” Perkataannya terpotong saat pelukan itu dilepaskan Ibunya.

“Syah,” kata suara bijak yang dikenalnya, suara ayahnya, “Kamu nggak perlu kabur. Bukankah papa tadi pagi bilang kalau papa belum bisa memberikannya?”

Ayahnya memeluk Aisyah dengan begitu hangat. Ia lalu melanjutkan, “Insya Allah boneka barbie berbaju pink itu akan papa berikan Sabtu nanti, bertepatan dengan saat kita pindah rumah.”

***

Aisyah masih mengenang momen itu, saat di mana untuk yang pertama kalinya ia begitu mengagumi seseorang. Ia memang tak pernah tahu, bahwa sehari setelah ia dan keluarganya pindah rumah, anak laki-laki itu datang ke warung bertambal ban.

Anak laki-laki itu menerima kemeja miliknya –yang dititipkan- dari ibu penjaga warung. Tapi tak pernah bisa memberikan sebuah benda yang ingin ia berikan sebagai permintaan maaf, sebuah boneka Barbie berbaju merah muda, karena anak perempuan yang ingin ditemuinya telah pindah.

***

Untuk pertama kalinya sejak ia mengagumi sosok anak laki-laki yang belum ia ketahui namanya itu, ia kembali kagum. Di sekolahnya kali ini, SMP N 1 Ciamis, ia bertemu dengan anak laki-laki yang cerdas, mudah bersosialisasi, berjiwa pemimpin, dan pandai dalam berbagai hal.

Anak laki-laki itu baru saja meraih ranking pertama parallel di sekolahnya, di akhir tahun, ia juga terpilih sebagai wakil ketua MPK, memiliki banyak teman yang dikenal dan mengenalnya, pernah juara pidato, baik bahasa Indonesia maupun Inggris, juara matematika, dan banyak lagi. Satu lagi yang membuatnya kagum adalah anak laki-laki itu selalu shalat dzuhur di mesjid sekolah walaupun tidak sedang dalam masa istirahat. Nama anak laki-laki itu adalah Amar.

Sejak kelas satu, mereka adalah saingan. Dalam tiga catur wulan, Aisyah selalu berhasil mengalahkan Amar. Namun di semester kali ini giliran Amar lah yang mengalahkannya. Anehnya ia justru malah lebih menyukai posisinya sebagai ranking kedua.

Saat Amar mendapat raport yang berisi nilai terbaik di kelas, Aisyah menjadi orang pertama yang menyalaminya dan memberikan ucapan selamat.
Saat diberi kabar kalau dia akan ikut lomba cerdas cermat dan satu tim dengan Amar –dan aku-, dialah yang pertama kali meminta kami –lebih tepatnya Amar- untuk belajar bersama menghadapi perlombaan itu.

Saat ada tes dari sekolah untuk menyaring masing-masing seorang siswa laki-laki dan perempuan untuk mengikuti perlombaan siswa teladan, Aisyah dengan semangat mengikutinya, karena ia yakin Amarlah yang akan mewakili sekolahnya dari siswa laki-laki. Namun semangat itu harus ia akhiri dengan kekecewaan sebagai peringkat kedua , setelah dikalahkan siswa perempuan dari kelas lain. Kekecewaan itu begitu besar, hingga membuatnya mengambil satu kesimpulan kalau ia tak hanya mengagumi Amar, melainkan lebih. Boleh dikatakan menyukai.

Rasa suka itu ia pendam dalam-dalam dengan kata. Aisyah hanya berharap Amar mengetahui perasaannya dengan tingkah laku yang ia tunjukkan. Namun seiring waktu berjalan hingga mereka menjadi siswa akhir tahun tak juga membuat Amar mengerti di matanya.

Hingga pada suatu hari rasa suka itu menjadi kecewa saat tahu kalau Amar dikabarkan dekat dengan pelajar dari sekolah yang berbeda. Rasa kecewa itu yang membuatnya ingin melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Amar. Saat Amar dikabarkan berpacaran dengan pelajar itu, Aisyah pun berpacaran dengan siswa lain yang masih satu sekolah dengannya, karena kebetulan siswa tersebut mengajaknya menjadi pacarnya.

Kekecewaan itu kini memuncak. Ia sudah sering berbicara dengan teman-teman terdekat Amar. Ia juga lebih sering mengajak Amar shalat dzuhur saat Amar mulai lebih memilih memprioritaskan belajar untuk persiapan UAN daripada shalat. Tapi apa yang ia lakukan nihil. Apa yang selama ini ia lakukan tak menghasilkan apapun.

Aisyah begitu ingin menumpahkan air yang sudah memenuhi kelenjar di matanya itu. Ia tak tahan. Akhirnya ia memutuskan untuk mengaku pada orang yang disukainya itu. Ia menghampiri Amar yang sedang duduk sendiri di mejanya. Ia meminta Amar menyiapkan selembar kertas, dan menuliskan segala yang ia pikir perlu dituliskannya, termasuk satu kalimat yang baru saja ia tulis, “Aku capek… Kenapa, sih, kau nggak menyadarinya?”

Dalam kekecewaan yang berujung kesedihan itu Aisyah merenung dalam hatinya. Hanya diam yang bisa sedikit tenangkan hatinya sambil mengenang ingatan menyebalkan tentang kenangannya bersama dua orang yang ia kagumi selama hidupnya, yang tak pernah memberikan akhir bahagia untuknya.

Tanpa ia sadari, air mata sudah mengalir di pelupuk wajah Aisyah.

Kenapa? Tanyanya.