Chapter 1 : Dimulainya Sebuah Pertaruhan

Ciamis, 2002

“Mar, bangun! Araf sudah nunggu dari tadi, tuh!

Suara ibunya yang menggelegar mau tak mau membangunkan Amar. Ia berusaha untuk duduk, mencoba menyadarkan dirinya sendiri.

“Makanya kalau habis Shubuh jangan tidur lagi!”

Dalam ketidaksadaran secara penuh Amar hanya bisa menjawab singkat, “Ya, Ma.”

Ibunya Amar kembali ke luar kamar. Ia menuju ke luar rumah, mengajakku untuk masuk. Tapi aku menolak sambil berusaha terlihat ramah. Setelah itu, ia kembali ke dalam, melanjutkan pekerjaan pagi hari yang seharusnya dilakukan oleh seorang ibu.

Rumahku dan rumah Amar sebetulnya cukup jauh, terbentang setengah kilometer jaraknya. Namun khusus hari ini, Amar memintaku datang menjemputnya agar bisa berangkat ke sekolah bersama-sama. Dengan sedikit keengganan, aku mengikuti kemauannya.

Inilah untuk yang pertama kalinya aku berkunjung ke rumahnya. Aku masih terduduk saat melihat ke seberang jalan. Rumah Amar terletak tepat di depan pertigaan jalan. Hal itu bisa membuatku melihat dengan lurus jalan menuju ke arah selatan.

Aku beranjak dari teras rumah Amar menuju halamannya yang luas. Halaman itu berukuran sekitar enam kali lima belas meter, dengan hampir seluruh permukaannya ditutupi oleh batako, kecuali di depan sebuah ruangan berjendela dan di belakang pagar. Pengecualian itu diisi oleh taman rumput yang ditanami beberapa jenis tanaman mulai dari tanaman anak nakal sampai pohon cemara. Pagar rumah Amar sendiri sebetulnya berwarna hijau. Namun pada beberapa bagian, catnya tampak pudar.

Pada jarak sekitar enam meter dari depan pintu masuk, aku mengamati rumahnya. Rumahnya yang hanya setingkat tampak begitu megah. Namun sayang, sama seperti pada pagar, beberapa cat putih, sudah mulai pudar. Hal itu membuatnya tampak seperti rumah besar yang kurang begitu terurus.

Hanya beberapa menit setelah ibunya Amar masuk, Amar keluar. Ia kini sudah berpakaian seragam dengan tas ransel di pundaknya. Pakaian seragam itu sebetulnya biasa-biasa saja, namun karena Amar boleh dikatakan kurus, pakaian itu terlihat sedikit lebih besar.

Secara fisik, Amar bukanlah seorang yang proporsional. Berat badannya kurang lima sampai sepuluh kilogram dari berat badan ideal untuk tubuh seukurannya. Tulang pada pergelangannya terlihat. Hidungnya yang agak bengkok, dahinya yang lebar, dan posisi setengah bungkuk yang sering dilakukannya terutama saat duduk bersila dan jalan membuatnya tampak terlihat lebih tua. Pun begitu dengan kantung mata yang sedikit tampak di bawah matanya semakin meyakinkan siapapun yang melihatnya bahwa Amar adalah seorang yang kurus dan kurang menarik, persis dengan ciri-ciri yang ada pada diriku. Siapapun yang baru mengenal kami akan cukup sulit membedakannya. Perbedaannya hanya bibir yang cukup tebal dan bentuk muka lonjong miliknya.

Namun terlepas dari itu semua, sorot mata seorang Amar yang memancarkan semangat, senyum yang ia pasang, dan keramahan yang ia tampakkan membuat semua kelemahannya hilang seketika. Hal itu pula yang ia tunjukkan sesaat setelah keluar dari rumahnya, untuk menyambutku.

Tak lama setelah berbincang mengenai hasil penunjukkan kemarin yang membuatnya terpilih sebagai wakil ketua Mejelis Perwakilan Kelas (MPK), kami segera berangkat menuju sekolah dengan kendaraan umum.

Sekolah Menengah Pertama 1 Ciamis tertetak tepat di jantung kota Ciamis bersebelahan dengan kantor bupati yang menghadap ke arah Mesjid Agung Ciamis, dipisahkan oleh Jalan Sudirman. Sementara Mesjid Agung sendiri menghadap ke arah Taman Rafflesia, sebuah taman yang cukup luas dengan sebuah air mancur dangan tempatnya yang berbentuk seperti bunga Rafflesia Arnoldi. Paket Pusat-Kota tersebut kurang begitu sempurna karena hanya terdapat sedikit pepohonan di sana. Jika sinar matahari menyengat, panas yang dipantulkan ke jalan akan terperangkap dan membuat suhu di sekitar pusat kota tersebut menjadi semakin panas.

Untungnya aku dan Amar tiba saat mentari masih belum menunjukkan tajinya. Waktu masih menunjukkan pukul setengah enam saat kami tiba dan melewati gerbang masuk sekolah. Di gerbang itu sudah berdiri Kang Udin, penjaga sekolah berkumis cukup tebal, dan Pak Agus, guru olahraga yang sangat memegang prinsip kedisiplinan dengan tegas. Kami menyapa mereka sambil memberikan senyuman setengah-terpaksa.

Setelah menanyakan kunci ruangan MPK dan mendapatkannya, Aku dan Amar mengucapkan terima kasih dan tersenyum –kali ini tanpa terpaksa. Setelah melihat mereka membalas senyuman kami dengan senyuman pula, kami pun berpisah. Aku melangkahkan kakiku menuju kantin yang letaknya di belakang sekolah, sementara Amar langsung menuju ruang kerja MPK.

Amar melangkahkan kakinya dengan gontai. Ini adalah rapat pertama yang harus diikutinya sebagai seorang wakil ketua. Ia mengagendakan sebuah rapat perdana di pagi ini setelah aku, ketua MPK terpilih, meminta untuk itu. Hal itu sebetulnya cukup memberatkan Amar. Dengan letak rumahnya yang berjarak sepuluh kilometer dari sekolah, agak sulit baginya untuk tiba sepagi ini. Untunglah di MPK ada salah satu nama yang rumahnya ternyata berjarak tidak terlalu jauh, aku. Setidaknya bisa berangkat bersama.

Langkah kaki yang diambil Amar telah membawanya ke sebuah ruangan yang terletak di samping kelas 2-D, ruangan OSIS-MPK. Kedua organisasi itu tidak memiliki tempat masing-masing sehingga dibutuhkan koordinasi masalah ruangan jika akan ada rapat internal. Ruangan tersebut tidaklah luas, hanya berdimensi alas empat kali dua setengah meter yang memanjang. Di sana terdapat sebuah lemari besar tempat menyimpan berbagai tetek bengek keorganisasian. Lemari itu sengaja diletakkan di tengah ruangan menghadap ke satu-satunya pintu di ruangan tersebut sebagai ‘tembok’ baru. Jadi seolah-olah dalam ruangan tersebut ada sekat antara ruangan dua setengah kali tiga meter dan ruangan dua setengah kali satu meter yang dipisahkan lemari. Di ‘ruangan’ berukuran dua setengah kali tiga meter terdapat sebuah meja kecil dan empat buah kursi sederhana yang mengelilinginya, serta sebuah meja kelas beserta dua buah kursi lainnya.

Setelah melihat bahwa pintu di ruangan tersebut terbuka, Amar masuk. Ia memutuskan untuk duduk di salah satu dari empat kursi sambil melihat-lihat gambar pahlawan Indonesia yang terpampang di dinding ruangan. Tak berapa lama aku datang dengan membawa pisang karamel, sejenia gorengan dan gehu, salah satu makanan khas daerah Jawa Barat yang disajikan dengan tauge di dalam tahu yang digoreng. Sambil memakan makanan-makanan tersebut dan menunggu yang lain, momen itulah untuk kali pertama, Amar menjadi sahabatku.

Sejak kelas satu, Amar adalah seorang yang tergolong cepat menangkap apa yang diajarkan gurunya. Hal itu menyebabkan dia masuk ke tiga besar rangking di kelasnya sekaligus peringkat tujuh dari sekian ratus siswa kelas satu pada catur wulan pertamanya. Kemampuannya itu ia teruskan hingga kelas dua ini, sehingga jika dilihat dalam grafik, peringkatnya terus naik hingga saat semester pertama kelas dua (saat sistem pendidikan Indonesia berubah dari caturwulan menjadi semester) Amar berhasil merasakan bagaimana bahagianya berada di peringkat pertama secara paralel di SMP-nya.

Di kelas dua inilah, selain aktif sebagai wakil ketua MPK, Amar pun mulai aktif mengikuti berbagai perlombaan kestudian. Bahkan beberapa di antaranya berhasil menjadi juara, termasuk saat ia mengikuti lomba cepat tepat antar SMP denganku dan Aisyah, salah satu teman sekelas kami.

Seperti sebuah peribahasa, semakin tinggi sebuah pohon, maka semakin besar pula angin yang berhembus. Saat itulah untuk yang pertama kalinya Amar diterpa sebuah kelakar yang sudah biasa dialami oleh anak SMP, digosipkan dengan lawan jenis.

Namun ada sebuah keanehan pada gosip-gosip yang beredar. Gosip yang menimpanya selalu berujung pada kenyataan yang benar-benar terjadi atau jika tidak malah berbalik menerpa seseorang yang dipercaya sebagai orang yang menyebarkan gosip itu.

Tak pelak keanehan itu menjadi teka-teki yang membuatku bertanya. Hingga pada suatu saat setelah membahas sebuah agenda tentang kinerja OSIS, aku menanyakan hal itu padanya saat ruangan kosong.

“Aku juga nggak tahu kenapa itu bisa terjadi. Yang ku tahu…” Amar menghentikan penjelasannya saat menatap wajahku. Tampak keengganan menyelimuti wajahnya. Ia tak jadi melanjutkannya dan malah mengajakku pergi.

Akhir tahun 2002 ditutup dengan sebuah pengumuman akan diadakannya perlombaan siswa berprestasi. Amar menjadi perwakilan dari SMP kami setelah menyisihkan beberapa saingannya termasuk aku. Namun ada sesuatu yang mengganjal. Ia agak kecewa karena yang akan mendampingi sebagai perwakilan siswi berprestasinya bukanlah Aisyah. Namun kekecewaan itu sedikit terobati dengan raihan juara kedua yang diperolehnya di tingkat provinsi.

Minggu demi minggu berlalu. Kedekatanku dengan Amar sudah seperti sebuah mata koin yang tak terpisahkan. Aku mulai berani untuk membagi pengalaman-pengalamanku. Hal itu perlahan membuat kepercayaan dirinya terhadapku tumbuh. Akhirnya pada suatu sore di kantin belakang yang menghadap Gunung Galuh, sebuah pembicaraan berujung pada satu topik yang sejak dulu ingin kutanyakan. Setelah yakin bahwa aku tak mungkin mendapatkan keuntungan jika menyebarkan berita itu, ia berkata, “Masalah rumor yang katanya ujung gosip itu ada dua –menjadi kenyataan atau berbalik arah- akupun nggak tahu. Yang jelas, aku cuma tahu alasan pertama. Kau nggak akan percaya seperti apa aku saat SD…

“Aku adalah anak yang pendiam. Aku masih ingat, saat hari pertama di SD aku memilih duduk di kursi tepat di barisan ketiga dari depan meja guru. Saat itu aku nggak berani kenalan sama anak lain. Kau tahu? Saat istirahat, cuma aku satu-satunya yang nggak keluar kelas. Sampai tiba-tiba datang anak kelas tiga yang namanya Reza –Dia itu anak Bu Elis, wali kelasku-. Dia nggak sendiri, melainkan bersama Fauzy, teman semejaku, dan seorang anak lagi yang nggak kuketahui namanya.

“Reza tiba-tiba menggebrak mejaku sambil menyuruhku pindah! Ia bilang kalau kursi itu sudah dipesan oleh anak yang nggak kuketahui namanya tadi. Dengan sopan aku mencoba menjelaskan kalau aku sudah lebih dulu menempatinya. Tapi penjelasanku rupanya malah membuat Reza semakin menjadi. Ia menggebrak mejaku dengan lebih keras. Kau tahu? Itulah untuk yang pertama kalinya aku dibentak seseorang. Sebelumnya orang tuaku belum pernah sekalipun membentakku. Bayangkan! Wajar, bukan, kalau saat itu mataku langsung berair? Reza kalap, apalagi saat bel berbunyi dan ibunya datang. Ia langsung kabur tanpa menjelaskan apa yang terjadi. Yang kudengar keesokan harinya, ia dimarahi atas perlakuan itu.

“Tapi… Setelah itu ia malah semakin ingin menjadikanku sebagai targetnya. Ternyata sebelum aku, ada anak lain –kelas dua- yang menjadi korbannya. Kau tahu apa yang biasa dia lakukan pada targetnya? Jahil. Ia selalu menyembunyikan beberapa peralatan sekolahku saat istirahat…”

Amar menghentikan perkataannya sejenak. Ia manatapku, “Parah, ya?”

Aku hanya mengangguk datar dengan harapan ia mau melanjutkan ceritanya.

Amar mengarahkan pandangannya ke atas, mencoba menyatukan kembali puing-puing memoar masa lalunya… “Aku menjadi targetnya selama empat tahun. Selama itu pula aku selalu menangis tiap kali menjadi sasaran kejahilannya. Bayangkan, bagiku pergantian tahun itu seolah menjadi penantian kebebasanku… Ya, kupikir begitu. Tapi ternyata nggak. Aku nggak tahu ini kebetulan atau bukan, tapi di dua tahun berikutnya, giliran gosip yang membuatku memeras air mata walau nggak sesering tahun-tahun sebelumnya. Aku cengeng, ya? Makanya sejak saat itu, ada satu hal yang ingin kupatrikan dalam diriku. Hal itu adalah…”

Teguran dari penjaga sekolah untuk segera pulang membuat Amar mau tak mau harus membuatku tidak mendengar kalimatnya hingga akhir, bahkan hingga akhir tahun pelajaran.

Akhir tahun pelajaran itu ditutup dengan prestasi Amar yang luar biasa. Mulai dari seringnya menjuarai perlombaan-perlombaan antar sekolah, menjadi ketua MPK, menjadi juara kedua Perlombaan Siswa Berprestasi seprovinsi, hingga yang terakhir, menduduki ranking pertama paralel dari semua siswa SMP 1 Ciamis.

Hingga pada suatu hari, salah seorang temannya, Yoga, mendatanginya.

“Mar, nanti pulang sekolah ada yang mau ketemu di belakang kantin mie ayam.”

“Siapa?” Tanya Amar.

Yoga menjawab singkat sambil berlalu, “Sudah, lihat saja nanti.”

Amar datang sendirian ke tempat yang ditunjukkan temannya. Ia menemukan seorang anak perempuan dari kelas satu yang terlihat sedang menunggunya. Anak perempuan itu tampak malu-malu saat Amar mendatanginya. Pipinya menjadi kemerahan saat Amar menanyakan padanya, “Nunggu saya?”

“Iya.”

Jawaban anak perempuan itu membuat Amar bertanya-tanya. Dalam waktu kurang dari satu jam, ia sudah mengetahui siapa nama anak perempuan itu, dari mana asalnya, dan berbagai info lain yang sebetulnya tak ia butuhkan, serta yang paling utama: alasan meminta Amar untuk datang. Penjelasan-penjelasan itu membawa Amar menginjak pada suatu tahap yang belum pernah ia alami sebelumnya, pengakuan rasa suka.

Dengan sebuah tanda tanya besar, Amar mengambil keputusan yang cukup baik, namun belum bisa dikatakan bijak, memberi nomor handphone miliknya agar anak perempuan itu bisa menghubunginya atau menanyakan apapun kapanpun ia mau.

Selama beberapa minggu sebelum liburan kenaikan kelas itu, Amar belum menanggapi atau bahkan menerima pengakuan. Satu hal yang membuat perhatiannya beralih adalah mulai munculnya gosip yang beredar yang menghubungkan antara ia dengan anak perempuan kelas satu itu. Kemunculan gosip itu tak ditanggapi berlebihan oleh Amar. Hal itu terjadi karena sejak awal ia sudah menduganya. Saat gosip itu beredar, hatinya tersenyum. Dengan ini… Ke depannya akan lebih mudah…

Masa liburan akan dimulai saat Amar mendapat kabar bahwa ia lolos ke provinsi dalam lomba olimpiade untuk cabang matematika. Dari nama-nama yang lolos dari sekolahnya, ketidakmunculan nama Aisyah membuatnya sedikit kecewa. Kekecewaan terbesar dirasakannya saat mengetahui kalau perlombaan tingkat provinsi akan berlangsung tepat saat sekolahnya mengadakan tur wisata ke Yogyakarta, walaupun sedikit terobati dengan turut lolosnya sahabat terdekat Amar, aku.

Perlombaan tingkat provinsi yang diikuti Amar berlangsung di Cibiru, daerah Bandung timur. Dalam perlombaan itu, bayang teman-temannya yang sedang berlibur membuat konsentrasinya sedikit berkurang. Alhasil Amar tak menembus peringkat lima besar. Kekecewaan semakin bertambah setelah mengetahui tak ada seorang pun dari SMP 1 Ciamis yang lolos ke tingkat nasional.

Kelas tiga adalah kelas yang membuat semua siswa SMP mulai fokus terhadap pelajaran. Namun tidak bagi Amar. Ia masih berusaha untuk merealisasikan keinginannya saat SD, sama seperti apa yang pernah hampir ia katakan pada sahabat terdekatnya… Makanya sejak saat itu, ada satu hal yang ingin kupatrikan dalam diriku. Hal itu adalah… Saat memikirkan hal itu sambil tersenyum, Amar melanjutkan kalimat terpotong itu dalam hatinya, merealisasikan setiap gosip yang muncul

Tanpa sepengetahuan Amar, nomor handphone miliknya telah tersebar. Hampir setiap hari ada nomor-nomor jahil yang seolah hendak menelepon, tapi saat diangkat ditutup. Beberapa ia tanggapi, namun kebanyakan hanya menjadi kesiaan bagi orang-orang tak terpilih yang menjahilinya.

Ada salah satu teman Amar mengetahui hal itu, Yoga. Yoga adalah seorang yang memiliki sikap humoris cukup tinggi. Dengan jerawat yang terlihat di beberapa titik di wajahnya dan gigi yang berderet tak rata menunjukkan kalau secara fisik biasa saja. Namun dibalik semua itu, terdapat sebuah aura persahabatan yang luar biasa dalam dirinya. Siapapun yang baru pertama kali bersua dengannya akan tertarik untuk menyambut pembicaraan yang ia mulai.

Pertemuan Amar dan Yoga pun diawali dengan senyum darinya. Begitu pula dengan pertemuan hari ini, di depan ruang ganti pakaian di belakang kelas. Tak ada yang hilir mudik di sana karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Kalaupun ada, itu hanya anak-anak basket yang biasa berlatih lari mengelilingi sekolah yang melewati mereka.

“Hei, Mar! Kulihat akhir-akhir ini kamu sering banget buka hape. Kalau dengan insting detektifku, pasti lagi banyak sms yang masuk, ya?”

Amar menjawab sambil menunjukkan telepon selulernya, “Bukan cuma sms. Orang yang miscall juga banyak, nih…”

“Asyik, donk!” Sahut Yoga sambil melihat-lihat isi pesan masuk dengan tersenyum. “Tapi kalau bisa, tanggapi, tuh. Terserah mau menerima atau menolak…”

“Menerima? Memangnya pernikahan!?” tanya Amar dengan nada bercanda.

“Maksudku, jangan bikin mereka terus-terusan menelepon atau sms. Kasian, kan, membuang pulsa untuk sesuatu yang nggak pasti.” Kata Yoga dengan pendangan menatap handphone tapi bias.

Amar menopang dagu dengan tangan kanannya, “Ho…. Itu salah mereka sendiri, kan? Siapa suruh melakukan hal itu? Sudah, lah… Toh lama-kelamaan bakal berkurang…”

Setelah sempat terdiam untuk beberapa saat, Yoga menyerahkan kembali handphone Amar sambil bertanya, “Mar, Apa tadi Aisyah mengatakan sesuatu padamu?”

“Hah? Nggak. Mengatakan apa?”

“Masih ingat pembicaraan kita kemarin?”

“Pembicaraan yang mana? Kok pembicaraannya loncat sana loncat sini, sih?”

Yoga terdiam sejenak sebelum berkata sambil tersenyum, “Ah, lupakan.”

“Kok gitu?”

“Bukan sesuatu yang penting, kok.”

Mereka lalu membicarakan berbagai hal lain hingga lembayung jingga muncul di ufuk barat. Angin yang mulai bertiup dingin memaksa mereka mengakhiri pembicaraan dan berpisah pulang.

Beberapa hari sebelum menjalani kegiatan sekolah di kelas tiga, Amar mengikuti sebuah perlombaan menjawab pertanyaan sains via internet di Tasikmalaya. Dalam perlombaan yang diselenggarakan hingga malam itu, Amar mengalahkanku. Tapi ia kurang satu peringkat lagi untuk menjadi juara, karena juara saat itu diambil oleh tuan rumah. Saat pembagian hadiah bagi para pemenang, Amar berkenalan dengan orang yang mengalahkannya, April. Sejak saat itu, mereka saling berkomunikasi satu sama lain.

Komunikasi itu berujung pada sebuah kesempatan yang ditunggu Amar. Saat ia tahu kalau April adalah anak dari seorang guru di SMAnya, ia berkata kepadaku, “Dunia memang sempit, ya? Jelas ini bukan suatu kebetulan…”

Seperti yang sudah ia duga sebelumnya, salah satu kabar yang beredar di antara kabar-kabar lain yang menimpa Amar adalah tentang hubungannya dengan April. Spekulasi merebak mengatakan kalau mereka, yang notabene berbeda sekolah, sudah jadian. Namun spekulasi itu sedikit terbantahkan saat Amar diberitakan sedang menyukai seseorang dari sekolah yang sama dengannya.

Dalam suatu pagi saat ruangan kelas hanya terdiri dari Yoga, dan aku, Amar muncul. Kemunculannya diikuti oleh keingintahuan Yoga. Tak terpengaruh dengan adanya aku di sana, Yoga bertanya tanpa basa basi, “Kau menyukai seseorang?”

Amar hanya tersenyum. Namun senyumannya itu menyiratkan sebuah jawaban yang positif. Tanpa ragu lagi Yoga mengacu pada satu nama, “Shanty?”. Amar hanya menempelkan telunjuk di bibirnya sambil berdesis meminta Yoga untuk diam. Ia tak perlu menunggu Yoga pergi, karena setelah ia menanyakan tugas pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, Yoga terbelalak. Ekspresinya berubah menjadi tenang setelah Amar mau meminjamkan buku tugasnya. Ia kembali ke mejanya.

Aku menghampiri Amar dan mengajaknya keluar. Di luar kelas, giliran Amar yang terbelalak saat aku menyebutkan sebuah nama. Ia hanya bisa berkata, “Bagaimana mungkin kau tahu?”

Dengan sebuah senyuman bangga aku menyebutkan tiga kata yang mungkin telah menjadi ciri khasku. Sebelum aku menyelesaikan kalimat itu dengan sempurna, Amar terlebih dahulu memotongnya, “Iya, iya, ‘Aku kan detektif’! Dasar maniak Conan! Mm… Tapi… Tolong rahasiakan itu, ya!”

Aku mengiyakan dengan suatu syarat, Amar akan menceritakan apa yang sebetulnya ia patrikan dalam dirinya, yang belum sempat ia beritahukan padaku. Dalam beberapa hari ke depan, aku dikejutkan dengan sebuah berita yang mengabarkan kalau Amar memacari Indah, Rindu, dan yang terakhir, Shanty, siswi kelas tetangga. Dan saat kukonfirmasikan kepadanya, ia hanya mengangguk.

Keterkejutanku tak berlangsung lama karena pergantian hari yang berlangsung cepat. Pergantian itu menjadi sesuatu yang terlihat membosankan. Saat matahari menggantikan rembulan dan sebaliknya, rotasi kehidupan untuk makhluk hidup berputar. Jika saat sebelumnya seseorang bisa mendapat kesenangan yang sangat banyak, maka keesokan hari ia bisa mendapat sesuatu yang sangat menyakitkan.

Hal itu menimpa Amar. Dalam semester ini, grafik nilainya turun. Bahkan dalam beberapa mata pelajaran ia hampir mendapat nilai yang bisa membuatnya harus mengulang. Ia tahu, salah satu faktor yang membuatnya begitu adalah apa yang pernah ia bicarakan dengan Yoga. Walaupun begitu ia tahu, saat ini ia memiliki kesempatan lagi untuk segera merealisasikan satu kegilaan yang terpatri dalam dirinya.

Turunnya nilai menjadi satu alasan baginya untuk bisa lepas dari Shanty. Padahal yang sesungguhnya, tak lama sebelum mereka mengakhiri ‘petualangan’ yang mereka ciptakan sendiri, gosip antara Amar dan April kembali terdengar. Amar membuatku kaget setelah mengaku memulai ‘petualangan’ baru bersama April hanya satu hari setelah mengakhiri ‘petualangannya’ yang sebelumnya.

Sementara itu di sisi lain, kabar baru beredar saat Aisyah digosipkan sedang bersama dengan salah satu teman dekat Amar. Setelah mendengar hal itu, Amar tampak berbeda. Ia malah semakin mengoarkan hubungannya dengan April.

Semua berita yang beredar saat kelas semester akhir di kelas tiga membuatku dan Yoga bingung. Saat Amar semakin menyatakan secara terang-terangan akan cintanya pada April, Aisyah mengakui hubungannya dengan teman dekat Amar tersebut. Ia diberitakan menjalani masa pacarannya tak lama sebelum berganti pasangan. Hingga tiba pada suatu siang yang cukup terik di permulaan semester terakhir saat Yoga mengajak Amar ke mushala di jam pelajaran. Setelah diizinkan oleh guru bahasa Indonesia, mereka duduk di serambi, menunggu adzan dzuhur datang.

“Kamu aneh, ya?” sahut Yoga.

“Aneh kenapa?” balas Amar.

“Di kelas tiga ini, hampir setiap gosip yang beredar mengenaimu seolah menjadi kenyataan. Apalagi namanya selain aneh?”

“Nggak, kok. Itu cuma kebetulan.” Jawab Amar sambil menerawang ke langit biru yang tak terjangkau terik matahari.

Yoga menghela nafas, “Kamu tahu, apa yang ada dalam pikiranku dan mungkin pikiran teman-teman?”

Amar menggelengkan kepala sebelum Yoga menjawab dengan jawaban yang membuat Amar kaget, “Kamu playboy, ya…”

Kekagetan itu tak hilang walau adzan tiba. Dalam shalatnya, Amar tak menemukan kata kekhusyukan. Ia hanya memikirkan apa yang dikatakan Yoga.

Mereka kembali ke kelas tepat sesaat sebelum pelajaran bahasa Indonesia selesai. Amar, yang pada hari ini duduk di depan, hanya terdiam walaupun teman sebangkunya meminta izin untuk memberitahukan pada guru biologi yang akan masuk kalau ia pergi ke toilet.

Di tengah alam bawah sadarnya yang masih kacau, tiba-tiba Aisyah duduk di samping Amar. “Punya selembar kertas yang cukup besar?”

Amar mengorak-ngorek bagian bawah mejanya. Ia menemukan selembar cover buku cukup besar yang tak terpakai, namun masih bisa ditulisi sesuatu. Setelah menyerahkannya pada Aisyah, ia bertanya, “Untuk apa?”

Alih-alih menjawab, Aisyah menulis sesuatu di selembar cover buku itu, sehingga membuat Amar terdiam. Setelah menerima cover buku yang tadi ditulisi Aisyah, Amar membacanya. Di sana tertulis : “Apa kamu tahu kenapa aku melakukan itu?”

Karena tak tahu, Amar menulis dan menyerahkannya pada Aisyah, “Melakukan apa?”

Aisyah menulis, “Apa kau ingat apa yang biasa kulakukan setelah shalat kalau kita dalam satu jamaah?”

Setelah membacanya, Amar teringat kalau Aisyah sering menawarkan tangannya untuk bersalaman. Ia membalas dengan anggapan Aisyah sedang mengajaknya bercanda, “Ya, aku ingat! Salaman, kan? Wah… Pas gitu kita kayak pasangan yang sudah menikah, ya… Hehehe…”

Aisyah kemali menyerahkan cover buku yang telah ia tuliskan : “Apa kau tahu siapa yang paling sering kubicarakan dengan Yoga, Araf, atau teman-teman lainnya?”

Amar membalas, “Nggak tau… Hm… Memangnya siapa? Aku ya!? Hehehe…”

Aisyah kembali meneruskan pertukaran cover buku yang diisi oleh satu sama lain secara bergantian itu. Ia kini menuliskan sesuatu yang membuat Amar sadar kalau apa yang mereka lakukan bukan sekedar candaan. Tulisan itu sama sekali tak ada kaitannya dengan pertanyaan sebelumnya: “Apa kau tahu kenapa aku senang kelas ini nggak dipecah tiga tahun berturut-turut?”

“Nggak…”

“Apa kau tahu kenapa aku senang tiap kali akan ada perlombaan?”

Amar menunduk penuh tanya saat kembali menuliskan satu kata, “Nggak”

Kalimat berikutnya membuat Amar berprasangka, “Apa kau tahu kenapa aku sengaja menerima saat ada seseorang yang menembakku?”

“Nggak” jawab Amar singkat. Ia ingin segera mengetahui apa maksud Aisyah dengan semua itu. Namun Aisyah jutru memegang cover buku itu dengan cukup lama. Saat ini, untuk yang pertama kalinya Amar tak berani menatap mukanya. Yang ia lakukan hanya menunggu… menunggu cover buku itu kembali ke tangannya.

Akhirnya apa yang ia tunggu datang juga. Tulisan itu kini berbunyi, “Aku capek… Kenapa, sih, kau nggak menyadarinya?”

Berbagai spekulasi merebak dalam benak Amar. Namun ada sebuah yang terbersit sangat jelas. Amar mengira kalau Aisyah sedang mengatakan perasaan yang sebenarnya. Tapi pikiran itu segera ditepisnya dengan mengatakan sesuatu dalam hatinya, Ah, mana mungkin! Bukankah sekarang dia lagi jadian sama seseorang? Lagipula, apa mungkin seorang Aisyah yang kualitas ibadahnya jauh di atasku begitu? Apalagi dengan orang sepertiku… Nggak mungkin!

Amar sadar kalau ia belum memegang cover bukunya. Ia membaca tulisan tadi tanpa ia pegang. Alhasil Aisyah kembali membawanya dan kini… meremasnya!

“Anu…” Amar hanya bisa mengatakan itu saat menghadapkan wajahnya ke muka Aisyah. Namun sebuah pemandangan membuatnya sangat kalap. Ia melihat butiran air mata mengalir di atas wajah putih yang tertunduk. Aisyah menangis di hadapannya dalam diam.