Tertinggalkan kereta. Malang.

Bismillah.

Malang, bisa nama sebuah tempat di Jawa Timur, bisa juga arti lain dari ketika ga dapet keberuntungan. Dan Karafuru San mengalami keduanya sekaligus di waktu yang hampir bersamaan, seminggu yang lalu. (ini baru ditulis skarang gara2 internet yang putus-nyambung)

Kira2 tanggal 20-an April 2011, Karafuru San dapet undangan dari Amalia Sholihati, atas nama PMLDK bagian Indonesia Barat (iya kah? CMIIW). Karafuru San didaulat buat ngisi materi tentang Fund Raising terkait ke-LDK-an tanggal 1 Mei 2011 di Univ. Brawijaya, Malang. Hm, padahal yang seharusnya ngisi kan angkatan 2008 (secara, Karafuru San udah tua, angkatan 2007. Haha) Cuma pada saat itu Amal (begitu panggilannya) bilang kalo 2008 lagi ada agenda. Jadi gabisa.

Walah! Padahal tanggal 2-nya harus ngisi presentasi KESLING (nama mata kuliah di ITB, lengkapnya Kesehatan Lingkungan), yang katanya nilai presentasinya lumayan tinggi. Masalahnya, itu kelompok, bukan perorangan. Jadi ga enak kalo ga hadir. Di tengah bimbang itu (karena ongkos mahal, sementara total biaya pengganti gabisa nutup perjalanan pergi doank), akhirnya Karafuru San mengiyakan. Dengan syarat boleh ngajak partner. Maka dipilihlah si mantanartist, Gunawan Adi Waskito. Dan ada juga syarat tambahan: balik ke bandung harus hari senin tanggal 2 Mei 2011 sebelum jam 7 (soalnya jadwal presentasinya jam 7 pagi.. T_T)

Dan jadilah, Amal nyari tiket kereta, hari Jumat. Ternyata rada mahallll… Akhir pekan sih.. Berangkat pake ekonomi-Malabar (130ribu seorang) dan pulangnya pake executive-Turangga (255ribu seorang). Karafuru San ngecek jam sampe kereta Turangga: “Oke, sampe di Bandung jam 6 pagi hari Senin. Keburu, lah, dateng kampus walau tanpa mandi”. Si Turangga itu tapi ga berhenti di Malang. So, Karafuru terpaksa harus ngambil kereta ke Surabaya dulu, naik dari sana. Keretanya bakal berangkat jam 6 sore, mau ga mau Karafuru San harus sampe di stasiun Gubeng-Surabaya, sebelum jam 6 sore. Amal ngasih tau kalo dari Malang bakal ada kereta api yang ke Surabaya jam 12.30, jam 2, sama jam 3. Disaranin berangkat yang jam 2, soalnya perjalanan Malang-Surabaya kalo naik kereta sekitar 2,5 jam.

(kisah tentang ribetnya Amal milih jenis kereta buat pulang dihilangin biar menghemar space.. ^_^v)

Hari keberangkatan pun tiba. Sabtu, 30 April 2011. 15.30 WIB. Sesuai prediksi, kereta berangkat tepat waktu. Beberapa saat kereta berangkat, Karafuru San sama Gunawan diminta tuker tempat duduk oleh ibu2 gara2 dia dan anaknya bisa mual kalo ngadep ke belakang. Perlu dicatet, saat itu kami ada di gerbong ekonomi dengan formasi tenpat duduk 3-2. Saya sama Gunawan duduk di kursi buat 3 orang. Hohoho, sempitnyaaaa.. Di tambah ngeliat pemandangan yang maju ke belakang, bisa bikin muntah buat yang belum terbiasa.. Untungnya Karafuru San nggak. haha.

Sekitar sejam kemudian, ada kondektur yang ngecek tiket, dan semua aman, soalnya sesuai (menurut si kondektur), kecuali saya dan Gunawan yang udah bertuker tempat duduk sama ibu dan seorang anaknya itu. Di petugas pengeceknya sih oke-oke aja. kira-kira 9 jam kemudian, sampelah di Stasion Tugu, Yogyakarta. sebagian penumpang ada yang turun, dan ga sedikit juga yang naik.. NAH! Ada penumpang yang naik, rupanya tiketnya menunjukkan kalo dia harusnya duduk di tempat duduk yang saya dan Gunawan dudukin!!! NAH, LHO!

Ko bisa? Rupanya yang salah si ibu dan anaknya! Harusnya dia duduk bukan di gerbong 2, melainkan gerbong 1! Penumpang itu mempermasalahkan. Untungnya si ibu itu masih bisa berkilah, dengan nyuruh mereka ke gerbong 1. Kasian juga, malem2 dini hari, mau naik kereta, malah diusir. Untunglah penumpangnya baik, mereka pun mau pindah, walau terpaksa. Dalam hati, Karafuru San ngedumel: “Walah, ko petugasnya tadi ga teliti!?”

Kereta pun akhirnya berhenti di Malang jam 9 pagi. Ada satu kejadian sebenernya yang lupa diceritain. Harusnya Karafuru San ngisi jam 8.30. Cuma, gara2 keretanya dateng jam segitu (jam 9), mau ga mau panitia nge-switch. Jadi, dapetlah Karafuru San ngisi di sesi 2, jam 10.30. Pagi itu, setelah sampe, Karafuru San dan Gunawan, sarapan nasi rawon setelah malem berlapar-lapar ria (sempet ngisi perut pake POPMIE.. T_T).

Setelah sarapan, masih ada waktu, masih jam 9.30. “Mandi, yuk, Gun!” Ajak Karafuru San. Dan Gunawan pun mengiyakan. Biar enak, mandinya di mesjid aja.. Gunawan pun bertanya ke polisi perihal Mesjid terdekat. Si polisi itu bilang, “Oh, di mesjid Agung aja. Tinggal lurus, terus belok kiri.” “Deket, Pak?” “Deket ko…”

Dan kami pun melangkahkan kaki. Sambil menyusuri jalan, sambil foto2.. sayang nya fotonya masih di Gunawan, jadi lum sempet di-publish di sini.. Setelah jalan lurus tadi, ketemu sama simpang lingkar depan Gedung Pemerintahan. “”Wah, pasti di belakang Gedung ini” pikir Karafuru San. Begitu belok kiri, “LHO! Manaaaaa????”

Dari pada nyasar, Karafuru San nanya ke mbak2 yang ada di sana. Jawabannya: “Oh, terus aja, lurus terus”. Akhirnya Karafuru San pun jalan lurus. Ternyata melewati mes-nya PERSEMA (buat yang belum tau, itu nama klub di LPI yang ada Irfan Bachdim-nya)! Sayang lagi adem ayem, mungkin lagi di rumah masing-masing kali, para pemain persema-nya..

Hm… Perjalanan dilanjutkan… Tapi… Ko ga sampe!?

Akhirnya sampe:

1 kilo kemudian!!!! Dan itu dilalui dengan jalan kaki… “Segini deket, ya, pak polisi? haha… olahraga, OLAHRAGAAAA…”

Ngosh, ngosh… nafas Karafuru San ga bisa diatur…

Setelah ketemu Mesjid 2 tingkat, Karafuru San ngeliat kalo Mesjid itu dipager, dan dikunci. Nanya lah ke orang2 berpeci dan bersarung yang duduk-duduk di depan, “Mas, bisa numpang ke toilet?”

“Wah, gabisa, lagi dibersihin..”

GUBRAKKKK!!!! Baru tau kalo gabisa masuk mesjid gara lagi dibersihin. Padahal di menara mesjid, banyak anak2 lari-larian… heu..

Eh, bentar.. Jam berapa ini!?

Jam sudah menunjukkan pukul 10!!!!

Lum mandi. harus ngisi. belum dijemput. Ga tau Malang. Piye?

(bersambung ke Tertinggalkan Kereta. Malang. Bagian 2)

Advertisements

Karafuru Was Just Born

Assalamu’alaykum…

Alhamdulillah… Finally we have a new friend in Karafuru World!

She was just born when I woke up at 3 (actually because I forgot to shut down the computer… Sssst! Don’t tell anyone, especially to her) on 12-02-09 in another part of KarafuruWorld, KarafuruDragon. This is the part where Dragon can live. And actually, of course, you are absolutely able to adopt a dragon egg there!!! (Why don’t you try? Experiences are there, waiting for you!!)

About her name (why ‘her’? Cause my dragon baby is female), I called her Karafuru, the same name as you, guys, call me Karafuru… Why? Mm… Just wanna make her to have a colorful soul…

Let hope the best for her…

Dragonadopters

Cinta dan Naga

basmallah

Assalamu’alaykum…

Cinta mengingatkan Karafuru San ke ibu yang selalu berharap-harap cemas saat Karafuru San masih dalam perutnya…
Cinta mengingatkan Karafuru San ke ayah yang mempersiapkan segala sesuatunya hanya untuk kelahiran Karafuru San…
Mereka (saat itu) tak tahu yang akan mereka lahirkan laki-laki atau perempuan… Mereka pun tak tahu akan seperti apa anak mereka nanti…
Tapi tetap, mereka berikan segala yang mereka bisa berikan, dengan penuh cinta…

Karena dua hal itulah yang saat ini Karafuru San rasakan ketika menunggu kelahiran bayi ini…

Ya, saat ini Karafuru San sedang memelihara sebuah telur yang Karafuru San temukan (katanya sih naga, tapi nggak tau bentuknya kayak apa)… Mau temani saat-saat telur ini menetas? Atau mau merasakan apa yang Karafuru San rasakan saat ini?
Dragonadopters
(NB : Walaupun ia belum lahir n masih belum tau jenis kelaminnya, Karafuru San sudah mempersiapkan nama : KarafuruDragon… 🙂 )

Target Tercapai Lebih Cepat

basmallah

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Alhamdulillah, tulisan sebelumnya (13 Sifat Laki-Laki yang Nggak disukai perempuan) menjadi tulisan ke-55. Padahal (kalo Sahabat Karafuru baca postingan pertama) 55 tulisan itu adalah target Karafuru San yang tadinya ingin dicapai dalam waktu setahun. Eh, ternyata malah tercapai lebih cepat (6 bulan kurang 8 hari)…

Kenapa bisa gitu?

Alasannya, selain keinginan yang kuat adalah apa yang Karafuru San inginkan TERTULIS. Seandainya target itu nggak ditulis, bukan nggak mungkin targetnya gagal tercapai…

Mau tau keajaiban dibalik menuliskan impian-impian kita? Sabar, ya… Karafuru San lagi ‘bersemedi’ dulu…

(Ceritanya nyari impian sebanyak mungkin setelah beberapa hari yang lalu dapat video dari sahabat di Jepang yang berhasil mencapai 146 impiannya setelah ia MENULIS semua impian itu…)

Tunggu, ya… Insya Allah…

Wassalamu’alaykum Wr. Wb…

padang bunga

Keajaiban, Bencana, dan Air Mata

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Tadi malam, sesaat sebelum Adzan Isya, peluit wasit Jimmy Napitupulu memulai pertandingan sepakbola Indonesia Super League antara Persib vs Persela. Dari situlah, keajaiban, bencana, dan air mata muncul secara bergantian dalam balutan kata demi kata dari catatan sang petualang, Karafuru San…

Keajaiban

Sensasional!!! Baru pertama kalinya dalam sejarah persepakbolaan dunia (katanya) baru empat menit babak pertama berjalan, sudah tercipta EMPAT GOL!! Walaupun nggak gila-gila amat sama sepakbola (dan sedang berusaha untuk menghilang dari dunia itu), empat gol yang tercipta membuat terbengang-bengong. Demi mencegah mulut yang terbuka karena takjub, TV langsung dimatikan karena adzan Isya telah berakhir…

Bencana

Matinya TV itu adalah pertanda dimulainya bencana yang menghadang. Karena tiba di Mesjid tepat saat iqamah, hapuslah kesempatan untuk mendapat tempat di shaf pertama. Alhamdulillah walaupun shaf kedua sudah terisi, ternyata masih ada tempat kosong (biasanya memang sering kosong) di shaf pertama, tapi ukurannya hanya duapertiga dari ukuran tempat shalat yang biasanya. Karena teringat dengan lebih besarnya pahala yang didapat jika shalat di shaf pertama, akhirnya shalat di situ.

Bencana itu dimulai saat hati tak sesuai dengan lisan. Dalam desah nafas penghambaan itu, pikiran malah melayang ke sebuah pertanyaan yang sama sekali tak berdasar, “Kira-kira, ada berapa gol lagi, ya?”

Segera setelah itu, seolah sebagai jawaban atas kepincangan hati, seorang anak perempuan tiba tiba muncul dari belakang dan diam di tempat sujudku dalam beberapa saat sebelum kembali…

Pertanyaan dalam hati berubah setelah takut pahala shalat akan menjadi setengahnya, “Kenapa hal ini terjadi?”

Air Mata

Dalam pusaran pertanyaan, masih tersadar dalam mata akan rakaat terakhir yang telah dimulai. Dalam dekapan tangan di dada itu, terdengar suara isak. Rupanya orang yang tepat berada di sampingku menangis dalam shalatnya. Aku terenyuk, remuk. Entah sudah berapa lama mata ini kering dari penghambaan…

Saat salam berakhir, aku tersadar, entah berapa lama aku beribadah dalam kata, tanpa hati…

Penglihatanku mulai kabur, tergugah akan begitu banyaknya ibadah yang hampa, tanpa makna. Ayat-ayat seakan hanya adat yang terucap, bukan doa. Dengan tunduk yang dalam, kaburnya penglihatan ini seolah berkata, Alhamdulillah, Ya Rabb… Kesempatan ini masih Engkau berikan untukku… Dalam remuknya batinku, aku masih bisa merasakan udara kehidupan dari-Mu…

Semoga kita bisa lebih mendekatkan diri lagi pada Dzat Yang Maha Pencipta yang telah menciptakan kita dalam kejaiban dunia yang jauh lebih kecil daripada keajaiban-keajaiban di akhirat nanti. Semoga tak ada bencana yang membinasakan kita, melainkan air mata penyesalan dan air mata syukur dari dalam sanubari…

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.