Keajaiban, Bencana, dan Air Mata

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Tadi malam, sesaat sebelum Adzan Isya, peluit wasit Jimmy Napitupulu memulai pertandingan sepakbola Indonesia Super League antara Persib vs Persela. Dari situlah, keajaiban, bencana, dan air mata muncul secara bergantian dalam balutan kata demi kata dari catatan sang petualang, Karafuru San…

Keajaiban

Sensasional!!! Baru pertama kalinya dalam sejarah persepakbolaan dunia (katanya) baru empat menit babak pertama berjalan, sudah tercipta EMPAT GOL!! Walaupun nggak gila-gila amat sama sepakbola (dan sedang berusaha untuk menghilang dari dunia itu), empat gol yang tercipta membuat terbengang-bengong. Demi mencegah mulut yang terbuka karena takjub, TV langsung dimatikan karena adzan Isya telah berakhir…

Bencana

Matinya TV itu adalah pertanda dimulainya bencana yang menghadang. Karena tiba di Mesjid tepat saat iqamah, hapuslah kesempatan untuk mendapat tempat di shaf pertama. Alhamdulillah walaupun shaf kedua sudah terisi, ternyata masih ada tempat kosong (biasanya memang sering kosong) di shaf pertama, tapi ukurannya hanya duapertiga dari ukuran tempat shalat yang biasanya. Karena teringat dengan lebih besarnya pahala yang didapat jika shalat di shaf pertama, akhirnya shalat di situ.

Bencana itu dimulai saat hati tak sesuai dengan lisan. Dalam desah nafas penghambaan itu, pikiran malah melayang ke sebuah pertanyaan yang sama sekali tak berdasar, “Kira-kira, ada berapa gol lagi, ya?”

Segera setelah itu, seolah sebagai jawaban atas kepincangan hati, seorang anak perempuan tiba tiba muncul dari belakang dan diam di tempat sujudku dalam beberapa saat sebelum kembali…

Pertanyaan dalam hati berubah setelah takut pahala shalat akan menjadi setengahnya, “Kenapa hal ini terjadi?”

Air Mata

Dalam pusaran pertanyaan, masih tersadar dalam mata akan rakaat terakhir yang telah dimulai. Dalam dekapan tangan di dada itu, terdengar suara isak. Rupanya orang yang tepat berada di sampingku menangis dalam shalatnya. Aku terenyuk, remuk. Entah sudah berapa lama mata ini kering dari penghambaan…

Saat salam berakhir, aku tersadar, entah berapa lama aku beribadah dalam kata, tanpa hati…

Penglihatanku mulai kabur, tergugah akan begitu banyaknya ibadah yang hampa, tanpa makna. Ayat-ayat seakan hanya adat yang terucap, bukan doa. Dengan tunduk yang dalam, kaburnya penglihatan ini seolah berkata, Alhamdulillah, Ya Rabb… Kesempatan ini masih Engkau berikan untukku… Dalam remuknya batinku, aku masih bisa merasakan udara kehidupan dari-Mu…

Semoga kita bisa lebih mendekatkan diri lagi pada Dzat Yang Maha Pencipta yang telah menciptakan kita dalam kejaiban dunia yang jauh lebih kecil daripada keajaiban-keajaiban di akhirat nanti. Semoga tak ada bencana yang membinasakan kita, melainkan air mata penyesalan dan air mata syukur dari dalam sanubari…

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

4 responses to “Keajaiban, Bencana, dan Air Mata

  1. saya jadi teringat perkataan rasul saw.(kalo ga salah,coba koreksi) “Al-Quran adalah kitab yang sedih maka bacalah sambil mengangis. Bila tak bisa menangis maka tangisilah dirimu yang tak bisa menangis” Untuk menangis seperti ini perlu hati yang bersih dan pemahaman arti Al-Quran.ini bisa menjadi motivasi selain menghapal ayat Al-Quran juga memahami artinya.menangis dalam hal ini adalah ibadah,kalo ga salah(koreksi kalo salah ya).sy juga sudah berapa lama ya,hatiku menjadi tertutup……

    >> Makasih Kang Sayyid, sudah mengingatkan…
    Kehidupan ini, selain diisi dengan tawa dan senyum, memang perlu dihiasi dengan tangis…
    Karena di situlah manusia berada di titik yang bisa membuatnya merasa sangat kecil…

  2. Hmm..manusia memang seorang yang penuh dengan curiosity…pengen tahu terus menerus, sampai dibawa dalam hati…:)

    >> Ya… Itulah manusia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s