Pejuang yang Teradang Kuda dan Pedang

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Terbangun oleh bau alam dalam dipan, mencoba bangkit lalu duduk. Seseorang, yang sebut namanya sebagai pejuang, menatap asa yang jauh di hadapannya. Tak sedikitpun terngiang bisikan-bisikan hujan yang baru turun di atas pematang atau desiran angin yang melambaikan rayuan. Dendamnya yang penuh kemuakan mematri dalam luka-luka di sekujur tubuhnya.

Ia mulai melangkah menuju kotak kayu. Tempat pedangnya tersimpan, tempat derajatnya dijunjung. Dibukanya kotak kayu itu, lalu diambilnya sahabat yang tak berkerabat.

Pedang itu membisu, tahu untuk apa ia di situ. Tahu seperti apa ia di situ. Warna buram dan kusam membuatnya tak enak dipandang. Hanya bau darah yang membuatnya jantan sebagai pengecualian. Di sana-sini sedikit terlapisi korosi, namun masih bisa menebas lepas kepala-kepala targetnya. Ia rela ditempa demi kata victory.

Srek. Srek. Srek. Alunan pejuang menghamba sebuah ketajaman. Iramanya membelakangi gubuk reyot miliknya yang hampir rubuh. Gubuk reyot itu membelakangi padang rumput dan pematang. Padang rumput dan pematang itu membelakangi gunung yang menjulang. Gunung itu membelakangi bumi. Bumi itu membelakangi sang pejuang, yang mengalun menghamba sebuah ketajaman.

Ia bergerak maju sesaat setelah yakin dengan pedangnya. Dihirupnya udara penuh uap embun, dengan mata terpejam. Diingat kembali tujuan yang akan ia inginkan. Hanya satu, membangunkan kembali sang naga nun jauh di ujung sana, yang masih tertidur pulas selama lima belas abad.

Dalam lima langkah, seseorang dengan pedang bertahtakan darah yang amat menyengat muncul. Ia ingin kembali menantang sang pejuang. Tak seperti biasa, kali ini ia hanya menuntun, bukan menaiki kuda putihnya. Pakaian zirahnya yang keemasan tampak bercahaya menggambarkan kebesaran. Tamengnya berhiaskan gerigi-gerigi, siap tuk melukai siapapun yang menyentuhnya.

Sementara sang pejuang hanya menatap tajam. Tak mungkin ia membanggakan baju rombengnya, melainkan hanya dengan sebuah pedang. Ia menghela nafas setelah menatap mata lawannya dan berharap dalam hati, Semoga kali ini aku bisa melewatinya…

Hanya dalam hitungan detik, sang lawan berlari ke arah sang pejuang dengan mengacungkan pedang!! Dengan sedikit elakan, serangan itu menjadi kesiaan. Belum jua mempersiapkan serangan balasan, muka sang pejuang terhantam tameng sang lawan!!! Saat itu ia melihat lawannya tersenyum mengejek. Darah mulai menetes dari dahi, namun semangat masih menyala dalam dada. Ia mengatur nafasnya, lalu mencoba menyerang. Hentakan pedang yang beradu dengan pedang, tarian pedang yang berduet dengan tameng, dan irama darah yang menetes mewarnai pertarungan itu!

Saat pertarungan mencapai puncaknya, pedang sang pejuang berhasil menjauhkan tameng sang lawan!!! Namun kekuatan lawannya tak berkurang sedikitpun. Malah beberapa kali kembali melukai sang pejuang.

Dengan semangat yang semakin terkikis, akhirnya sang pejuang berhasil menjadikan lawannya tanpa senjata! Namun saat hendak melumpuhkan, ringkikan kuda putih membuat langkahnya terhenti… Kembali terbayang di pikirannya akan seekor kuda yang selama ini ia dambakan. Dalam perjalanan jauh yang akan kuhadapi ini, aku membutuhkan kuda itu… Aku tak ingin membuang waktuku berjalan sendiri untuk membebaskan sang naga…

Pandangannya teralihkan menatap kuda putih milik lawannya. Kuda putih itu amat memesona dengan bulu putihnya, jumawa dengan posisi berdirinya, dan gagah dengan ringkikan merdunya. Dalam balutan harapan kosong, sang pejuang dimabukkan. Dan seketika, sebuah kepalan berhasil melunakkan cengkeraman tangan sang pejuang hingga terlepas pedangnya dan berpindah ke lawannya!!! Dengan tersenyum puas, sang lawan tanpa ragu lagi menyatukan pedang itu dengan perut tuannya hingga tersungkur. Dan pedang itu kembali berhiaskan darah yang sama seperti sebelum-sebelumnya, darah sang pejuang…

Di tengah tawa lawannya, sang pejuang menatap awan yang saling berkejaran. Dengan rasa sakit ia berkata dalam hatinya, Lagi-lagi… Lagi-lagi aku gagal melewatinya akibat kuda itu… Sudah berulangkali aku sadar akan bahayanya, tapi berkali-kali pula aku terbuai dengannya…

Nafasnya sudah tak teratur saat ia seolah melihat Tuannya dalam bayangnya… Maafkan aku, Tuan… Aku belum bisa membangunkan nagamu… Sepertinya aku bukan pejuang terbaikmu… Maaf…

Matanya hampir tertutup saat terbayang di alam bawah sadarnya, esok hari sahabatnya, sang pedang, akan berada dalam kotak kayu. Sementara ia akan terbangun oleh bau alam dalam dipan, kembali memulai dari gubuk reyotnya. Ia akan kembali menghamba ketajaman sang pedang, berusaha membangunkan naga untuk menyenangkan Tuannya. Semua itu kembali bermula… dari tempat pemberangkatan yang tak berbeda…

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

One response to “Pejuang yang Teradang Kuda dan Pedang

  1. Wah, Raf, menceritakan dirimu sendiri ya? Seorang yang hidup, kemudian mati, kemudian hidup, kemudian mati lagi, dengan penyesalan yang sama…hmm, setiap orang memang rasanya melakukan kesalahan yang sama berkali-kali, seperti aku ini, hehe…penggambaranmu dalam cerita ini bagus raf, ditunggu lagi cerita “penggambaranmu”…

    >> Wah… Wah… Kata sapa menceritakan diriku? Pokonya, ditunggu aja perjuangan si pejuang ini dalam kisah-kisah selanjutnya, ok! Insya Allah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s