Lihat Lebih Dekat (2)

(sambungan dari Lihat Lebih Dekat (1))

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Saatnya bait kedua…

Bila kau dapat mengerti

Sahabat adalah setia dalam suka dan duka

Kau kan dapat berbagi rasa untuknya…

Begitulah seharusnya jalani kehidupan

Setia… Setia… Dan tanpa terpaksa

Manusia adalah makhluk sosial yang nggak bisa hidup kalau kesendirian. Belum setuju? Coba lihat benda-benda yang ada di sekitar kita. Apa semua benda itu bikinan kita sendiri? Sebuah meja yang ada di kamar mungkin terlihat gampang dibuat sendiri. Tantangannya cuma mau atau nggaknya kita menggergaji sebuah pohon, mengolahnya menjadi gelondongan kayu, lalu memotongnya menjadi bagian-bagian yang siap dijadikan meja. Ingat, lho! Semua itu belum selesai, kita masih harus bikin sebuah mur dan baut, lem, olahan cat, dll. Butuh contoh lagi? Hm… Satu lagi, aja, ya. Pernah nggak, kita berpikir gimana caranya bikin nasi goreng? Kayaknya simple, ya? Padahal untuk bisa membuat nasi saja butuh kerja yang luar biasa (mulai dari pengolahan tanah, penanaman bibit padi, pemupukan, hingga proses panen), apalagi untuk menghasilkan kecap, kerupuk, ayam, bawang, dan tetek bengek lainnya sebelum diolah. Bisa saja bikin semua itu sendirian. Tapi pertanyaannya… Mau?

Beruntunglah karena di dunia ini masih ada para ahli pembuat kayu olahan, pembuat mur, pembuat cat, petani, peternak, dan sebagainya.

Ada satu alasan penting lainnya kenapa kita dikatakan sebagai makhluk sosial : komunikasi. Kita lahir ke dunia ini dengan berbagai macam emosi. Pada dasarnya kita mengharapkan asa, merasakan bahagia, bahkan membutuhkan cinta. Perasaan-perasaan tersebut nggak mungkin dirasakan atau ditunjukkan tanpa adanya satu komunikasi. Sementara itu, komunikasi nggak mungkin terjadi dalam satu individu (kecuali kalau ngomong sendiri). So, kita membutuhkan minimal satu orang lagi untuk dapat berbagi dan saling mengerti, karena kita adalah makhluk sosial.

Kadang nggak semua yang kita rasakan mau kita bagikan pada orang lain. Saat itulah kita butuh seorang (atau lebih, tergantung kondisi) yang benar-benar nyaman. Orang ini yang biasa kita namakan sahabat.

Sahabat terbagi menjadi beberapa:

a. Sahabat biasa/teman

Sahabat biasa adalah sahabat yang baru bisa memahami apa yang kita rasakan. Biasanya dia masih cenderung enggan berbagi atau menceritakan dirinya. Sedangkan saat sahabatnya ingin menceritakan sebuah rahasia padanya, kadang sahabat tipe ini (pada kasus tertentu) susah untuk merahasiakan hal itu.

b. Sahabat dekat

Tipe sahabat dekat adalah sahabat yang sudah mau menceritakan sebagian kisah hidupnya. Bahkan beberapa jenis sahabat tipe ini biasanya sudah memiliki rasa sayang terhadap sahabatnya. Jadi, kalau ada rahasia yang ingin disimpan, minimal sahabat tipe ini cocok buat diajak curhat.

c. Sahabat spesial

Sahabat tipe ini adalah sahabat yang bisa mencintai juga mau dan mampu untuk melindungi saat sahabatnya berada dalam posisi yang kurang mengenakkan. Saat sahabatnya membutuhkan bantuannya, biasanya seorang sahabat spesial berusaha untuk memberikan bantuannya jika ia memang bisa membantu.

d. Sahabat setia/sahabat sejati/sahabat terbaik

Inilah tingkatan seorang sahabat yang paling tinggi. Saat kita mau bercerita tentang sebuah rahasia yang super rahasia, seorang sahabat setia akan merahasiakannya. Seorang yang bertipe ini nggak mau mengecewakan sahabatnya. Ia berusaha untuk memberikan bantuannya walaupun dalam keadaan yang hampir tak mungkin. Ssst… dalam beberapa kasus, tipe sahabat setia justru lebih mengenal diri sahabatnya dibanding si sahabatnya itu sendiri , lho!

Ada sebuah kalimat yang bisa membuat kita bertanya, “Sebetulnya siapa, sih, sahabat-sahabat kita saat ini?”. Kalimat itu berbunyi, Saat ingin mengetahui seseorang, lihatlah bagaimana sahabat-sahabatnya.

Ya, Sahabat terbaik (seperti dalam lirik Lihat Lebih Dekat) adalah sahabat yang mampu setia dalam suka dan duka. Dalam kehidupan ini, kita sebetulnya dituntut untuk punya minimal seorang sabahat terbaik (sahabat setia). Saat kita nggak mampu mengenal siapa diri kita sebenarnya, seorang sahabat setia kan membantu untuk itu. Dia akan mengingatkan saat kita nggak berada pada jalur yang benar, juga mendengar dan memberi saran terbaik saat kita lagi menghadapi masalah.

Hanya ada satu cara untuk mendapatkan sahabat setia. Kitalah yang harus memulainya untuk menjadi sahabat setia bagi sahabat-sahabat kita saat ini. Saat kita menjadi sahabat setia bagi mereka, saat itulah mereka akan berkata dalam hatinya bahwa kita adalah sahabat terbaiknya.

Semoga kita dikaruniai sahabat-sahabat setia yang mau dan mampu mengingatkan kita dalam kebenaran dan kesabaran mengarungi kehidupan dunia ini… Dengan setia… dan tanpa terpaksa…

Wassalamu’alaykum Wr. Wb.

(bersambung ke Lihat Lebih Dekat (III))

2 responses to “Lihat Lebih Dekat (2)

  1. Wah2x, fansnya sherina nih.. Hehe.. Asik nih ya, sering banget nulis..

    >> Fan Sherina? Hm… Kayaknya masih banyak yang lebih ngefan, deh…

    Lumayan, bos! Buat jaga-jaga… Takutnya begitu kuliah masuk ntar waktunya nggak bisa dua hari sekali kayak gini. Paling nggak, semangat nulisnya bisa kejaga…

  2. bagi saya sahabat adalah orang yang bahagia bila melihat sahabatnya bahagia,,walaupun itu sangat menyakitkan

    >> Wah… Seandainya aku bisa menjadi seorang sahabat seperti yang Kang Radikna katakan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s